PONTIANAK POST – Semakin seringnya genangan yang terjadi di sejumlah ruas jalan utama Kota Pontianak usai hujan deras memunculkan kekhawatiran baru. Kota yang sejak lama dikenal sebagai "Kota Seribu Parit" dinilai mulai kehilangan sistem drainase alami yang menjadi penyangga utama pengendalian banjir.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari Daerah Pemilihan Kota Pontianak, Heri Mustamin, mendesak Pemerintah Kota Pontianak segera melakukan normalisasi parit dan pembenahan sistem drainase secara menyeluruh.
Menurutnya, persoalan genangan yang kini semakin sering terjadi tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah musiman semata. Kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan fungsi saluran air yang selama ini menjadi bagian penting dari tata ruang Kota Pontianak.
“Sejak awal Pontianak dibangun dengan konsep seribu parit. Itu merupakan sistem yang disiapkan untuk mengantisipasi banjir dan mengatur aliran air di kota ini,” kata Heri, Selasa (16/6).
Parit Menyempit dan Banyak yang Hilang
Heri menilai perubahan tata ruang yang tidak diimbangi dengan pengelolaan drainase menyebabkan banyak parit mengalami penyempitan, tertutup bangunan, bahkan hilang.
Menurutnya, pada era 1970-an hingga awal 2000-an, jaringan parit di Kota Pontianak masih berfungsi relatif baik dalam mengalirkan air hujan maupun air pasang.
Namun dalam satu dekade terakhir, kondisi tersebut mulai berubah. Banyak saluran air tidak lagi mampu menampung debit air sehingga genangan mudah muncul meski hujan tidak berlangsung lama.
“Banyak parit yang sudah disumbat, ada yang menyempit, bahkan ada yang hilang. Akibatnya ketika hujan turun tidak terlalu lama saja, genangan sudah muncul di berbagai titik,” ujarnya.
Kondisi itu, lanjut Heri, bertolak belakang dengan konsep dasar pembangunan Pontianak yang diwariskan pendiri kota, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.
Menurutnya, pendiri Kota Pontianak telah memahami karakter wilayah yang berada di dataran rendah dan dipengaruhi pasang surut sungai sehingga membangun jaringan parit yang saling terhubung sebagai sistem pengendali air.
“Saya meyakini beliau sudah memikirkan potensi banjir sejak awal. Karena itu kota ini dibangun dengan jaringan parit yang saling terhubung,” katanya.
Normalisasi Parit Harus Jadi Prioritas
Heri meminta Pemerintah Kota Pontianak menjadikan normalisasi parit sebagai prioritas pembangunan infrastruktur perkotaan.
Meski mengembalikan konsep "Seribu Parit" secara utuh dinilai tidak mudah, ia menegaskan seluruh saluran yang masih ada harus segera dibenahi agar kembali berfungsi optimal.
“Kalaupun tidak bisa mengembalikan menjadi seribu parit, setidaknya parit yang masih ada sekarang segera dinormalisasi dan ditata dengan baik,” tegasnya.
Selain itu, ia meminta pengawasan terhadap pembangunan kawasan permukiman dan proyek properti diperketat.
Menurutnya, setiap pembangunan baru harus memiliki sistem drainase yang memadai dan terhubung dengan saluran utama agar tidak menambah beban genangan di kawasan sekitar.
“Kalau perlu jangan keluarkan izin pembangunan apabila pengembang tidak memiliki perencanaan drainase yang jelas. Jangan sampai drainasenya dibuat hanya sebagai syarat administrasi, tetapi tidak berfungsi,” ujarnya.
Ancam Aktivitas Ekonomi Kota
Heri mengingatkan dampak genangan tidak hanya dirasakan masyarakat yang terdampak banjir, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi Kota Pontianak.
Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat yang bertumpu pada sektor jasa dan perdagangan, kualitas infrastruktur perkotaan menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing daerah.
Ia menilai genangan yang terus berulang dapat menurunkan kenyamanan masyarakat dan pelaku usaha dalam beraktivitas.
“Kalau kawasan usaha terus tergenang, orang bisa saja memilih membuka usaha di Kabupaten Kubu Raya yang sekarang perkembangannya juga semakin pesat,” katanya.
Menurut Heri, kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan pembenahan sistem pengendalian banjir secara menyeluruh.
Hujan Beberapa Jam Saja Sudah Timbulkan Genangan
Heri mencontohkan genangan yang kini semakin sering muncul di sejumlah kawasan seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Gajah Mada, Jalan Tanjungpura, Sungai Jawi, Kota Baru, Purnama hingga Tanjung Raya.
Padahal beberapa kawasan tersebut berada tidak jauh dari saluran air besar yang seharusnya mampu membantu mengurangi genangan.
“Yang mengkhawatirkan, hujan beberapa jam saja sekarang sudah menyebabkan genangan. Bagaimana kalau nanti hujan berlangsung lebih lama ditambah pasang air laut, tentu risikonya jauh lebih besar,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah segera menyusun langkah konkret melalui normalisasi parit, pembenahan drainase primer dan sekunder, serta pengawasan yang konsisten terhadap seluruh sistem pengendalian air di Kota Pontianak.
“Kalau ini segera dilakukan, saya optimistis Pontianak bisa kembali menjadi kota yang nyaman, tertata, dan mampu mengurangi risiko banjir maupun genangan di masa mendatang,” pungkasnya. (den)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro