PONTIANAK POST - Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat terus menjadi sorotan setelah video jalannya lomba viral di media sosial.
Rekaman perdebatan antara peserta dan dewan juri memicu kritik tajam dari publik hingga pejabat daerah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, mengaku telah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak dan tim pendamping LCC 4 Pilar tingkat Kalbar untuk membahas persoalan tersebut.
“Tadi saya sudah memanggil Kepsek SMAN 1 dan tim pendamping. Kita selesaikan sesuai ketentuan lomba dan harusnya bisa menunjukkan sikap kesatria terhadap lomba ini,” ujar Faisal saat dikonfirmasi Pontianak Post.
Meski demikian, Faisal meminta pihak sekolah mengajukan permohonan resmi kepada penyelenggara lomba untuk melakukan peninjauan kembali hasil perlombaan.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut diselenggarakan langsung oleh MPR RI, bukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Menurut Faisal, pada prinsipnya SMAN 1 Pontianak telah menerima hasil lomba. Namun, menuntut koreksi kedepannya untuk perbaikan di kemudian hari.
Faisal juga mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, speaker yang mengarah ke juri mengalami gangguan sehingga jawaban peserta terdengar kurang jelas. Sementara itu, suara pada siaran langsung YouTube justru terdengar jelas.
Baca Juga: Viral LCC 4 Pilar Kalbar Diprotes, Keputusan Juri Tuai Kritik Netizen
“Begitu pula suara ke audiens penonton, terdengar jelas,” tukasnya.
Polemik bermula dari salah satu soal terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dalam video yang beredar, salah satu regu peserta menjawab bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan mempertimbangkan DPD dan diresmikan oleh Presiden.
Jawaban tersebut dinilai sudah mengarah benar. Namun, dewan juri justru memberikan nilai minus 5 kepada Grup C. Keputusan itu langsung memicu kebingungan peserta.
Baca Juga: Sekda Kalbar Angkat Bicara Soal Penilaian Juri LCC 4 Pilar, Minta Ada Rasa Keadilan untuk Peserta
Panitia sempat mengulang soal. Bahkan, terdengar pengakuan bahwa inti jawaban sebenarnya sudah benar dan bernilai 10. Meski begitu, polemik terus berlanjut.
Ketegangan meningkat ketika peserta mencoba mengklarifikasi jawaban mereka. Salah satu peserta menegaskan bahwa unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) telah disebutkan dalam jawaban.
Namun, juri memiliki pandangan berbeda dan menilai unsur tersebut tidak terdengar jelas. Perbedaan persepsi inilah yang kemudian menjadi titik utama kontroversi.
Di tengah perdebatan, dewan juri tetap mempertahankan keputusan penilaian. Juri menegaskan bahwa faktor artikulasi menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penilaian.
Baca Juga: Marsya Nur, Skuad SMAN 1 Pontianak di DBL yang Punya Prestasi di Dua Cabang Olahraga
Menurut juri, meskipun peserta merasa sudah menjawab dengan benar, jawaban yang tidak terdengar jelas tetap dianggap tidak memenuhi kriteria penilaian.
Viralnya video tersebut di media sosial, termasuk melalui unggahan Pontianak Post, memicu gelombang komentar dari netizen.
Salah satu komentar yang banyak disorot datang dari akun @alfath_musliim.
“Acara cerdas cermat, tapi jurinya ndak cerdas sama ndak cermat,” tulisnya.
Netizen lain, @uti.fahrul24, juga ikut berkomentar.
"Artikulasi siswanya jelas, bukti video ada." tulis dia.
Baca Juga: Walikota Cup 2025: SD Kristen Maranatha, SMP Bina Mulia, dan SMAN 1 Pontianak Raih Juara Tiga
Tak hanya netizen, sejumlah pejabat turut memberikan tanggapan. Anggota DPR RI periode 2014–2019, Erma Suryani Ranik, menilai keputusan juri keliru.
"Dewan jurinya SALAH. Saya kagum dengan adik ini yg protes ini. Gurunya dan sekolahnya harus dampingi protes ini. Jurinya bikin malu. Die ndak konsen lalu minta dianggap benar." tulis dia.
Kepala BKSDM Kalbar, Windy Prihastari, yang juga Ikasmansa, turut mempertanyakan keputusan penilaian juri.
"Setelah menonton rekaman ini, apakah masih menilai Jawaban Adek adek Smansa Pontianak tetap salah?" tulis dia.(*)
Editor : Chairunnisya