Bila Kabut Asap Masih Pekat, Sekolah Siapkan Opsi Upacara 17 Agustus Secara Daring

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 23:21 WIB
UPACARA: Upacara peringatan hari jadi Lembaga Pendidikan Mujahidin.
UPACARA: Ilustrasi upacara bendera di sebuah sekolah di Pontianak.

PONTIANAK POST – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat pelaksanaan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di sejumlah sekolah Kalimantan Barat (Kalbar) belum sepenuhnya pasti. Upacara daring 17 Agustus disiapkan sebagai alternatif jika kualitas udara tetap buruk dan kegiatan luar ruangan dinilai berisiko bagi pelajar.

Di SMAN 1 Pontianak, persiapan upacara dan berbagai perlombaan sebenarnya telah mencapai 100 persen. Namun, sekolah memilih menunggu arahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar sebelum menentukan bentuk pelaksanaan.

Kepala SMAN 1 Pontianak Indang Maryati mengatakan kesehatan siswa menjadi pertimbangan utama.

“Yang pasti untuk pelaksanaan upacara menunggu arahan dari dinas pendidikan. Walaupun tetap dilaksanakan dalam kondisi udara masih buruk, semuanya wajib menggunakan masker. Alternatif bisa dilaksanakan dengan daring. Kesehatan lebih diutamakan,” kata Indang, Jumat (14/8).

Udara Belum Sepenuhnya Aman

Kabut asap masih menjadi persoalan di Pontianak dan sejumlah wilayah Kalbar meski hujan mulai mengguyur pada Jumat sore.

Pemkot Pontianak sebelumnya mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring menyusul memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla. Kebijakan tersebut diterapkan untuk melindungi siswa dari paparan asap.

Berdasarkan data prakiraan IQAir yang Anda berikan, AQI⁺ Pontianak berada di angka 152, kemudian diperkirakan 130 pada Sabtu, 123 pada Minggu, dan 126 pada Senin. Angka tersebut masih berada pada kategori tidak sehat.

Kondisi itu menjadi pertimbangan penting karena upacara kemerdekaan umumnya berlangsung di ruang terbuka dan melibatkan peserta dalam jumlah besar.

Upacara Daring Jadi Jalan Tengah

Opsi upacara daring bukan berarti sekolah mengabaikan peringatan kemerdekaan. Sebaliknya, cara tersebut memungkinkan siswa tetap mengikuti momentum HUT RI tanpa harus berkumpul di tengah kondisi udara yang belum ideal.

Indang mengatakan latihan Paskibra SMAN 1 Pontianak masih dilakukan di halaman sekolah. Namun, perlombaan kemerdekaan ditunda sampai kondisi kabut asap membaik.

“Untuk latihan pasukan Paskibra SMAN 1 Pontianak tetap dilaksanakan di halaman sekolah, sedangkan lomba kami undur sampai kabut asap hilang,” ujarnya.

Jika upacara akhirnya digelar secara daring, sekolah dapat mengikuti rangkaian peringatan dari lokasi masing-masing. Siswa tidak perlu berada di lapangan dalam waktu lama dan dapat mengikuti kegiatan dari rumah.

Kubu Raya Pilih Tidak Melibatkan Siswa

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya mengambil langkah berbeda. Pemkab memastikan siswa tidak dilibatkan dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus jika kondisi udara masih buruk.

Bupati Kubu Raya Sujiwo mengatakan peserta upacara akan difokuskan pada unsur TNI, Polri, dan ASN.

“Kalau hasil komunikasi kita dengan BMKG, lingkungan hidup dan elemen lain ternyata udara masih buruk, pasti kita akan perpanjang lagi. Kita juga terus melakukan upaya pemadaman,” kata Sujiwo, Jumat (14/8).

Menurut Sujiwo, karhutla di Kubu Raya relatif terkendali. Namun, asap yang menyelimuti wilayah tersebut dapat berasal dari daerah lain dan terbawa angin.

“Kalau di Kubu Raya sudah sangat terkendali. Kita berjibaku terus. Cuma asap ini bisa berasal dari mana saja dan bisa ditiup angin,” ujarnya.

Semangat Kemerdekaan Tetap Dijaga

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah tetap berupaya agar masyarakat dapat memperingati HUT ke-81 RI.

Di Kota Pontianak, Wali Kota Edi Rusdi Kamtono mengimbau warga menghentikan aktivitas selama tiga menit pada 10.17–10.20 WIB, 17 Agustus 2026, saat detik-detik Proklamasi. Masyarakat diminta berdiri tegap dan mengikuti penghormatan terhadap Proklamasi.

Pemkot juga mengimbau pemilik videotron untuk menyiarkan langsung upacara pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih sehingga masyarakat dapat mengikuti momentum tersebut secara bersama-sama.

Langkah ini membuka ruang bagi masyarakat untuk tetap merayakan kemerdekaan tanpa harus berkumpul dalam jumlah besar di ruang terbuka.

Bagi sekolah, keputusan mengenai upacara bukan sekadar persoalan teknis. Ada semangat memperingati kemerdekaan yang harus tetap dijaga, tetapi ada pula kewajiban melindungi kesehatan siswa.

Pembelajaran daring yang sudah berlangsung juga membuat sebagian siswa berharap dapat segera kembali ke sekolah. Amira, salah seorang pelajar SD di Kota Pontianak, mengatakan belajar dari rumah memiliki tantangan, terutama ketika terjadi gangguan sinyal dan siswa tidak dapat langsung bertanya kepada guru.

“Mudah-mudahan kondisi udara segera membaik, sehingga kita bisa kembali sekolah,” katanya.

Keputusan Menunggu Kondisi Udara

Pemerintah Kalbar masih berharap hujan dan upaya penanganan karhutla dapat memperbaiki kualitas udara sebelum 17 Agustus.

Sekda Kalbar Harisson mengatakan pemerintah terus melakukan pemadaman darat, water bombing, dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

“Kita usahakan untuk meredakan polusi asap karena karhutla supaya dalam batas ambang normal. Sehingga upacara yang melibatkan pelajar dapat dilaksanakan,” kata Harisson.

Dengan kondisi tersebut, keputusan akhir mengenai upacara di sekolah akan sangat bergantung pada perkembangan kualitas udara dan arahan pemerintah.

Bagi pelajar, jika upacara harus dilakukan secara daring atau tanpa keterlibatan langsung, peringatan kemerdekaan tetap dapat berlangsung. Kali ini, menjaga kesehatan menjadi bagian dari cara mereka merayakan kemerdekaan.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
HUT ke-81 RI kabut asap Kalbar upacara daring 17 Agustus upacara 17 Agustus Kalbar upacara sekolah daring