PONTIANAK POST - Rapor Tes Kemampuan Akademik (TKA) menyisakan pekerjaan rumah besar. Hasil nasional, Kalimantan Barat berada pada posisi 20 dari 39 provinsi se Indonesia.
Kondisi ini pun membuka ruang evaluasi pendidikan dari tingkat SD hingga SMA.
KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Sri Sujiarti, mengatakan pelaksanaan TKA untuk SD dan SMP se Kota Pontianak berjalan dengan baik. Namun, terdapat beberapa evaluasi dari pelaksanaan TKA ini.
“Untuk SD di tahun ini diikuti 169 sekolah. Hasilnya didapatlah nilai rerata Matematika di 45,83 dan Bahasa Indonesia di angka 63,77. Rerata total di 54,8,” ujar Sri Sujiarti kepada Pontianak Post, Sabtu (6/6).
Sedangkan SMP se Kota Pontianak, TKA diikuti 78 SMP. Rerata nilainya untuk mata pelajaran Matematika 41,7 dan Bahasa Indonesia 63,72. Rerata TKA nya di 52,71.
“Memang lebih rendah dari SD. Untuk TKA secara nasional Provinsi Kalimantan Barat berada di posisi 20 dari 39 provinsi se Indonesia,” ungkap Sri.
Menurut Sri, faktor keberhasilan nilai TKA sebetulnya ada di kemampuan guru dan kemampuan siswa menangkap materi pelajaran yang telah disampaikan.
Soal-soal TKA melihat kemampuan dasar dalam berpikir dan memahami pelajaran. Artinya, tidak hanya soal hafalan tapi lebih ke cara berpikir dan kemampuan anak dalam menyelesaikan satu permasalahan.
Dalam memecahkan soal-soal ini, anak dituntut kritis, logis dan kreatif.
Sri mengungkapkan ke depan persiapan TKA juga harus semakin baik dibanding tahun ini. Guru harus semakin banyak memberi soal-soal yang disebutkan di atas.
Sebab dalam menuntaskan soal ini, anak-anak mesti menggunakan stimulus konteks nyata. Baik itu melalui teks, gambar, grafik, tabel, maupun studi kasus.
“Kemudian soal ini juga bisa diselaraskan dengan konteks masalah baik itu di lingkungan sekitar atau fenomena saat ini. Di sini, dapat dilihat apakah siswa bisa memecahkan masalah dalam soal tersebut,” jelas Sri.
Sri menuturkan, untuk menjawab soal tersebut siswa bisa memahami stimulus dengan mengenali perintah soal. Apa yang harus dilakukan, kemudian bisa juga menggabungkan beberapa teori untuk menjelaskan jawaban dari soal itu.
“Soal-soal seperti ini sudah harus diberikan kepada siswa. Guru juga mesti dilatih bagaimana cara membuat soal-soal seperti ini,” timpal Sri.
Ketika pemahaman soal ini dapat tersampaikan di guru, lanjutnya, maka ke depan siswa akan terbiasa dengan menghadapi soal-soal seperti ini. Dengan begitu, ketika TKA dilaksanakan, siswa bisa mendapatkan nilai tinggi.
Sri juga meminta peran orang tua murid untuk bisa bersinergi dalam upaya kesiapan anak-anaknya mengikuti TKA. Mulai dari membantu mereka belajar di rumah, kemudian melihat jenis soal-soal TKA.
Arahan cara menjawab soal kepada anak juga mesti diberikan orang tua. Dengan adanya penguatan, maka anak-anak diyakininya akan bisa menjawab soal-soal ini.
“Soal TKA ini instrumen penilaiannya menuntut penalaran,” ungkapnya.
Dia menyatakan pemetaan kemampuan siswa juga harus dilakukan oleh guru. Ketika terdapat anak yang dianggap masih kurang dalam penilaian jenis TKA, guru hendaknya dapat memberikan jam tambahan di luar jam sekolah.
Dengan mendapatkan dukungan baik dari guru orang tua dan sekolah, maka ke depan anak-anak tidak lagi sulit untuk menjawab soal TKA.
“Ini amanah Kementerian Pendidikan. Kami berharap pengajar dapat memberikan pemahaman kepada siswa. Sehingga memiliki kemampuan dalam memecahkan suatu persoalan. Tindak lanjut dari hasil TKA ini, kami juga akan melakukan peningkatan kemampuan guru untuk lebih banyak membuat soal seperti di TKA ini,” katanya. (*)
Editor : Chairunnisya