Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

BPS Kalbar Ungkap Pemicu Inflasi Mei 2026, Emas Masih Jadi Penyumbang Terbesar

Siti Sulbiyah • Rabu, 3 Juni 2026 | 17:04 WIB
Muhammad Saichudin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat.
Muhammad Saichudin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat.

PONTIANAK POST – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,29 persen pada Mei 2026. Meski harga emas mengalami penurunan pada Mei, komoditas emas perhiasan masih menjadi penyumbang inflasi terbesar secara tahunan di Kalbar.

“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Mei 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan,” ujar Kepala BPS Kalbar, Muh Saichuddin, Selasa (2/6).

Berdasarkan hasil pemantauan BPS di lima kabupaten/kota di Kalbar, inflasi y-on-y pada Mei 2026 mencapai 3,29 persen. Angka tersebut ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 107,37 pada Mei 2025 menjadi 110,90 pada Mei 2026.

Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) tercatat sebesar 0,32 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 1,93 persen.

Baca Juga: Libur Panjang Dongkrak Hunian Hotel di Pontianak hingga Tembus 90 Persen

Adapun komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y antara lain emas perhiasan, beras, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, ikan baung, dan sejumlah komoditas lainnya.

Di sisi lain, beberapa komoditas tercatat menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi secara tahunan, di antaranya udang basah, daging babi, sabun deterjen bubuk, bawang putih, jeruk, cumi-cumi, pelembut pakaian, biskuit, dan terong.

Untuk inflasi bulanan, komoditas yang dominan menyumbang kenaikan harga pada Mei 2026 antara lain bahan bakar rumah tangga, biaya pemeliharaan atau servis kendaraan, sawi hijau, ikan baung, pelumas atau oli mesin, bawang merah, serta minyak goreng.

Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan meliputi telur ayam ras, cabai rawit, angkutan udara, daging ayam ras, ikan kembung, cumi-cumi, kangkung, udang basah, cabai merah, hingga emas.

Seluruh lima kabupaten/kota yang menjadi lokasi penghitungan IHK di Kalimantan Barat tercatat mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Ketapang sebesar 3,65 persen dengan IHK 113,02. Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Kota Singkawang sebesar 2,73 persen dengan IHK 109,81.

Baca Juga: Setelah Dikritik Marc Marquez, Bagnaia Kini Disebut Temukan Lagi Sentuhan Juara

Saichuddin menjelaskan sejumlah faktor turut memengaruhi perkembangan inflasi di Kalbar. Di antaranya kenaikan harga elpiji nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026 akibat lonjakan harga minyak mentah dunia dan dinamika geopolitik global.

Selain itu, tambah dia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut mendorong kenaikan harga oli dan suku cadang kendaraan. Faktor lain yang memengaruhi inflasi adalah kenaikan harga sejumlah komoditas pangan serta meningkatnya tarif angkutan udara.

Meski menjadi penyumbang inflasi terbesar secara tahunan, harga emas justru mengalami koreksi dalam satu bulan terakhir. BPS mencatat harga emas turun 1,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun secara tahunan, harga emas masih melonjak 35,37 persen dibandingkan Mei 2025. 

“Harga emas pada Mei berada pada kisaran Rp2,7 juta per gram,” kata Saichuddin. (sti)

Editor : Hanif
#bps kalbar #Komoditas #Deflasi #inflasi