Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

STAKAT Negeri Pontianak dan Paroki Santa Sesilia Tanam 1.000 Pohon di Rumah Pelangi

Miftahul Khair • Kamis, 2 Juli 2026 | 12:44 WIB
Sebanyak 230 peserta dari Paroki Santa Sesilia Pontianak, STAKAT Negeri Pontianak, STIKES Panca Bhakti, dan Politeknik Tonggak Equator berfoto bersama sebelum aksi penanaman pohon di Rumah Pelangi, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (27/6). (ISTIMEWA)
Sebanyak 230 peserta dari Paroki Santa Sesilia Pontianak, STAKAT Negeri Pontianak, STIKES Panca Bhakti, dan Politeknik Tonggak Equator berfoto bersama sebelum aksi penanaman pohon di Rumah Pelangi, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (27/6). (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Di tengah laju deforestasi yang terus mengancam benteng hijau Kalimantan Barat, sekitar 230 peserta menanam 1.000 bibit pohon di kawasan konservasi Rumah Pelangi, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (27/6).

Aksi tersebut menjadi wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan sekaligus implementasi nilai ekoteologi dan spiritualitas Santo Fransiskus Assisi dalam menjaga keutuhan ciptaan.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKAT) Negeri Pontianak dan Paroki Santa Sesilia Pontianak. Selain diikuti sivitas akademika STAKAT Negeri Pontianak, kegiatan juga melibatkan mahasiswa STIKES Panca Bhakti, Politeknik Tonggak Equator (POLTEQ), serta umat Paroki Santa Sesilia Pontianak. Seluruh peserta bergotong royong menanam berbagai jenis pohon, seperti durian, petai, jengkol, dan pinang, di kawasan konservasi seluas sekitar 108 hektare.

Baca Juga: Bupati Kubu Raya Sujiwo Tanam Pohon Usai Fun Bike, Dorong Gerakan Peduli Lingkungan Berkelanjutan

Ketua STAKAT Negeri Pontianak, Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang mengusung tema ekoteologi, salah satu program prioritas Kementerian Agama.

"Kegiatan ini merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi program ekoteologi yang menjadi prioritas Kementerian Agama. Program ini juga selaras dengan rangkaian Yubileum Santo Fransiskus Assisi yang diselenggarakan Paroki Santa Sesilia Pontianak, yang mengajak umat mencintai dan memelihara lingkungan sebagaimana teladan Santo Fransiskus yang memandang seluruh ciptaan sebagai saudara," ujarnya.

Sebanyak 230 peserta dari Paroki Santa Sesilia Pontianak, STAKAT Negeri Pontianak, STIKES Panca Bhakti, dan Politeknik Tonggak Equator berfoto bersama sebelum aksi penanaman pohon di Rumah Pelangi, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (27/6). (ISTIMEWA)
Sebanyak 230 peserta dari Paroki Santa Sesilia Pontianak, STAKAT Negeri Pontianak, STIKES Panca Bhakti, dan Politeknik Tonggak Equator berfoto bersama sebelum aksi penanaman pohon di Rumah Pelangi, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (27/6). (ISTIMEWA)

Ketua Tim PKM STAKAT Negeri Pontianak, Martinus, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat harus mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial, termasuk dalam menjawab persoalan lingkungan.

"Tahun ini menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya PKM lembaga diwujudkan melalui aksi penanaman pohon. Ini bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi komitmen kami mendukung semangat ekoteologi sekaligus menghidupi spiritualitas Santo Fransiskus Assisi," katanya.

Baca Juga: Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Kapuas Hulu Tanam 30 Pohon dan Bersihkan Lingkungan

Senada dengan itu, Pastor Paroki Santa Sesilia Pontianak, RP. Fransiskus Yosnianto, OFMCap., menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan iman.

"Merawat bumi bukan pilihan tambahan bagi orang beriman. Itu adalah konsekuensi dari iman kita sendiri. Mencintai Sang Pencipta berarti juga menghormati ciptaan-Nya," tegasnya.

Pemilihan Rumah Pelangi sebagai lokasi kegiatan memiliki makna historis sekaligus ekologis. Kawasan konservasi ini dirintis pada awal tahun 2000-an oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap., sebagai respons terhadap kerusakan hutan di Kalimantan Barat.

Berawal dari lahan yang gersang, kawasan tersebut dipulihkan melalui gerakan penghijauan hingga berkembang menjadi hutan konservasi yang kini berfungsi sebagai ruang belajar lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, maupun masyarakat umum.

Saat ini Rumah Pelangi dikelola oleh RP. Ignatius Michael Warsito, OFMCap., yang terus mengembangkan kawasan tersebut sebagai pusat konservasi, rehabilitasi lahan gambut, serta pembelajaran ekoteologi yang menghubungkan refleksi iman dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.

Menurutnya, pengalaman belajar langsung di alam mampu membangun kesadaran ekologis yang lebih mendalam dibandingkan sekadar pembelajaran di ruang kelas.

Baca Juga: Tanam Pohon di Pantai Camar Bulan, Ria Norsan Dorong Penghijauan Kawasan Pesisir

"Di Rumah Pelangi, peserta tidak hanya belajar tentang lingkungan. Mereka belajar langsung dari alam. Ketika tangan menyentuh tanah, menanam bibit, dan melihat proses pemulihan lahan gambut, di situlah kesadaran ekologis mulai tumbuh," ujarnya.

Sebelum penanaman pohon, peserta mengikuti seminar lingkungan yang disampaikan Ketua Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC), RP. Pionius Hendi, OFMCap. Berbeda dari seminar pada umumnya, Pionius membuka materinya dengan mengangkat sebatang bibit pohon di hadapan peserta.

"Jangan pernah meremehkan sesuatu yang kecil. Hari ini kita melihat sebatang bibit. Beberapa tahun lagi, pohon inilah yang menghasilkan oksigen, menyimpan air, menjadi rumah bagi burung, dan memberi kehidupan bagi banyak makhluk," ungkapnya.

Usai seminar, peserta dibagi ke dalam 20 kelompok dan bergerak menuju titik-titik penanaman di kawasan perbukitan maupun lahan rawa Rumah Pelangi. Mereka berjalan menyusuri jalur konservasi, melewati titian kayu di atas rawa hingga mendaki perbukitan sambil membawa bibit pohon.

Baca Juga: KIPP Tanam Pohon dan Bangun Nursery: Komitmen Industri Berkelanjutan via Penghijauan Masif di Kawasan Proyek

Suasana kebersamaan terasa sepanjang kegiatan. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, umat, dan para pendamping lapangan saling membantu menggali lubang, menanam bibit, hingga menimbunnya kembali dengan tanah. Tawa sesekali terdengar ketika sebagian peserta harus berjibaku dengan lumpur gambut atau bergantian membawa bibit melewati medan yang cukup menantang.

Melalui aksi sederhana tersebut, semangat ekoteologi tidak berhenti pada diskusi dan refleksi, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Bibit-bibit yang ditanam diharapkan tumbuh menjadi pohon-pohon yang kelak menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menjadi simbol harapan akan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak #STAKAT Negeri Pontianak #rumah pelangi #tanam pohon