Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ria Norsan Ajak IKAMA Kalbar Perkuat Persatuan dan Keharmonisan Antar Etnis

Novantar Ramses Negara • Selasa, 12 Mei 2026 | 11:04 WIB
Gubernur Kalbar Ria Norsan dan Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan sama-sama hadir di Halalbihalal sekaligus Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) Kalbar.
Gubernur Kalbar Ria Norsan dan Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan sama-sama hadir di Halalbihalal sekaligus Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) Kalbar.

PONTIANAK POST – Gubernur, Ria Norsan, menghadiri halalbihalal sekaligus Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) Kalbar di Pendopo Gubernur Kalbar, Minggu (10/5).

Ria Norsan menekankan pentingnya menjaga persatuan dan keharmonisan di tengah keberagaman etnis yang hidup berdampingan di Kalbar. Pada kesempatan itu, ia juga sempat berkelakar mengenai hubungannya dengan Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan. Menurutnya, perbedaan karakter justru menjadi kekuatan dalam memimpin daerah.

“Kalau saya ini pembawaannya tidak begitu kalem, beliau sedikit tegas sehingga kami berdua ini cocok. Kalau ada apa-apa, saya diam, Bapak maju dulu sebagai pengumpan peluru,” ujar Ria Norsan disambut tawa hadirin.

Ia menjelaskan, Kalbar saat ini dihuni sekitar 24 etnis yang hidup berdampingan. Kehadiran berbagai paguyuban, termasuk IKAMA, diharapkan dapat memperkuat struktur sosial masyarakat serta menjaga keharmonisan antarsuku.

Baca Juga: Kalbar Didorong Miliki Perda Kekayaan Intelektual, Lindungi Produk dan Budaya Lokal

Menurutnya, Kalbar merupakan “rumah besar” yang harus dijaga bersama oleh seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang etnis.

“Saya tekankan bahwa siapa pun yang tinggal di Kalbar wajib menjaga kondusivitas agar tetap harmonis. Tidak ada suku yang merasa lebih hebat atau lebih tinggi dari yang lain. Persatuan adalah kunci agar masyarakat tidak mudah diadu domba atau dipengaruhi politik yang memecah belah,” tegasnya.

Ria Norsan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.

“Kalau ada masalah yang besar, mari kita kecilkan. Kalau ada masalah yang kecil, mari kita selesaikan dengan musyawarah dan mufakat, duduk bersama,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, menyampaikan bahwa Kalbar merupakan miniatur Indonesia karena dihuni oleh hampir seluruh suku bangsa.

Baca Juga: LPTQ Kalbar Gelar Tryout Penentuan, Peserta Gagal Capai Standar Terancam Dicoret

Ia menegaskan komitmennya bersama gubernur untuk menjadi perekat dan penyejuk bagi seluruh masyarakat Kalbar.

“Perbedaan itu indah. Seperti taman yang ditanami berbagai jenis bunga warna-warni, tentu lebih indah dibanding hanya satu warna saja,” ujarnya.

Selain menyoroti pentingnya persatuan, Krisantus juga mengingatkan masyarakat agar bijak dalam menyerap informasi di era digital guna menghindari hoaks dan provokasi.

“Saya mengingatkan bahwa pada hakikatnya seluruh manusia diciptakan oleh Tuhan yang satu dan berasal dari keturunan yang sama,” katanya.

Krisantus juga menyampaikan pesan khusus kepada warga Madura di Kalbar yang jumlahnya diperkirakan mencapai 350 ribu hingga 390 ribu jiwa.

“Orang Madura yang hidup di Kalbar adalah warga Madura Kalbar, bukan lagi sekadar warga Pulau Madura. Karena itu, mari tumbuhkan rasa memiliki terhadap Kalbar. Dengan rasa memiliki tersebut, masyarakat Madura diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut menjadi pelaku utama dalam memajukan daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua IKAMA Kalbar, Sunandar, menegaskan pesan penting kepada seluruh anggota, khususnya generasi muda Madura, agar tidak menggunakan celurit dalam aktivitas sehari-hari.

Ia menegaskan bahwa celurit harus diposisikan sebagai simbol budaya dan senjata adat, bukan untuk menunjukkan gengsi atau intimidasi.

“Mulai hari ini, saya minta dan saya larang kalian membawa celurit yang terselip di pinggang saat berjalan atau bersosialisasi. Kita tidak ingin menciptakan stereotip negatif seolah-olah orang Madura sedang mencari lawan,” tegasnya.

Sebagai simbol komitmen perdamaian dan kebersamaan lintas etnis, IKAMA menyerahkan celurit tersebut kepada Krisantus Kurniawan selaku tokoh adat Dayak.

Dalam kesempatan itu, Sunandar juga melaporkan perkembangan jumlah anggota IKAMA yang kini mencapai hampir 60 ribu orang dan tersebar di seluruh Kalimantan Barat hingga tingkat desa.

“Dengan kepengurusan baru ini, IKAMA berharap dapat terus mendapatkan bimbingan dari pemerintah dan organisasi kemasyarakatan lainnya agar warga Madura dapat terus berkontribusi positif bagi pembangunan di Kalbar,” tutupnya. (mse)

Editor : Hanif
#IKAMA Kalbar #ria norsan #persatuan #Lintas Etnis #kondusivitas