PONTIANAK POST – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Kalimantan Barat pada Juni 2026 sebesar 3,28 persen. Kenaikan harga terutama dipengaruhi meningkatnya indeks harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sintang sebesar 3,71 persen.
Berdasarkan rilis BPS Kalimantan Barat, inflasi tersebut terjadi seiring kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 107,71 pada Juni 2025 menjadi 111,24 pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi month to month (m-to-m) tercatat sebesar 0,31 persen dan inflasi year to date (y-to-d) sebesar 2,24 persen.
Kepala BPS Kalimantan Barat, Muh Saichudin, menyampaikan bahwa inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga pada sebelas kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,28 persen, sementara kelompok transportasi sebesar 5,11 persen dan perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 5,81 persen.
Baca Juga: Kanwil Kemenkum Kalbar Gandeng BPSDM Dorong Perlindungan KI bagi UMKM dan Perempuan Pelaku Usaha
Dari sisi penyumbang inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil inflasi y-on-y sebesar 1,55 persen. Komoditas yang memberikan kontribusi antara lain beras, ikan baung, minyak goreng, ikan nila, cabai rawit, ikan tongkol, bawang merah, serta beberapa komoditas pangan lainnya.
"Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain, yakni ketimun, udang basah, daging babi, terong, popok bayi sekali pakai/diapers, sabun detergen bubuk, biskuit, bayam, dan daging ayam ras," jelas Saichudin di Pontianak, siang kemarin.
Selain pangan, tekanan harga juga dipengaruhi kelompok transportasi dengan andil inflasi sebesar 0,59 persen. Komoditas yang dominan memberikan pengaruh antara lain tarif angkutan udara, pelumas/oli mesin, pemeliharaan kendaraan, dan bensin.
"Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, antara lain, yakni sawi hijau, timun, kacang panjang, bayam, kangkung, dan buncis," imbuhnya.
Baca Juga: BPS Kalbar Turunkan Mayoritas Pegawai Kawal Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Lapangan
Berdasarkan wilayah pemantauan IHK, seluruh lima kabupaten/kota di Kalimantan Barat mengalami inflasi y-on-y pada Juni 2026. Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Sintang sebesar 3,71 persen dengan IHK 110,96, disusul Kabupaten Ketapang sebesar 3,70 persen. Sementara inflasi terendah terjadi di Kota Singkawang sebesar 2,93 persen.
Dari perkembangan tahunan, inflasi Kalimantan Barat pada Juni 2026 lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juni 2025, inflasi y-on-y tercatat sebesar 1,20 persen, sedangkan Juni 2026 meningkat menjadi 3,28 persen.
BPS Kalimantan Barat terus melakukan pemantauan perkembangan harga berbagai komoditas sebagai bagian dari penyediaan data statistik untuk menggambarkan kondisi perekonomian daerah, khususnya terkait perubahan harga yang dirasakan masyarakat. (mse)
Editor : Hanif