PONTIANAK POST - Di tengah perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin bergeser ke media digital, keberadaan koran cetak masih memiliki tempat tersendiri bagi sebagian pembacanya. Salah satunya Nina Kartarineka (46), yang sejak masa kuliah telah terbiasa membaca koran.
Bagi Nina, membaca koran bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh informasi. Kebiasaan tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak dulu. Di rumah, keluarganya bahkan pernah berlangganan koran sehingga membaca berita melalui media cetak menjadi sesuatu yang akrab baginya.
Kini, ketika perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi melalui telepon pintar dan berbagai platform digital, kebiasaan membaca koran perlahan mulai berkurang. Kondisi tersebut, menurut Nina, menjadi tantangan tersendiri bagi media cetak untuk tetap bertahan dan menjangkau pembaca dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Upaya Dongkrak Literasi, Pontianak Post Sebar Koran Gratis di Taman Alun-Alun Kapuas
Nina berharap Pontianak Post tetap eksis dan mampu mempertahankan keberadaannya sebagai salah satu media yang menghadirkan informasi bagi masyarakat Kalimantan Barat.
Ia juga berharap generasi muda tetap mengenal koran dan mengetahui bahwa sebelum era media digital berkembang seperti sekarang, koran menjadi salah satu sumber utama masyarakat untuk mendapatkan informasi.
“Sekarang orang sudah mulai asing dengan koran. Dari masih kuliah saya sudah membaca koran, di rumah juga dulu berlangganan. Semoga Pontianak Post tetap eksis dan generasi sekarang tetap tahu adanya koran,” ujar Nina, Jumat (14/8)
Menurutnya, perubahan pola konsumsi informasi terlihat cukup jelas pada generasi saat ini. Anak-anak dan remaja lebih banyak mengenal informasi melalui perangkat digital. Akibatnya, pengalaman membaca koran secara langsung menjadi semakin jarang ditemui.
Baca Juga: Kemerdekaan dan Literasi yang Tersisa
“Anak-anak sekarang hanya mendengar tentang koran, jadi minat baca mereka agak sedikit kurang,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi media cetak untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di satu sisi, koran harus mempertahankan karakter jurnalistiknya. Di sisi lain, media juga dituntut mampu mengikuti kebiasaan pembaca yang semakin dekat dengan teknologi digital.
Bagi Nina, keberadaan media cetak tetap penting. Koran memiliki nilai tersendiri karena informasi yang disajikan dapat dibaca secara lebih terstruktur. Selain itu, kebiasaan membaca koran juga menjadi bagian dari pengalaman generasi yang tumbuh sebelum internet dan media sosial mendominasi kehidupan sehari-hari.
Di luar aktivitasnya sebagai seorang desainer, Nina juga berusaha menjaga kebugaran tubuh. Setiap hari, ia menyempatkan diri berolahraga sebagai bagian dari rutinitasnya.
Nina terlihat berolahraga di kawasan Tugu Digulis Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak. Aktivitas tersebut menjadi salah satu caranya menjaga kebugaran sekaligus meluangkan waktu untuk diri sendiri di tengah kesibukan.
Kebiasaan berolahraga dan membaca menunjukkan bagaimana Nina berusaha menjaga keseimbangan antara aktivitas sehari-hari, kesehatan, serta kebutuhan memperoleh informasi.
Baca Juga: Bupati Sanggau Yohanes Ontot Sambut Hangat Kunjungan Pontianak Post
Di tengah derasnya arus informasi digital, harapan agar generasi muda tetap mengenal koran juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberagaman sumber informasi. Sebab, perubahan teknologi tidak serta-merta menghilangkan nilai sebuah media, melainkan mendorong media untuk terus beradaptasi.
Bagi pembaca seperti Nina, koran bukan hanya lembaran kertas berisi berita. Ada pengalaman, kebiasaan, dan kenangan yang melekat di dalamnya sejak masa kuliah hingga kehidupan sehari-hari.
"Tantangannya kini adalah bagaimana menjembatani pengalaman membaca koran yang dimiliki generasi sebelumnya dengan kebiasaan membaca informasi generasi muda yang semakin digital," pungkasnya. (wan)
Editor : Miftahul Khair