PONTIANAK POST - Penantian panjang yang berlangsung lebih dari tiga dekade akhirnya berakhir. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Pontianak, Halifah Bakri, berhasil dipulangkan dari Malaysia dan kembali berkumpul dengan keluarga setelah lebih dari 30 tahun kehilangan kabar.
Momen kepulangan itu bukan sekadar perjalanan lintas negara. Di rumah sederhana di Pontianak Barat, seorang anak akhirnya dapat memeluk kembali ibunya yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam kenangan dan harapan.
Stroke dan Terlantar di Malaysia, Harapan Itu Tak Pernah Padam
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalimantan Barat, Ahmad Fadlin, mengatakan pemulangan Halifah merupakan hasil koordinasi intensif antara KBRI Kuala Lumpur dan BP3MI Kalbar.
Menurutnya, proses tersebut tidak sederhana. Petugas harus menelusuri alamat keluarga, memverifikasi identitas, memastikan kondisi kesehatan Halifah, hingga mengatur seluruh perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Pontianak.
"Pemulangan pekerja migran dengan kondisi khusus atas nama Halifah Bakri ini merupakan hasil kolaborasi dan koordinasi yang erat antara KBRI Kuala Lumpur dan BP3MI Kalimantan Barat, mulai dari pencarian alamat keluarga, validasi data, hingga fasilitasi kepulangan dari Kuala Lumpur sampai ke Pontianak," kata Ahmad Fadlin, Rabu.
Halifah tiba di Bandara Internasional Supadio pada Sabtu (1/8). Perempuan lanjut usia yang mengalami stroke itu terlebih dahulu menjalani pemeriksaan oleh petugas CIQS sebelum dibawa ke Helpdesk BP3MI Kalbar untuk proses pendataan.
Selanjutnya, petugas mengantarkannya menuju rumah anak kandungnya di Pontianak Barat.
Tangis Pecah Saat Seorang Anak Kembali Memeluk Ibunya
Tak ada pesta penyambutan mewah. Yang terdengar hanyalah tangis yang selama puluhan tahun tertahan.
Di hadapan Ketua RT dan anggota keluarga, Halifah akhirnya diserahkan kepada anak kandungnya, Sofian. Pertemuan itu menjadi akhir dari penantian yang berlangsung lebih dari 30 tahun.
Selama waktu itu, keluarga tidak pernah mengetahui secara pasti bagaimana kondisi Halifah di negeri orang. Mereka hanya menyimpan harapan bahwa suatu hari sang ibu akan kembali.
Kini, harapan itu menjadi kenyataan.
Bagi Sofian, hari itu bukan sekadar menyambut kepulangan seorang pekerja migran. Ia menerima kembali sosok ibu yang telah lama hilang dari kehidupan keluarganya.
Perjalanan Panjang Mengembalikan Seorang Ibu ke Rumah
Ahmad Fadlin menjelaskan penanganan pekerja migran dengan kondisi khusus memerlukan koordinasi lintas negara.
Selain memastikan identitas, petugas juga harus mencari keberadaan keluarga di daerah asal, melakukan verifikasi data, hingga mendampingi selama perjalanan agar proses kepulangan berlangsung aman.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memberikan pelindungan kepada pekerja migran Indonesia, termasuk mereka yang telah lanjut usia, sakit, atau terlantar di luar negeri.
Bukan Sekadar Pulang, Tetapi Mengembalikan Kehangatan Sebuah Keluarga
Bagi banyak orang, perjalanan pulang berarti kembali ke rumah.
Namun bagi Halifah Bakri, perjalanan itu berarti kembali menjadi seorang ibu di tengah keluarganya.
Lebih dari 30 tahun waktu memisahkan mereka. Rambut telah memutih, usia terus bertambah, dan kondisi kesehatan tidak lagi sama. Namun kasih sayang seorang anak tidak pernah benar-benar hilang.
Kepulangan Halifah menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka pekerja migran Indonesia, terdapat keluarga yang menunggu dengan doa, harapan, dan keyakinan bahwa suatu saat orang yang mereka cintai akan kembali.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro