PONTIANAK POST - Penularan HIV di Kalimantan Barat masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian seluruh pihak terkait. Sayangnya, dukungan terhadap orang dengan HIV (Odhiv) semakin melemah.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pontianak, Lusi Nuryanti mengatakan, data temuan HIV yang tercatat di fasilitas kesehatan Kota Pontianak bisa mencapai lebih dari 300 kasus per tahun. Namun sebagian besar merupakan warga dari kabupaten lain yang berobat di ibu kota provinsi.
"Kalau Pontianak sendiri, berdasarkan data Dinas Kesehatan, temuannya rata-rata sekitar 100 orang per tahun,” ucapnya Kamis (18/6).
Jumlah tersebut merupakan temuan baru yang berbeda dengan temuan pada tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuktikan bahwa penyebaran HIV masih terjadi di berbagai wilayah Kalimantan Barat.
Baca Juga: RSUD Soedarso Masuk Kategori Rumah Sakit Mandiri dengan Kemandirian 86 Persen
Ia menilai anggapan sejumlah daerah yang merasa aman atau bebas HIV tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
"Kalau ada daerah yang mengatakan wilayahnya aman atau bebas HIV, itu tidak tepat. Data ini justru menunjukkan bahwa penularan HIV masih tinggi di Kalimantan Barat," katanya.
Di tengah tingginya tantangan penanggulangan HIV, Lusi mengaku prihatin karena banyak lembaga peduli AIDS dan aktivis yang sebelumnya aktif kini mulai mengurangi kegiatan akibat keterbatasan dukungan khususnya pendanaan.
"Saat ini banyak lembaga peduli AIDS yang mati suri. Teman-teman aktivis yang dulu aktif harus menghilang. Ini menjadi hal yang miris ketika tantangan masih tinggi, tetapi dukungan justru melemah," ujarnya.
Ia juga khawatir kondisi tersebut dapat memicu lonjakan kasus pada tahun-tahun mendatang. Di sejumlah daerah, akses layanan HIV bahkan semakin terbatas, mulai dari pemeriksaan hingga ketersediaan terapi antiretroviral (ARV).
Baca Juga: Bupati Kapuas Hulu Minta Kafe Remang-remang Ditutup, Disebut Ada Pengunjung Terinfeksi HIV
Lusi mengapresiasi layanan HIV di Kota Pontianak yang dinilai masih cukup baik. Saat ini seluruh puskesmas di Kota Pontianak telah menyediakan layanan tes HIV dan distribusi obat ARV sehingga memudahkan masyarakat mengakses pengobatan.
Namun, kata dia, hal yang dikhawatirkan adalah mobilitas masyarakat yang sangat tinggi sehingga penyebaran sulit dicegah.
“Kalau Pontianak aman tetapi kabupaten lain tidak aman, maka risiko penularan tetap ada. Karena itu isu HIV harus tetap menjadi perhatian pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota," tegasnya.
Sementara itu, Letza Wijaya dari Yayasan Pontianak Plus, menilai meningkatnya temuan HIV pada kelompok remaja dan usia produktif menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan.
Di satu sisi, temuan kasus pada usia muda memungkinkan penderita mendapatkan pengobatan lebih cepat sehingga kualitas hidup dapat dipertahankan. Namun di sisi lain, kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai HIV/AIDS, kesehatan seksual, dan kesehatan reproduksi masih belum menjangkau kelompok muda secara optimal.
Baca Juga: Viral Klaim HIV Tidak Ada, Dokter Peringatkan Bahaya Hoaks yang Bisa Picu Pasien Hentikan ARV
"Kita bisa melihat bahwa penyebaran informasi dan pendidikan terkait HIV/AIDS maupun kesehatan seksual dan reproduksi masih kurang masif di kalangan orang muda. Ini yang perlu diperkuat," ujarnya.
Letza juga menyoroti tingginya temuan kasus pada warga di daerah kabupaten lain yang datang ke Pontianak untuk bekerja maupun menempuh pendidikan. Banyak di antara mereka baru mengetahui status HIV setelah mendapatkan edukasi dan pemeriksaan dari lembaga pendamping.
“Berarti hal ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah daerah di kabupaten, terkait HIV/AIDS maupun kesehatan seksual dan reproduksi,” tuturnya.
Selain itu, temuan HIV pada ibu hamil masih menjadi perhatian serius. Menurutnya, tidak sedikit ibu hamil yang baru mengetahui status HIV saat menjalani pemeriksaan kehamilan. Tantangan berikutnya, lanjut dia, adalah memastikan mereka tetap menjalani pengobatan agar tidak terjadi penularan dari ibu kepada anak.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Yayasan Pontianak Plus terus memperkuat strategi penjangkauan, termasuk melakukan penelusuran terhadap pasien yang putus pengobatan serta mendorong mereka kembali mengakses layanan kesehatan.
Baca Juga: Bayam Batang Pink Heirloom, Langka dan Kaya Manfaat untuk Kesehatan
"Kami terus menjangkau teman-teman yang berhenti pengobatan maupun yang sudah mengetahui status HIV-nya tetapi belum mau berobat, agar mereka kembali menjalani terapi dan kualitas hidupnya bisa meningkat," kata Letza.
Untuk menghadapi tantangan yang semakin berat pada 2026 hingga tahun-tahun mendatang, Letza menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama. Melalui jejaring yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, komunitas lintas sektor, hingga pemerintah, setiap kasus yang ditemukan dapat segera dirujuk dan mendapatkan pendampingan yang tepat.
“Dengan keterbatasan anggaran, kita harus berbagi peran agar penanganan HIV tetap berjalan dan kualitas hidup penyintas dapat terus ditingkatkan," pungkasnya. (sti)
Editor : Hanif