PONTIANAK POST - Memilih taman penitipan anak atau daycare tidak bisa dilakukan sembarangan.
Selain menjadi tempat anak beraktivitas selama orang tua bekerja, daycare juga berperan penting dalam membentuk perkembangan emosi, sosial, hingga kesehatan fisik dan psikis anak.
Psikolog Yulia Ekawati Tasbita mengingatkan orang tua agar selektif memilih daycare.
Menurutnya, daycare bukan sekadar tempat menitipkan anak, melainkan ruang pengasuhan yang ikut memengaruhi tumbuh kembang anak.
Dampak Daycare Tak Layak
Daycare yang tidak layak, kata Yulia, dapat menimbulkan dampak buruk jangka pendek maupun panjang.
“Dampak gangguan sosial emosional, anak merasa tidak aman dan nyaman, keterlambatan perkembangan, risiko kekerasan dan pengabaian,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, lingkungan yang membentuk anak akan memengaruhi perkembangan otak dan emosinya.
Kondisi tersebut nantinya berdampak pada perkembangan kognitif, sosial, dan afeksi anak di masa mendatang.
Anak yang mengalami tekanan di daycare biasanya menunjukkan perubahan perilaku. Mereka merasa takut dan cemas saat akan pergi ke daycare, menangis berlebihan ketika ditinggal, hingga menjadi lebih pendiam dan murung.
"Anak jadi pendiam, murung. Sering tantrum, mudah marah dan agresif," katanya.
Orang Tua Harus Peka
Menurut Yulia, anak yang sudah bisa berbicara umumnya akan lebih sering mengatakan takut.
Anak juga kehilangan minat bermain, terlihat sangat melekat kepada orang tua, serta mudah waspada dan kaget.
Orang tua diminta peka terhadap perubahan emosional dan sosial anak. Misalnya, gangguan tidur seperti mimpi buruk, gelisah, dan sulit tidur.
Anak juga dapat mengalami gangguan makan berupa hilang nafsu makan, mual, muntah, hingga berat badan turun drastis.
Selain itu, anak kerap mengeluh sakit pada bagian tubuh tertentu tanpa penyebab jelas, muncul luka atau memar yang tidak diketahui asalnya, hingga mengalami regresi perkembangan seperti kembali mengompol.
"Kelelahan berlebihan, berperilaku agresif dan kasar karena meniru, minder jadi kurang percaya diri, jadi takut bertemu orang," katanya mengingatkan.
Indikator Daycare Sehat
Yulia menuturkan, ada sejumlah indikator daycare yang sehat. Tidak hanya memperhatikan kebersihan, tetapi juga memenuhi hak-hak anak dan mendukung tumbuh kembang mereka. 3
Yang paling penting, tidak ada unsur kekerasan fisik, verbal, maupun psikis.
"Daycare bukan hanya sekedar tempat penitipan tapi ada pengasuhan dan pendidikan disana. Artinya, ketika orang tua menitipkan anaknya di daycare, bukan hanya menitipkan saja tetapi mendapatkan pengasuhan yang tepat sesuai tumbuh kembang anak," paparnya.
Baca Juga: Rekaman CCTV Viral, Dugaan Kekerasan Bayi Dipukul dan Diseret di Daycare BPD Terbongkar
Perhatikan Rasio Anak dan Pengasuh
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah rasio jumlah pengasuh dengan jumlah anak. Menurut Yulia, semakin kecil usia anak maka kebutuhan pengasuh juga semakin besar.
"Rasio jumlah pengasuh tergantung usia anak. Jika usianya semakin kecil atau bayi sekitar satu banding tiga.
emakin besar anak, misalnya usia toodler maka satu banding lima. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di daycare agar anak mendapatkan pelayanan yang tepat," katanya.
Orang tua juga perlu mengetahui apakah pengasuh sering berganti atau tidak, jumlah pengasuh di ruangan, serta siapa saja staf yang bekerja di lembaga tersebut.
Selain itu, penting memperhatikan respons anak-anak di daycare dan jenis stimulasi yang diberikan.
"Stimulasi dan aktivitas yang diberikan seperti apa. Transparansi daycare terhadap info yang dibutuhkan orang tua. Termasuk cara mendisiplinkan anak. Feeling orang tua juga perlu dipertimbangkan dalam memilih daycare yang tepat," ungkapnya. (mrd)
Editor : Chairunnisya