PONTIANAK POST - Sebanyak 40 mahasiswa semester VI Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas PGRI Pontianak mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) selama 3–7 Agustus 2026 di tiga lembaga mitra di Pontianak.
Kegiatan tersebut digelar untuk menghubungkan teori konseling yang dipelajari di kampus dengan kondisi nyata melalui pendampingan di Yayasan Rumah Rahayu, SLB Bina Anak Bangsa, dan Graha Werdha Marie Joseph.
Mahasiswa dibagi dalam tiga kelompok dan mendapat pendampingan dari 12 dosen Program Studi BK.
Baca Juga: Wagub Krisantus Bekali Mahasiswa KKN IKIP PGRI, Tekankan Pentingnya Pendidikan dan Literasi Digital
Mereka melakukan observasi, interaksi, diskusi, refleksi, serta evaluasi untuk memahami karakteristik layanan konseling pada berbagai kelompok masyarakat.
Di Yayasan Rumah Rahayu, mahasiswa berinteraksi dengan residen yang menjalani rehabilitasi penyalahgunaan narkoba.
Mereka mendengarkan pengalaman para residen dan mengikuti diskusi untuk memahami bahwa proses pemulihan membutuhkan dukungan psikologis, sosial, serta penerimaan lingkungan.
Salah satu mahasiswa peserta KKL, Jintar Sandra Nainggolan mengatakan, pengalaman tersebut mengubah pemahamannya mengenai peran konselor.
Baca Juga: Pj Sekda Mempawah Sambut Baik KKM IKIP PGRI Pontianak
“Saya belajar bahwa menjadi konselor bukan hanya memberikan solusi. Yang paling penting adalah mampu mendengarkan tanpa menghakimi dan memberikan harapan kepada mereka yang sedang berjuang memperbaiki hidupnya. Pengalaman ini benar-benar membuka cara pandang saya tentang profesi konselor,” tuturnya.
Sementara di SLB Bina Anak Bangsa, mahasiswa mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus melalui kegiatan pembelajaran, permainan, edukasi, dan seni.
Dari proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa setiap anak memiliki potensi serta kebutuhan berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang disesuaikan.
Kepala SLB Bina Anak Bangsa Wahyu Fitrahadi mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut.
“Mahasiswa BK Universitas PGRI Pontianak tidak hanya datang untuk melakukan observasi, tetapi benar-benar terlibat mendampingi anak-anak. Kehadiran mereka memberikan suasana baru yang menyenangkan bagi peserta didik sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami layanan pendidikan khusus,” ungkap Wahyu.
Adapun di Graha Werdha Marie Joseph, mahasiswa menghabiskan waktu bersama para lansia melalui kegiatan berbincang, mendengarkan cerita kehidupan, membantu aktivitas sederhana, serta memberikan pendampingan sosial.
Baca Juga: Mahasiswa IKIP PGRI Tuntaskan KKM di Kelurahan Tanjung Mempawah Hilir
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran mengenai pentingnya perhatian, penghargaan, dan kemampuan mendengarkan dalam memberikan layanan kepada lansia.
Ketua Pelaksana KKL sekaligus Pengelola Laboratorium Program Studi BK Universitas PGRI Pontianak, Eli Trisnowati mengatakan, pengalaman langsung dibutuhkan mahasiswa agar mampu menghubungkan teori dengan realitas kehidupan.
“Di ruang kuliah, mahasiswa mempelajari teori dan berbagai pendekatan konseling. Namun, melalui KKL mereka belajar memahami manusia secara utuh. Karena itu, mahasiswa dan dosen kami bagi ke dalam beberapa kelompok agar pendampingan berlangsung lebih intensif dan setiap mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna,” jelas Eli.
Ketua Program Studi BK Universitas PGRI Pontianak, Kamaruzzaman menilai pembelajaran lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang profesional sekaligus memiliki kepedulian sosial.
Baca Juga: Puluhan Mahasiswa IKIP Geruduk Gedung DPRD Kalbar
“Kami ingin lulusan BK memiliki keseimbangan antara kompetensi akademik dan kepedulian sosial. Pengalaman berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat akan memperkuat kemampuan mereka dalam memberikan layanan yang profesional, adaptif, dan humanis,” ujarnya.
Sekretaris Program Studi BK sekaligus dosen pengampu mata kuliah BK dalam Kondisi Khusus, Toni Elmansyah menjelaskan, pemilihan tiga lokasi KKL dilakukan untuk memperkenalkan mahasiswa pada beragam lingkungan layanan bimbingan dan konseling.
“Lulusan BK tidak hanya bekerja di sekolah. Mereka juga memiliki peluang berkiprah di lembaga rehabilitasi, pendidikan khusus, maupun lembaga kesejahteraan sosial. Karena itu mahasiswa perlu memiliki pengalaman langsung agar mampu memahami karakteristik layanan pada setiap setting tersebut,” jelas Toni.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga mengaitkan pengalaman lapangan dengan teori yang diperoleh selama perkuliahan.
Program Studi BK Universitas PGRI Pontianak menjadikan KKL sebagai bagian dari upaya membentuk lulusan yang kompeten secara akademik, profesional dalam praktik, dan humanis dalam memberikan layanan.(*)
Editor : Budi Miank