PONTIANAK POST – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membayangi peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kalimantan Barat (Kalbar). Kondisi kualitas udara membuat sejumlah sekolah menunda lomba kemerdekaan, mengalihkan pembelajaran ke daring, hingga menyiapkan opsi upacara secara daring.
Pemerintah daerah masih berupaya menekan polusi asap melalui pemadaman darat, water bombing, dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sekda Kalbar Harisson mengatakan pemerintah berharap kualitas udara segera membaik sehingga kegiatan yang melibatkan pelajar tetap dapat dilaksanakan.
“Kita usahakan untuk meredakan polusi asap karena karhutla supaya dalam batas ambang normal. Sehingga upacara yang melibatkan pelajar dapat dilaksanakan,” kata Harisson, Jumat (14/8) sore.
Hujan Jadi Harapan, Asap Masih Diwaspadai
Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalbar, termasuk Kota Pontianak, pada Jumat sore menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla.
Harisson menyebut hujan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan TMC yang dilakukan dengan menumbuhkan bibit awan.
“Alhamdulillah, Jumat (14/8) sore sudah terjadi hujan di beberapa wilayah. Termasuk di Kota Pontianak. Hasil dari TMC, dengan menumbuhkan bibit-bibit awan untuk bisa hujan,” ujarnya.
Namun, pemerintah belum dapat memastikan seluruh agenda peringatan kemerdekaan berlangsung tanpa penyesuaian. Kondisi udara masih menjadi pertimbangan, terutama untuk kegiatan yang melibatkan pelajar di ruang terbuka.
Meski hujan mulai turun, kualitas udara Pontianak belum sepenuhnya aman. Prakiraan IQAir menunjukkan AQI⁺ Pontianak masih berada pada angka 152 pada Jumat, kemudian 130 pada Sabtu, 123 pada Minggu, dan 126 pada Senin. Kondisi tersebut masih masuk kategori tidak sehat.
Angka itu memang lebih rendah dibandingkan kondisi ekstrem pada 9 Agustus ketika AQI-US Pontianak sempat mencapai 324 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 237 mikrogram per meter kubik. Namun, kualitas udara yang masih berada pada kategori tidak sehat membuat kegiatan luar ruangan, terutama yang melibatkan pelajar, tetap perlu dipertimbangkan secara hati-hati.
Pelajar Berpotensi Tak Dilibatkan
Puncak peringatan HUT ke-81 RI akan berlangsung pada 17 Agustus melalui upacara pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih di halaman Kantor Gubernur Kalbar.
Rangkaian kegiatan juga mencakup penyerahan penghargaan, mengikuti detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, ramah tamah, dan pemberian remisi di Lapas Kelas IIA Pontianak.
Sementara itu, sejumlah agenda yang melibatkan pelajar dijadwalkan berlanjut pada 22–24 Agustus. Kegiatannya antara lain olahraga tradisional SMA/SMK, festival kesenian dan musik, karnaval budaya, parade busana, lomba mewarnai dan melukis, hingga lomba mendongeng.
Sekolah Sudah Siap, tetapi Lomba Ditunda
Di SMAN 1 Pontianak, persiapan upacara dan perlombaan HUT ke-81 RI sebenarnya telah rampung.
Kepala SMAN 1 Pontianak Indang Maryati mengatakan sekolah telah menyiapkan seluruh kebutuhan kegiatan. Namun, pelaksanaannya masih menunggu arahan Disdikbud Kalbar.
“Untuk persiapan upacara dan lomba di SMAN 1 Pontianak sudah 100 persen,” kata Indang, Jumat (14/8).
Pembelajaran di sekolah tersebut kini dilakukan secara daring. Latihan Paskibra masih berlangsung di halaman sekolah, sedangkan perlombaan ditunda hingga kondisi udara membaik.
“Untuk latihan pasukan Paskibra SMAN 1 Pontianak tetap dilaksanakan di halaman sekolah, sedangkan lomba kami undur sampai kabut asap hilang,” ujarnya.
Upacara Daring Jadi Opsi
Untuk upacara 17 Agustus, SMAN 1 Pontianak masih menunggu arahan pemerintah daerah. Jika kegiatan tetap digelar saat kualitas udara belum ideal, peserta akan diwajibkan menggunakan masker.
Sekolah juga menyiapkan opsi upacara secara daring sebagai langkah perlindungan terhadap siswa.
“Yang pasti untuk pelaksanaan upacara menunggu arahan dari dinas pendidikan. Walaupun tetap dilaksanakan dalam kondisi udara masih buruk, semuanya wajib menggunakan masker. Alternatif bisa dilaksanakan dengan daring. Kesehatan lebih diutamakan,” tegas Indang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan tahun ini harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Bagi sekolah, semangat kemerdekaan tetap dijaga tanpa mengabaikan kesehatan peserta didik.
Kubu Raya Tak Libatkan Siswa
Kebijakan lebih tegas diterapkan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Pemkab memastikan siswa tidak dilibatkan dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus.
Bupati Kubu Raya Sujiwo mengatakan peserta upacara akan difokuskan pada unsur TNI, Polri, dan ASN. Keputusan tersebut mempertimbangkan kualitas udara akibat karhutla.
“Kalau hasil komunikasi kita dengan BMKG, lingkungan hidup dan elemen lain ternyata udara masih buruk, pasti kita akan perpanjang lagi. Kita juga terus melakukan upaya pemadaman,” kata Sujiwo, Jumat (14/8).
Menurut Sujiwo, kondisi karhutla di Kubu Raya relatif terkendali. Namun, asap yang menyelimuti wilayah tersebut dapat berasal dari daerah lain dan terbawa angin.
“Kalau di Kubu Raya sudah sangat terkendali. Kita berjibaku terus. Cuma asap ini bisa berasal dari mana saja dan bisa ditiup angin,” ujarnya.
Lomba Kemerdekaan Harus Menunggu
Kabut asap juga berdampak pada agenda kemerdekaan di sekolah-sekolah Kota Pontianak. Sejumlah perlombaan yang telah direncanakan harus ditunda.
Pemkot Pontianak melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya mengubah pembelajaran tatap muka menjadi daring menyusul memburuknya kualitas udara.
Riki, tenaga pengajar di salah satu SD di Kecamatan Pontianak Barat, mengatakan berbagai lomba sebenarnya telah disiapkan untuk siswa.
“Kegiatan lomba-lomba momentum kemeriahan hari kemerdekaan Indonesia sebetulnya sudah kami rencanakan. Hanya saja, kondisi udara saat ini tidak mendukung. Kota Pontianak dilanda kabut asap,” ungkap Riki kepada Pontianak Post, Jumat (14/8).
Menurutnya, kegiatan tetap diharapkan dapat digelar setelah kualitas udara membaik. Dengan demikian, siswa tetap dapat merasakan suasana kemerdekaan meskipun pelaksanaannya kemungkinan tidak lagi bertepatan dengan 17 Agustus.
Siswa Rindukan Kembali ke Sekolah
Bagi pelajar, pembelajaran dari rumah tidak sepenuhnya menggantikan pengalaman belajar di kelas.
Amira, salah seorang pelajar SD di Kota Pontianak, berharap kualitas udara segera membaik agar siswa dapat kembali belajar tatap muka.
“Mudah-mudahan kondisi udara segera membaik, sehingga kita bisa kembali sekolah,” katanya.
Menurut Amira, pembelajaran daring memiliki kendala tersendiri, termasuk gangguan sinyal. Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, siswa tidak selalu dapat langsung bertanya kepada guru ketika mengalami kesulitan memahami materi.
Kabut asap juga membuatnya kecewa karena muncul saat bulan kemerdekaan. Berbagai lomba Agustus biasanya menjadi ruang bagi siswa untuk bermain, berinteraksi, sekaligus menumbuhkan semangat kebangsaan.
Semangat Kemerdekaan di Tengah Perlindungan Kesehatan
Rangkaian HUT ke-81 RI di Kalbar kini berada di antara dua kebutuhan: mempertahankan semangat peringatan kemerdekaan dan melindungi masyarakat dari dampak buruk kualitas udara.
Hujan pada Jumat sore memberi harapan terhadap membaiknya kondisi udara. Namun, keputusan mengenai pelaksanaan kegiatan luar ruangan tetap bergantung pada perkembangan kualitas udara dan kondisi karhutla.
Kualitas udara Pontianak diperkirakan masih menjadi perhatian hingga awal pekan depan. Berdasarkan prakiraan IQAir, indeks kualitas udara (AQI⁺) Pontianak berada di angka 152 pada hari ini, kemudian diperkirakan 130 pada Sabtu, 123 pada Minggu, dan 126 pada Senin. Angka tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara belum sepenuhnya pulih meski hujan telah mengguyur sejumlah wilayah Kalbar. Karena itu, pelaksanaan kegiatan luar ruangan, termasuk upacara 17 Agustus yang melibatkan pelajar, tetap perlu menunggu perkembangan kualitas udara dan arahan pemerintah daerah.
Bagi sekolah dan orang tua, satu hal menjadi perhatian utama: semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan berbagai cara, tetapi keselamatan dan kesehatan anak tetap menjadi prioritas (bar/iza/ash)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro