PONTIANAK POST – Di balik hiruk-pikuk penyembelihan hewan kurban setiap Iduladha, ada sosok yang setia bekerja sejak subuh hingga daging selesai dibagikan kepada warga. Selama hampir tiga dekade, Muslim Haji Bustami menjadi salah satu jagal kurban yang dipercaya menangani penyembelihan hewan di Kota Pontianak.
Bagi Muslim, pekerjaan sebagai jagal kurban bukan sekadar rutinitas tahunan. Ada tanggung jawab agama, amanah masyarakat, sekaligus upaya menjaga tradisi penyembelihan sesuai syariat Islam agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Belajar dari Sang Abang Hingga Menjadi Jagal Senior
Saat ditemui di Masjid Muhajirin, Jalan Perdana Komplek Bali Agung 2 Pontianak, Rabu (27/5), Muslim tampak sibuk mengatur proses penyembelihan hewan kurban bersama timnya. Sesekali ia memberi arahan kepada anggota yang bertugas menguliti dan memotong daging.
Pria yang telah aktif menjadi jagal sejak tahun 2000 itu mengaku awalnya hanya membantu sang abang dalam proses penyembelihan hewan kurban.
“Kami sudah cukup lama menjadi langganan di masjid ini sejak tahun 2000. Awalnya saya ikut membantu abang, lama-kelamaan belajar sampai akhirnya fokus menjadi tukang jagal kurban,” ujarnya.
Dari pengalaman membantu di lapangan, Muslim perlahan memahami teknik penyembelihan yang benar, cara menangani hewan, hingga proses pembagian tugas dalam tim jagal.
Menjaga Syariat di Tengah Tradisi Kurban
Selama puluhan tahun menjadi jagal kurban, Muslim menegaskan dirinya selalu memegang prinsip penyembelihan sesuai syariat Islam. Ia memastikan seluruh proses dilakukan tanpa ritual tambahan di luar ajaran agama.
“Kami hanya membaca doa-doa kepada Allah SWT, baik doa kurban maupun akikah. Semua dilakukan sesuai tata cara syariah Islam,” katanya.
Menurut Muslim, ketepatan proses penyembelihan menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan keabsahan ibadah kurban masyarakat.
Dalam satu tim, terdapat sekitar tujuh orang dengan tugas masing-masing. Ada yang bertugas menyembelih, menguliti, memotong daging, hingga mengawasi jalannya proses penyembelihan.
“Saya biasanya ikut mengoordinasikan dari awal penyembelihan sampai proses pemotongan selesai,” tambahnya.
Mengajarkan Generasi Muda Menjadi Penerus
Bertambahnya usia membuat Muslim mulai memikirkan regenerasi jagal kurban di Pontianak. Ia tidak ingin ilmu penyembelihan yang selama ini dijalani hilang begitu saja.
Karena itu, ia mulai melibatkan anak-anak muda untuk belajar langsung di lapangan saat proses kurban berlangsung.
“Selama ini pengalaman yang kami jalani mudah-mudahan bisa bermanfaat. Ilmu penyembelihan juga kami turunkan kepada generasi muda agar nantinya ada penerus ketika kami sudah tidak mampu lagi bekerja,” ucapnya.
Menurut dia, kini semakin banyak anak muda yang mulai tertarik membantu proses penyembelihan hewan kurban. Mayoritas berasal dari kalangan usia sekitar 30 tahun ke atas.
Fenomena regenerasi jagal kurban juga mulai terlihat di berbagai daerah di Indonesia. Menjelang Iduladha 2025, ratusan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Kabupaten Subang mengikuti pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) untuk meningkatkan kemampuan penyembelihan sesuai syariat Islam.
Pernah Tangani Puluhan Ekor Hewan Kurban
Pada Iduladha tahun ini, tim Muslim menangani sekitar enam ekor hewan kurban dalam satu hari. Jumlah itu belum termasuk permintaan penyembelihan di sejumlah lokasi lain di Pontianak.
Meski demikian, ia mengaku pernah menghadapi jumlah penyembelihan yang jauh lebih besar dibanding sekarang.
“Kalau pengalaman paling banyak, pernah sampai puluhan ekor sapi dan kambing,” ungkapnya.
Bagi Muslim, kelelahan selama proses penyembelihan terbayar ketika melihat daging kurban bisa dinikmati masyarakat. Terutama warga yang jarang merasakan daging sapi dalam keseharian mereka.
Di tengah perubahan zaman dan semakin sedikitnya profesi jagal tradisional, Muslim berharap masih ada generasi muda yang bersedia belajar dan melanjutkan pekerjaan tersebut.
Sebab baginya, menjadi jagal kurban bukan hanya soal kemampuan memotong hewan, tetapi juga menjaga amanah ibadah dan tradisi kemanusiaan yang hadir setiap Iduladha. (bar)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro