PONTIANAK POST – Polda Kalbar memastikan penanganan kasus dugaan pencabulan anak di bawah umur yang menyeret oknum pimpinan salah satu perguruan silat berinisial W masih dalam tahap penyelidikan.
Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Kalbar, Kombes Pol Bambang Suharyono mengatakan, laporan terkait kasus tersebut telah diterima, dan saat ini tengah ditindaklanjuti oleh penyidik Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA-PPO).
“Informasi dari Dir PPA dan PPO perkara dalam proses penyelidikan,” kata Bambang kepada Pontianak Post, Selasa (19/5).
Bambang menegaskan, pihak kepolisian akan menangani perkara tersebut secara profesional sesuai prosedur hukum yang berlaku.
“Kami pastikan penanganan dilakukan sesuai aturan. Perkembangannya akan kami sampaikan lebih lanjut,” tegasnya.
Seperti diketahui, kasus dugaan asusila ini mencuat setelah dua korban yang masih berstatus pelajar, masing-masing berinisial A dan L, mulai berani menceritakan pengalaman yang mereka alami. Dugaan tindakan tidak senonoh tersebut disebut telah berlangsung sejak korban masih duduk di bangku SMP, sekitar akhir tahun 2024.
Awalnya, korban tidak menaruh curiga terhadap perilaku terduga pelaku yang merupakan sosok pimpinan di lingkungan perguruan silat tempat mereka berlatih.
Namun, seiring waktu, tindakan tersebut diduga berulang, dan mengarah pada pelecehan fisik di beberapa lokasi, termasuk area latihan hingga tempat lain yang sepi.
Korban lainnya berinisial L juga diduga mengalami perlakuan serupa. Setelah keduanya saling berbagi cerita, mereka mulai menyadari adanya kejanggalan atas perlakuan yang diterima. Dari situlah muncul keberanian untuk mengungkap dugaan kasus tersebut kepada keluarga.
Baca Juga: Judi Online dan Pinjol Ilegal Kian Meresahkan, BPM Kalbar Ajak Anak Muda Fokus Bangun Masa Depan
Keluarga kemudian mendorong korban untuk mengumpulkan bukti, termasuk rekaman yang sempat dibuat saat kejadian. Berdasarkan hal itu, laporan resmi akhirnya diajukan ke Polda Kalbar pada 13 Mei 2026.
Dampak psikologis juga dirasakan korban. Keluarga menyebut korban mengalami trauma dan perubahan perilaku, meski tetap berusaha menjalani aktivitas sekolah seperti biasa.
Kasus ini kini menjadi perhatian karena melibatkan anak di bawah umur serta figur yang memiliki posisi di lingkungan latihan korban.(bar)
Editor : Hanif