PONTIANAK POST – Nama Kalimantan Barat hadir dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8). Celine Olivia Apriani Theo, siswi SMKN 5 Pontianak asal Kabupaten Kubu Raya, dipercaya menjadi pembawa baki Bendera Pusaka.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, pejabat negara, dan tamu undangan, Celine menjalankan tugas tersebut hingga seluruh rangkaian prosesi selesai.
Bagi Celine, baki yang dibawanya bukan sekadar bagian dari seremoni. Di balik tugas itu ada perjuangan berbulan-bulan, dukungan keluarga, serta nama Kubu Raya dan Kalimantan Barat yang turut dibawanya ke panggung nasional.
Menariknya, kepastian Celine dipercaya sebagai pembawa baki utama baru diterimanya pada pagi hari menjelang upacara. Penetapan tersebut merupakan hasil penilaian tim pelatih.
Situasi itu menuntut kesiapan mental. Celine harus mampu mengendalikan rasa gugup dan menjaga setiap gerakan tetap presisi di tengah upacara kenegaraan yang disaksikan masyarakat luas.
“Sangat bangga sekali, Oms. Ini memang cita-cita Celine untuk dapat mengharumkan nama daerah,” ujar Celine kepada Pontianak Post melalui sambungan telepon.
Suasana di halaman Istana Merdeka sendiri berlangsung khidmat ketika rangkaian upacara memasuki prosesi penyerahan Bendera Pusaka. Celine berdiri tegak dalam barisan Paskibraka, menjaga posisi dan gerakannya tetap presisi di tengah perhatian Presiden, pejabat negara, serta para tamu undangan.
Ketika Celine menjalankan tugas membawa baki Bendera Pusaka, suasana upacara semakin hening dan tertib. Setiap langkah dilakukan dengan penuh konsentrasi hingga prosesi selesai dan Bendera Pusaka diterima untuk dikibarkan.
Berbulan-bulan Ditempa Sebelum Berdiri di Istana
Kepercayaan tersebut menjadi puncak dari proses panjang yang dijalani Celine. Ia harus melewati seleksi dari tingkat daerah hingga nasional.
Tahapan seleksi meliputi pemeriksaan kesehatan, Peraturan Baris Berbaris (PBB), psikotes, tes minat dan bakat, serta wawancara.
Setelah dinyatakan lolos sebagai Paskibraka tingkat pusat, Celine menjalani pembinaan dan karantina. Latihan tidak hanya menguji kemampuan fisik, tetapi juga disiplin, ketelitian, kekompakan, dan kesiapan mental.
Setiap gerakan harus dilakukan secara terukur. Kemampuan menjaga ketenangan juga menjadi bagian penting karena tugas Paskibraka berlangsung dalam seremoni kenegaraan dengan perhatian publik yang sangat besar.
Kepercayaan tersebut menjadi puncak dari proses panjang yang dijalani Celine. Untuk tingkat pusat, BPIP menetapkan 76 calon Paskibraka 2026, terdiri atas 38 putra dan 38 putri yang mewakili 38 provinsi. Mereka telah melewati tahapan seleksi dan verifikasi tingkat pusat sebelum mengikuti pembinaan sebagai Paskibraka nasional.
Proses pembentukan Paskibraka tidak berhenti pada kemampuan baris-berbaris. BPIP menyebut pembinaan juga mencakup penguatan nilai-nilai Pancasila, kepemimpinan, dan nasionalisme.
Dari seluruh proses tersebut, Celine akhirnya mendapat amanah lebih besar. Ia tidak hanya menjadi anggota Paskibraka tingkat pusat, tetapi dipercaya membawa baki Bendera Pusaka.
Perjalanan Celine Berawal dari Panggung Seni
Perjalanan Celine menuju Istana Merdeka tidak bermula dari lapangan Paskibraka. Sejak sekolah dasar, ia aktif dalam kegiatan seni, terutama menyanyi dan menari.
Saat bersekolah di SMP Negeri 2 Sungai Raya, bakat tarik suaranya mengantarkan Celine meraih Juara II Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2024.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk kepercayaan dirinya. Dari panggung seni, langkah Celine kemudian berlanjut ke lapangan Paskibraka.
Ia bergabung dengan Paskibraka Vechter Five SMKN 5 Pontianak sebelum dipercaya mewakili Kalimantan Barat dalam tugas nasional.
Perjalanan itu memperlihatkan bahwa prestasi seorang pelajar dapat tumbuh dari berbagai jalur. Bakat, disiplin, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus berlatih menjadi bagian dari proses tersebut.
Putri Cleaning Service dan PPPK
Di balik pencapaian Celine, ada keluarga yang selama ini memberikan dukungan. Ayahnya, Intonius atau Antonius, merupakan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) di lingkungan Sekretariat DPRD Kabupaten Kubu Raya.
Sementara ibunya, Anastasya, bekerja sebagai petugas kebersihan atau cleaning service outsourcing di lingkungan Kantor Bupati Kubu Raya.
Dari keluarga tersebut, Celine tumbuh dan mengejar cita-cita hingga akhirnya mendapat kesempatan berdiri di Istana Merdeka.
Intonius bahkan hadir langsung di Jakarta untuk menyaksikan putrinya menjalankan tugas. Ia mengaku bangga ketika mengetahui Celine dipercaya membawa baki Bendera Pusaka.
“Bangga lah, Bang. Sebagai orang tua, Celine sudah memperlihatkan prestasinya di tingkat nasional,” ujar Intonius.
Menurut dia, kedisiplinan dan motivasi kuat telah terlihat dalam diri Celine sejak kecil. Jika sudah memiliki cita-cita, putrinya berusaha menjalankannya dengan sungguh-sungguh.
“Celine itu sejak kecil memang sudah menunjukkan kedisiplinan yang luar biasa dan memiliki motivasi yang sangat tinggi. Dia selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang dicita-citakannya,” katanya.
Leganya Setelah Tugas Besar Selesai
Bagi Intonius, melihat Celine berdiri tegak membawa baki Bendera Pusaka bukan sekadar kebanggaan karena putrinya tampil dalam upacara nasional.
Ia melihatnya sebagai hasil dari proses panjang yang telah dijalani Celine sejak kecil.
“Kami keluarga sangat bangga melihatnya berdiri teguh dan menjalankan tugas mulia ini di Istana Merdeka,” katanya.
Setelah berbulan-bulan menjalani pembinaan, latihan, dan karantina, Celine akhirnya dapat menarik napas lega setelah tugasnya selesai.
“Rasanya lega setelah berbulan-bulan ditempa, dilatih, dan diasah,” ucapnya.
Kubu Raya Siapkan Apresiasi untuk Celine
Kebanggaan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Bupati Kubu Raya Sujiwo langsung melakukan video call dengan Celine pada Senin (17/8) setelah mengetahui bahwa siswi tersebut merupakan warga Kubu Raya.
Sujiwo menyampaikan kebanggaan sekaligus memastikan pemerintah daerah akan memberikan apresiasi atas prestasi tersebut.
“Ternyata dia Kubu Raya, dan kita akan berikan sedikit apresiasi ketika sudah pulang nanti,” kata Sujiwo.
Menurut Sujiwo, keberhasilan Celine bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga. Prestasi tersebut juga membawa nama Kubu Raya ke panggung nasional.
Dari SMKN 5 Pontianak ke Istana Merdeka
Perjalanan Celine dimulai dari ruang kelas SMKN 5 Pontianak. Ia kemudian melewati seleksi panjang, latihan, pembinaan, dan karantina sebelum akhirnya berdiri di Istana Merdeka.
Perjalanan itu menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berprestasi di tingkat nasional juga terbuka bagi anak-anak dari daerah.
Bagi Celine, kesempatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman yang ingin ia bawa ke perjalanan berikutnya.
Setelah Istana, Celine Ingin Menjadi Taruni Akpol
Istana Merdeka bukan akhir dari cita-cita Celine. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia ingin melanjutkan pendidikan ke Akademi Kepolisian (Akpol).
“Mudah-mudahan bisa terwujud ke depannya. Kalau memang belum rezekinya di sana, saya ingin melanjutkan kuliah saja, Oms,” katanya.
Pengalaman sebagai Paskibraka menjadi bekal bagi Celine. Ia kini memiliki pengalaman tentang disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, kekompakan, dan kemampuan menjaga ketenangan dalam tekanan.
Celine juga berharap perjalanannya dapat memotivasi lebih banyak anak muda di Kalimantan Barat untuk berani memiliki cita-cita.
“Saya yakin putra-putri Kalbar ke depannya akan lebih banyak yang berprestasi di tingkat nasional, asalkan ada kemauan,” ucapnya.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro