PONTIANAK POST - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat Muhajirin Yanis, M.Pd.I mendukung rencana mencetak ulang Al-Qur’an Mushaf Kalimantan Barat.
Dukungan itu disampaikan Muhajirin saat menerima kunjungan silaturahmi Ketua Sajadah Fajar, lMunir dan Uun Mahdar Asmadi. Pertemuan tersebut antara lain membahas upaya menghadirkan kembali mushaf khas Kalimantan Barat yang memiliki nilai sejarah sekaligus identitas budaya daerah.
“Kami menyambut baik dan mendukung penuh untuk mencetak ulang Al-Qur’an Mushaf Kalbar. Hal ini untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Al-Qur’an sekaligus kebanggaan terhadap daerah kita,” ujar Muhajirin.
Baca Juga: Saat Hidup Terasa Berat, Ustaz Adi Hidayat Ungkap Cara Curhat yang Dianjurkan Alquran
Bagi Muhajirin, mushaf tersebut tidak sekadar kumpulan lembaran yang memuat ayat-ayat suci Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat perpaduan antara nilai keislaman, sejarah, seni, dan kekayaan budaya lokal Kalimantan Barat.
Al-Qur’an Mushaf Kalimantan Barat diprakarsai oleh Gubernur Kalimantan Barat Aspar Aswin. Penulisannya dimulai pada 4 Juni 2001 dan rampung pada 4 Oktober 2002.
Keistimewaan mushaf ini tampak pada ragam hias yang mengisi halaman-halamannya. Dengan nuansa warna lembut kebiruan, iluminasi mushaf menampilkan kekhasan ornamen lokal Kalimantan Barat.
Berbeda dengan sejumlah mushaf indah lainnya, penanda juz dan ruku pada bagian tepi halaman ditempatkan di dalam bingkai iluminasi dan dipisahkan dengan garis vertikal.
Baca Juga: Kasus Pneumonia di Kalimantan Barat Meningkat, ISPA Masih Fluktuatif di Tengah Kabut Asap Karhutla
Keberadaan ornamen daerah dalam mushaf tersebut membuat Al-Qur’an Mushaf Kalimantan Barat memiliki karakter yang kuat. Ia menjadi titik temu antara kecintaan terhadap Al-Qur’an dan penghargaan terhadap khazanah budaya daerah.
Karena itu, rencana cetak ulang diharapkan tidak berhenti sebagai upaya memperbanyak kembali sebuah karya lama. Lebih dari itu, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar merawat warisan keislaman Kalimantan Barat agar tetap dikenal dan diapresiasi oleh generasi mendatang.
“Semoga ikhtiar ini menjadi bagian dari syiar Al-Qur’an sekaligus merawat warisan budaya dan sejarah Islam di Kalimantan Barat,” pungkas Muhajirin. (mrd/r)
Editor : Hanif