Dari kebun sayur hingga hutan kecil seluas 1,5 hektar, Kampung Gambut di Pontianak membuktikan adaptasi iklim bukan sekadar slogan. Gerakan warga berbuah penghargaan nasional dan kunjungan ribuan pelajar.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
PAGI itu, wajah-wajah sumringah perwakilan lima kampung di Kota Pontianak memenuhi aula penyerahan penghargaan. Di antara mereka, nama RW 33 Kampung Gambut, Kelurahan Siantan Hilir, disebut sebagai penerima Proklim Utama Trophy 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup. Sebuah capaian yang tak lahir dalam semalam.
Lima kawasan di Pontianak diganjar penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) 2025. Selain Kampung Gambut, RW 27 Kampung Tangguh Penggerak Kesadaran Lingkungan Kelurahan Siantan Hulu dan RW 15 Kampung Tenun Kelurahan Batulayang meraih kategori Utama. Sementara RW 21 Kelurahan Sungaijawi Dalam serta RW 10 Kelurahan Pal Lima memperoleh kategori Madya.
Namun bagi warga Kampung Gambut, piala itu lebih dari sekadar simbol. Ia adalah pengakuan atas kerja kolektif yang dirintis sejak 2020, saat warga merasa kampung mereka tertinggal dibanding kawasan lain.
Baca Juga: Hadiri Pekan Gawai Dayak, Ria Norsan Ajak Warga Kalbar Jaga Keharmonisan dan Persatuan
“Kami mulai mengumpulkan rekan-rekan untuk bergabung sejak tahun 2020, dan terbentuk SK-nya pada 2022,” ujar Ketua Pokdarwis Kampung Gambut Siantan Hilir, Misra’i, usai menerima penghargaan dari Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan, Rabu (20/5).
Kampung Gambut bertumpu pada sektor pertanian, terutama sayur-mayur. Di lahan-lahan itu, warga tak hanya menanam kangkung atau sawi, tetapi juga menanam kesadaran. Bunga-bunga ditanam di sekitar kebun sebagai pengalih hama alami, sekaligus mempercantik kawasan.
Sampah organik diolah menjadi pupuk. Limbah sayuran bahkan dimanfaatkan menjadi gas untuk kebutuhan rumah tangga, meski produksinya masih terbatas.
“Untuk saat ini masih memproduksi untuk beberapa rumah, karena ketersediaan bahan baku dan alat pembuatannya juga belum memadai. Masih terhitung enam rumah,” jelas Misra’i.
Tak berhenti di situ, kampung ini berkembang menjadi kawasan wisata edukasi. Pelajar dari tingkat TK hingga perguruan tinggi datang belajar langsung: menanam, merawat, hingga memanen sayur bersama petani.
Baca Juga: Kasus DBD di Kalbar Tembus 970, Kapuas Hulu Tertinggi dan Empat Orang Dilaporkan Meninggal
Sejak Januari hingga Mei 2026, lebih dari 2.000 pengunjung tercatat datang. Mayoritas siswa sekolah dasar dan TK. Bahkan, wisatawan asal Kanada pernah berkunjung untuk meneliti kondisi air di kawasan tersebut.
Di sudut kampung, terdapat hutan kecil seluas kurang lebih 1,5 hektar. Kawasan ini dipertahankan sebagai area resapan air sekaligus habitat satwa. Perubahan pola hidup warga yang lebih ramah lingkungan perlahan mengembalikan kehidupan liar yang sempat menghilang.
“Dulu beberapa satwa sempat punah di tempat kami. Tapi saat ini setelah kami mengubah pola hidup dan menjaga iklim, banyak hewan mulai terlihat lagi, reptil-reptil mulai hadir,” tuturnya.
Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, M Yamin, menegaskan kampung iklim adalah bentuk adaptasi nyata terhadap perubahan iklim yang kini menjadi isu global sekaligus program nasional.
“Artinya, kita melakukan adaptasi terhadap iklim, karena ini sudah menjadi problem dunia dan program nasional,” ujarnya.
Baca Juga: Peringati Harkitnas, Jamhuri Amir Ajak Generasi Muda Ketapang Perkuat Karakter Bangsa
Dalam dua tahun terakhir, Pontianak konsisten melahirkan kampung iklim berprestasi. Tahun 2024, RW 38 Kelurahan Sungai Jawi dan RW 15 Kelurahan Bangka Belitung Laut meraih kategori Utama. Pada 2023, Kelurahan Bansir Laut dan Siantan Tengah masuk kategori Madya.
Bagi Yamin, gerakan ini bukan sekadar soal penghargaan. Ia berharap konsep kampung iklim tumbuh di seluruh penjuru kota.
“Kita berharap bukan hanya ada satu kampung iklim di Kota Pontianak, tapi banyak kampung iklim lainnya. Kita ingin mulai dari kecil, dari kampung, sehingga nanti menjadi besar,” katanya.
Di Kampung Gambut, piala itu kini mungkin tersimpan rapi. Namun yang lebih penting, semangat menjaga bumi telah berakar di pekarangan rumah warga, tumbuh bersama sayur, bunga, dan hutan kecil yang kembali hidup.(*)
Editor : Hanif