Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Wagub Kalbar Sebut Gawai Dayak Benteng Identitas Masyarakat Adat di Tengah Globalisasi

Novantar Ramses Negara • Kamis, 9 Juli 2026 | 10:42 WIB
Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan menyampaikan sambutan saat membuka Gawai Adat Dayak Nosu Minu Podi XXII Kabupaten Sanggau di Rumah Betang Dori
Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan menyampaikan sambutan saat membuka Gawai Adat Dayak Nosu Minu Podi XXII Kabupaten Sanggau di Rumah Betang Dori' Mpulor, Desa Sungai Mawang, Kecamatan Kapuas. (ADPIM PEMPROV KALBAR)

 

PONTIANAK POST - Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menegaskan Gawai Adat Dayak menjadi wujud eksistensi masyarakat adat yang harus terus dijaga di tengah arus globalisasi saat membuka Gawai Adat Dayak Nosu Minu Podi XXII di Rumah Betang Dori' Mpulor, Desa Sungai Mawang, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Selasa (7/7/2026).

Gawai Adat Dayak Nosu Minu Podi XXII mengusung tema Dayak Lestari dan Bermartabat dan berlangsung pada 7-9 Juli 2026 sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen sekaligus sarana pelestarian budaya, penguatan identitas masyarakat adat, dan perekat persaudaraan.

Krisantus mengatakan Gawai Dayak bukan sekadar perayaan budaya yang diisi ritual adat, perlombaan, maupun kegiatan UMKM, tetapi menjadi ruang mempertahankan jati diri masyarakat Dayak di tengah perubahan zaman.

Baca Juga: Wagub Krisantus Apresiasi Peran STT Grace International, Dukung Peningkatan Kualitas SDM dan IPM Kalbar

"Tujuan sesungguhnya bagi masyarakat Dayak adalah menjaga eksistensi masyarakat adat Dayak di tengah arus globalisasi. Kita menyadari bahwa suku apa pun yang tidak melestarikan adat dan budayanya akan perlahan hilang ditelan zaman," ujarnya.

Menurut Krisantus, penyelenggaraan Gawai Adat Dayak Nosu Minu Podi yang memasuki tahun ke-22 menjadi bukti masyarakat Dayak tetap konsisten menjaga warisan leluhur dan identitas budayanya.

"Kami telah menunjukkan kedaulatan dan kepribadian melalui kebudayaan. Nosu Minu Podi yang terus dilaksanakan selama 22 tahun merupakan bukti bahwa kita menjaga budaya sebagai jati diri sekaligus mempertahankan eksistensi masyarakat Dayak di tengah perkembangan peradaban," katanya.

Ia mengajak generasi muda menjadi garda terdepan dalam melestarikan adat dan budaya Dayak dengan aktif mempelajari tradisi leluhur serta memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk memperkenalkan budaya Dayak hingga tingkat internasional.

Baca Juga: ICDN dan Kejari Sintang Perkuat Literasi Hukum dan Edukasi Masyarakat

Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan akar budaya karena keberlangsungan adat bergantung pada kesediaan mereka meneruskan nilai-nilai leluhur kepada generasi berikutnya.

"Budaya harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan budaya Dayak tetap hidup dan dikenal dunia," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sanggau, Yohanes Ontot, menegaskan Gawai Adat Dayak merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga karena memiliki nilai historis dan filosofis sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ia mengatakan gawai bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang wajib diwariskan kepada generasi penerus. (mse)

Editor : Hanif
#globalisasi #Krisantus Kurniawan #Wagub Kalbar #Gawai Dayak #identitas