Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pakar Ungkap Daerah di Kalbar yang Berpotensi Terdampak El Nino pada 2026, Ini Daftarnya

S
Penulis: Siti Sulbiyah❯
Ilustrasi cuaca ekstrem akibat dampak dari fenomena El-Nino. (ILUSTRASI AI)
Ilustrasi cuaca ekstrem akibat dampak dari fenomena El-Nino. (ILUSTRASI AI)

Advertisement

PONTIANAK POST – Fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca tahun ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di Kalimantan Barat. Meski tingkat kerentanannya berbeda di setiap daerah, wilayah dengan pola hujan monsunal dinilai menjadi kawasan yang paling terdampak apabila El Nino berkembang semakin kuat.

Dosen Program Studi Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura, Andi Ihwan, menjelaskan bahwa dampak utama El Nino di Indonesia adalah kekeringan yang berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

"Wilayah Kalimantan Barat memiliki tingkat kerentanan yang beragam. Daerah yang berpola curah hujan monsunal seperti Ketapang, Kayong Utara, dan sebagian Kabupaten Kubu Raya akan lebih rentan mengalami kekeringan berkepanjangan akibat El Nino," ujarnya.

Sementara itu, wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa seperti Pontianak, Mempawah, dan beberapa daerah lainnya memiliki pola hujan ekuatorial sehingga karakteristik dampaknya berbeda dibanding kawasan monsunal.

Menurut Andi, kekeringan yang berlangsung lama berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan yang didominasi lahan gambut. Kondisi serupa pernah terjadi saat El Nino kuat pada 1997, 2015, dan 2019 yang mengakibatkan kebakaran hutan dalam skala besar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat.

Advertisement

Selain meningkatkan risiko karhutla, tambahnya, kekeringan juga berpotensi memicu krisis air bersih dan mengganggu sektor pertanian hingga menyebabkan gagal panen.

Andi menjelaskan, karakteristik Kalimantan Barat yang memiliki hamparan lahan gambut menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak El Nino. Menurutnya, lahan gambut yang mengering sangat mudah terbakar. Berbeda dengan kebakaran pada tanah mineral, api di lahan gambut membakar lapisan bawah permukaan.

“Nah jika terjadi kebakaran di bawah permukaan maka sangat sulit untuk dipadamkan,” katanya.

Selain itu, kekeringan berkepanjangan menyebabkan debit sungai menurun drastis sehingga meningkatkan risiko intrusi air laut ke wilayah daratan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas sumber air baku yang digunakan perusahaan daerah air minum (PDAM).

Faktor lain yang turut memperbesar potensi karhutla adalah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih dilakukan sebagian masyarakat.

Advertisement

Artikel Terkait

Mendagri Tito Karnavian Minta Kepala Daerah Siaga Hadapi Dampak El Nino 2026

Mendagri Tito Karnavian Minta Kepala Daerah Siaga Hadapi Dampak El Nino 2026

Mendagri Tito Karnavian minta kepala daerah siaga hadapi El Nino dan antisipasi karhutla serta krisis air.

Beda Nasib Rakyat Indonesia Saat El Nino: Utara Masih Diguyur Hujan, Selatan Alami Kekeringan

Beda Nasib Rakyat Indonesia Saat El Nino: Utara Masih Diguyur Hujan, Selatan Alami Kekeringan

El Nino belum berdampak merata. Indonesia utara masih dilanda hujan dan banjir, sementara wilayah selatan mulai menghadapi kemarau dan karhu

WMO Peringatkan El Nino Berpotensi Kembali, Indonesia Hadapi Risiko Kekeringan Juni–Agustus

WMO Peringatkan El Nino Berpotensi Kembali, Indonesia Hadapi Risiko Kekeringan Juni–Agustus

WMO memperingatkan El Nino berpeluang 80 persen muncul dan berisiko memicu kekeringan serta cuaca ekstrem di Indonesia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer