PONTIANAK POST - Salah satu calon Rektor IAIN Pontianak masa jabatan 2026-2030 yang menarik perhatian publik adalah figur seorang perempuan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Kalimantan Barat, baik dilingkungan kampus maupun ruang publik lainnya. Dr. Misdah, S.Ag, M.Pd, adalah sosok akademisi dan pemerhati pendidikan yang telah mendedikasikan dirinya untuk kemajuan pendidikan hususnya di Kalimantan Barat. Pengalaman akademik seorang akademisi yang lahir pada 1 Februari 1970, memiliki riwayat pendidikan sarjana (S1) Tarbiyah/PAI STAIN Pontianak lulus tahun 1996, melanjutkan magister (S2) Manajemen Pendidikan UNJ lulus pada tahun 2007, dan gelar Doktor (S3) Manajemen Pendidikan UNJ pada tahun 2013.
Sebagai mantan PLT Rektor tahun 2020, dengan pengalaman jabatan akademis tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki pengalaman manajerial yang sangat strategis, sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak masa jabatan 2014-2018, dan menerima amanah kembali sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak masa jabatan 2018-2022
Selain pengalaman jabatan akademis, Dr. Misdah, S.Ag, M.Pd. juga memiliki pengalaman profesional yang sangat menarik diantaranya adalah Ketua Angkatan I Taplai KBS Prov. Kalbar LEMHANNAS RI. 2015, dan sejak tahun 2012 ia juga memiliki pengalaman manajerial di bidang kepemiluan, yaitu pernah menjadi Ketua Tim Pemeriksa Daerah Kalbar Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI. tahun 2015-2018, dan menjadi Ketua TIMSEL KPU Kabupaten/Kota Prov. Kalbar tahun 2018. Dibidang organisasi profesi, ia menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Dosen Indonesia (DPW-ADI) Prov. Kalbar periode 2023-2028
Dalam upaya menambah wawasan pemikiran dan keterampilan agar semakin terasah, ada beberapa kegiatan yang diikuti, selain sebagai narasumber pada Seminar Internasional di Malaysia, salah satunya adalah Excecutive Cource Geopilitics, Geostrategy, Geoeconomics & Statecraft, Angkatan 7 oleh UNHAN RI. yang dilaksanakan di Kemenhan RI. tahun 2024. Sebagai satu-satunya peserta yang mewakili perguruan tinggi wilayah Kalimantan Barat, Dr. Misdah telah menyumbangkan sebuah gagasan dalam bentuk artikel yang berjudul “Kepemimpinan Transformasional di Era Ketidakpastian Geopolitik: Strategi Memperkuat Ketahanan Nasional yang Berkelanjutan. Wawasan ini menjadi penting bagi seorang pemimpin kampus PTKI agar bisa membaca situasi, merancang strategi, mengamankan kepentingan negara dan mengeksekusinya, sehingga ia mampu menjadikan kampusnya punya pengaruh, bukan Cuma ikut arus.
Dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, sebagai akademisi dan pemerhati pendidikan, sejak tahun 2020 hingga sekarang, aktif menjadi narasumber di TVRI Kalimantan Barat dalam Program Dialog Publik, disamping aktif di berbagai kegiatan sosial dan menjadi narasumber dalam kegiatan keagamaan di wilayah Kalimantan Barat.
“Berislam di Jalur Tengah: Dinamika Pemikiran Keislaman dan Keindonesiaan Kontemporer. Percikan Pemikiran Para Direktur Pascasarjana PTKIN Indonesia” adalah salah satu karya ilmiah dalam bentuk buku yang pernah ia tulis dan telah diterbitkan tahun 2020. Karya ilmiah dalam bentuk Jurnal Internasional bereputasi Scopus yang merupakan publikasi ilmiah bereputasi tinggi juga telah ia tembus, ada 2 jurnal sebagai penulis pertama yaitu:
“Religious Leadership and Personal Branding of ‘Kyai’ in Islamic Education Management: Pathways to Promoting Moderation and Preventing Radicalism”. Diterbitkan oleh jurnal Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol 6 No 1 (2025) Q2.
“Navigating Modernity and Tradition: Strategic Practices in Islamic Schools at The West Kalimantan-Malaysia Border”. Diterbitkan oleh Jurnal Ilmiah Peuradeun, Vol. 13, No. 2 (2025) Q1
Dalam pencalonannya sebagai Rektor IAIN Pontianak masa jabatan 2026-2030, Visi yang sangat visioner telah diusung yaitu “Akselerasi dan Penguatan Terwujudnya IAIN Pontianak sebagai Perguruan Tinggi Islam yang Ulung dalam Kajian dan Riset keilmuan, keIslaman dan Pengembangan Kebudayaan Borneo”. Dalam upaya mencapai visi tersebut ada beberapa program yang telah dirumuskan diantaranya adalah mengembangkan dan memperkuat SDM kampus ke arah yang lebih profesional dan adaftif, penguatan kelembagaan penelitian dan pengabdian untuk menopang transformasi sosial ke arah yang lebih baik, mengembangkan dan memperkuat program studi yang berorientasi pada penerapan moderasi beragama sebagai salah satu capaian kerangka Islam yang rahmatanlil’alamin, serta meningkatkan peran alumni dan memperkuat jaringan Internasional yang lebih terprogram dan terencana.
Misdah menjelaskan "Hal ini selaras dengan komitmen yang dibangun; Islam Wasathiyah dan Kebangsaan yang Berkemajuan. Islam Wasathiyah adalah Islam yang moderat, seimbang, tidak ekstrem kanan maupun kiri. Artinya di kampus, bentuk kurikulum boleh kritis tapi tetap beretika, bebas dari radikalisme dan liberalisme. Sedangkan Kebangsaan yang Berkemajuan artinya kampus aktif berkontribusi pada kemajuan Indonesia lewat riset terapan, kewirausahaan, dan pengabdian"
"Islam Wasathiyah dan Kebangsaan yang Berkemajuan itu gabungan 2 pilar penting bagi PTKI, bagaimana menjaga karakter Islam moderat dan sekaligus jadi motor kemajuan bangsa. Menjadikan Kampus Islam “Benteng Moderasi dan Laboratorium Kemajuan Indonesia”. Ada 4 Nilai Dasar yang harus dijaga yaitu : Amanah, Ilmiah, Inklusif dan Berkemajuan. Pada setiap kebijakan harus diukur, apakah kebijakan itu memperkuat amanah akademik, berbasis bukti, membuka akses, dan mendorong kemajuan" lanjutnya
"Sebagai calon Rektor IAIN Pontianak dengan peningkatan status bertransformasi menuju UIN, ia faham betul tantangan untuk menyatukan tentang 3 hal yaitu : mutu akademik, identitas keislaman dan relevansi dengan kebutuhan umat. Untuk itu dibutuhkan gagasan penting seperti: integrasi ilmu dan nilai Islam, penguatan riset yang bermanfaat untuk umat, internasionalisasi tanpa kehilangan identitas, tata kelola modern yang akuntabel dan transparan, penguatan karakter dan soft skil mahasiswa, digitalisasi dan literasi AI yang beretika, penguatan jaringan alumni dan kemitraan industri serta kesejahteraan dan pengembangan dosen. Gagasan penting tersebut, harus diwujudkan melalui iklim kampus yang kondusif." Tegas Misdah.(*)
Editor : Hanif