PONTIANAK POST – SDN 14 Pontianak memperkuat upaya pelestarian bangunan cagar budaya melalui program pendidikan lingkungan berbasis Adiwiyata berkelanjutan. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Tanjungpura, sekolah bersejarah tersebut mendapat dukungan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk pengelolaan lingkungan yang lebih kreatif dan berkelanjutan.
Program yang dilaksanakan pada 2026 itu bertujuan membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan sekaligus menjaga nilai historis bangunan sekolah yang telah berdiri sejak masa kolonial Belanda.
SDN 14 Pontianak tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perkembangan pendidikan di Kota Pontianak. Bangunan sekolah yang telah berdiri sejak era kolonial menjadi aset budaya yang perlu dijaga keberadaannya.
Karena itu, upaya menjaga kebersihan, penghijauan, dan pengelolaan lingkungan sekolah dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung pelestarian bangunan bersejarah tersebut.
“Lingkungan sekolah yang terawat akan membantu mempertahankan nilai historis bangunan sekaligus menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi peserta didik,” demikian disampaikan dalam program pendampingan tersebut.
Sebagai informasi, SDN 14 Pontianak memiliki nilai historis yang kuat karena bangunan utamanya dibangun pada tahun 1902 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dikenal sebagai salah satu sekolah tertua di Kota Pontianak.
Bangunan berbahan kayu belian dengan arsitektur kolonial tersebut awalnya berfungsi sebagai Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan hingga kini masih mempertahankan sebagian besar bentuk aslinya. SDN 14 juga telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Pontianak sehingga keberadaan dan keasliannya terus dijaga sebagai bagian dari warisan sejarah daerah.
Kegiatan PKM dilaksanakan oleh tim Universitas Tanjungpura yang terdiri atas Ir. Noveicalistus H. Djanggu, S.T., M.T. dari Jurusan Teknik Industri, Andang Firmansyah, M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Sejarah, serta Dian Rahayu Jati, M.T. dari Jurusan Teknik Lingkungan.
Melalui program ini, tim memberikan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada warga sekolah melalui berbagai pelatihan dan bantuan sarana pendukung pengelolaan lingkungan.
Program tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi melalui kontrak Nomor 197/C3/DT.05.00/PM/2026.
Sebagai bentuk dukungan terhadap rintisan Adiwiyata berkelanjutan, tim PKM menyerahkan sejumlah fasilitas kepada sekolah. Bantuan tersebut meliputi teknologi tepat guna (TTG) bank sampah, timbangan bank sampah, vertical garden, alat press kaleng, peralatan ecoprinting, serta perangkat pembuatan ecobrick.
Fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan keterampilan siswa dan guru dalam mengelola sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Selain mengurangi volume sampah, program ini juga mendorong tumbuhnya kreativitas peserta didik melalui pemanfaatan limbah menjadi berbagai produk ramah lingkungan.
Program pengelolaan sampah di lingkungan sekolah menjadi semakin penting mengingat volume sampah nasional yang terus meningkat. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai sekitar 29,2 juta ton per tahun dari 278 kabupaten/kota yang telah melaporkan data. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 32,9 persen yang berhasil dikelola, sementara 67,1 persen lainnya masih belum tertangani secara optimal.
Menurut tim pelaksana, pelestarian bangunan cagar budaya tidak hanya dilakukan melalui perawatan fisik bangunan. Upaya tersebut juga harus didukung oleh lingkungan yang bersih, hijau, tertata, dan berkelanjutan.
Konsep tersebut menjadi landasan pengembangan sekolah agar mampu mengintegrasikan pendidikan karakter, kepedulian lingkungan, kreativitas, dan kesadaran sejarah dalam satu ekosistem pembelajaran.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar menjaga kebersihan sekolah, tetapi juga memahami pentingnya merawat warisan sejarah yang menjadi identitas daerah.
Kepala SDN 14 Pontianak, Saminem, S.Pd., menyampaikan apresiasi kepada Universitas Tanjungpura dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi atas dukungan yang diberikan melalui program PKM tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada LPPM Untan dan Kementerian atas kegiatan PKM ini. Besar harapan kami SDN 14 Pontianak dapat menjadi salah satu sekolah Adiwiyata Nasional dengan ciri khas cagar budayanya,” ujarnya.
Melalui kolaborasi tersebut, SDN 14 Pontianak diharapkan menjadi contoh sekolah yang mampu mengintegrasikan pelestarian lingkungan dan perlindungan warisan sejarah secara berkelanjutan. (ars/ser)
Apa tujuan program PKM di SDN 14 Pontianak?
Mendukung pelestarian bangunan bersejarah melalui pendidikan lingkungan dan penguatan program Adiwiyata berkelanjutan.
Fasilitas apa saja yang diberikan?
Bank sampah, timbangan bank sampah, vertical garden, alat press kaleng, peralatan ecoprinting, dan perangkat ecobrick.
Apa manfaat program bagi siswa?
Meningkatkan kesadaran lingkungan, kreativitas dalam mengolah limbah, serta pemahaman tentang pentingnya menjaga warisan sejarah daerah.