Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Penjelasan BMKG Soal Indonesia Sudah Masuk El Nino, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 21 Mei 2026 | 22:47 WIB
Ilustrasi cuaca panas di Pontianak.
Ilustrasi cuaca panas di Pontianak.

 

PONTIANAK POST — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia mulai memasuki fase El Nino berdasarkan indikator iklim global. Namun, di tengah ancaman musim kering, hujan lebat dan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di berbagai daerah.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdani, mengatakan suhu panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir justru menjadi pemicu terbentuknya awan hujan.

“Pada periode 14–17 Mei 2026, suhu maksimum di atas 35,0°C hingga 36,0°C teramati di sejumlah wilayah, membentang dari Sumatra Utara, Jawa, Kalimantan, hingga Papua Barat,” ujarnya, Kamis (21/5).

Menurut BMKG, minimnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari membuat pemanasan permukaan bumi berlangsung lebih intensif.

Cuaca Panas Justru Picu Hujan Ekstrem

BMKG menjelaskan, suhu tinggi mempercepat penguapan air dalam jumlah besar. Kondisi tersebut kemudian memicu pembentukan awan konvektif pada sore hingga malam hari.

Akibatnya, hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem masih berpotensi terjadi secara sporadis di sejumlah wilayah Indonesia.

“Hasilnya, hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang sporadis membasahi berbagai daerah,” jelas Andri.

Secara global, indikator El Nino disebut mulai terlihat dari Southern Oscillation Index (SOI) yang turun ke angka -7,4 serta indeks NINO 3.4 yang naik ke level +0,52.

Namun BMKG menilai masih ada dinamika atmosfer lain yang ikut “memompa” pembentukan awan hujan di Indonesia.

Kalbar Belum Masuk Musim Kemarau

Di Kalimantan Barat, hujan masih diperkirakan berlangsung hingga beberapa pekan ke depan. BMKG Supadio memastikan wilayah Kalbar belum memasuki musim kemarau meski Indonesia mulai terdampak El Nino.

Koordinator Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno, mengatakan curah hujan di Kalbar masih berada pada kategori normal hingga Mei 2026.

“Curah hujan masih kategori normal hingga Mei,” ujarnya di Sungai Raya.

Menurut BMKG, awal musim kemarau di Kalbar diperkirakan baru dimulai pada dasarian kedua Juni atau sekitar 11–20 Juni 2026.

Kondisi itu membuat Pontianak dan wilayah sekitarnya masih kerap diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir.

Karhutla Belum Hilang, Hotspot Mulai Meningkat

Meski hujan masih turun, BMKG mengingatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya hilang.

Data BMKG menunjukkan jumlah titik panas atau hotspot mulai meningkat sejak Januari hingga Maret 2026, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada Maret.

Wilayah Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah menjadi daerah dengan hotspot terbanyak.

“Peningkatan pada Maret cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Sutikno.

BMKG memperkirakan puncak hotspot di Kalbar biasanya terjadi pada Agustus hingga September seiring masuknya puncak musim kemarau.

Karena itu, kewaspadaan dini terhadap karhutla diminta mulai ditingkatkan sejak sekarang.

Puncak Kemarau Diprediksi Juli–Agustus

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Kalimantan Barat terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Meski begitu, hujan masih berpotensi turun dalam sepekan ke depan meski distribusinya belum merata di seluruh wilayah.

“Dalam sepekan ini hujan masih berpotensi terjadi, meski distribusinya belum merata,” ujar Sutikno.

Sementara itu, peneliti atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, memperkirakan dampak El Nino mulai terasa lebih kuat pada Juni hingga Agustus.

Menurutnya, puncak kondisi kering diprediksi terjadi pada September hingga November 2026.

“Bagaimana setelah November, masih terlalu jauh. BMKG pasti akan melaporkan prakiraan cuaca, termasuk kondisi curah hujan, untuk periode 19 harian,” katanya. (ars)

 

Tabel Informasi El Nino 2026

Kategori Data El Nino & Cuaca Kalbar 2026
Status Iklim Indonesia Mulai memasuki fase El Nino
Indikator SOI -7,4
Indikator NINO 3.4 +0,52
Suhu Maksimum Tercatat 35°C–36°C
Periode Suhu Ekstrem 14–17 Mei 2026
Wilayah Suhu Panas Ekstrem Sumatra Utara, Jawa, Kalimantan, Papua Barat
Penyebab Hujan Masih Lebat Penguapan tinggi dan pembentukan awan konvektif
Potensi Hujan 22–25 Mei Aceh, Riau, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim
Status Kalbar Belum masuk musim kemarau
Curah Hujan Kalbar Masih kategori normal hingga Mei
Awal Kemarau Kalbar Dasarian II Juni (11–20 Juni 2026)
Puncak Kemarau Kalbar Juli–Agustus 2026
Risiko Karhutla Masih ada meski hujan masih turun
Wilayah Hotspot Tertinggi Ketapang, Kubu Raya, Mempawah
Lonjakan Hotspot Maret 2026
Puncak Hotspot Diprediksi Agustus–September
Kondisi Bandara Supadio Visibilitas sempat <1 km pada akhir Maret
Status Penerbangan Tetap aman dan normal
Prediksi Dampak El Nino Terkuat September–November 2026
Imbauan BMKG Waspada hujan ekstrem dan karhutla

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#musim kemarau 2026 #El Nino 2026 #hujan lebat Kalbar #hotspot karhutla Kalbar #BMKG Kalimantan Barat