Kalbar Masih Dikepung Hotspot, Pontianak Tak Kunjung Diguyur Hujan

Salman Busrah • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:41 WIB
Upaya pemadaman dan pendinginan kebakaran lahan di Jalan Senen, Kelurahan Sungai Rasau, Kecamatan Singkawang Utara.
Upaya pemadaman dan pendinginan kebakaran lahan.


PONTIANAK – Kalimantan Barat masih dikepung titik panas atau hotspot. Di saat ratusan titik panas terdeteksi, Kota Pontianak yang menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat justru tak kunjung diguyur hujan hingga Minggu (30/8) malam. Kondisi ini membuat potensi karhutla dan dampak asap masih perlu diwaspadai.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 453 hotspot terpantau di Kalimantan Barat pada Minggu. Namun, di tengah tingginya jumlah titik panas tersebut, jumlah titik api yang teridentifikasi justru mengalami penurunan.

“Di Kalimantan Barat kita lihat di sini bahwa hotspot hari ini memang bertambah lagi. Hari ini sebanyak 453 titik untuk titik panas. Dan untuk titik apinya turun menjadi 16, yang tadinya 23 titik,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers perkembangan karhutla, Minggu (30/8).

Data BNPB menunjukkan, titik api turun dari 23 menjadi 16 titik. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa sebagian titik panas belum tentu merupakan kebakaran yang telah terverifikasi.

Sementara itu, hujan yang diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan meredam potensi kebakaran belum turun di Kota Pontianak. Padahal, sebelumnya terdapat prakiraan peluang hujan pada Minggu sore.

Pantauan cuaca sepanjang Minggu menunjukkan kondisi Pontianak cenderung panas dan kering. Hingga malam, hujan belum juga mengguyur sebagian besar wilayah kota.

Kondisi ini menjadi perhatian karena hujan yang turun di Kalimantan Barat belum merata. Sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami cuaca kering yang dapat meningkatkan kerawanan kebakaran lahan, terutama di kawasan yang memiliki banyak titik panas.

Berdasarkan pemantauan BMKG Supadio pada Sabtu (29/8), jumlah hotspot yang terdeteksi di Kalbar bahkan mencapai 7.329 titik dalam pemantauan satu hari. Dari jumlah tersebut, Ketapang menjadi wilayah dengan sebaran tertinggi mencapai 3.374 titik, disusul Kubu Raya sebanyak 1.295 titik.

Tingginya angka hotspot tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla masih menjadi persoalan serius di Kalbar. Namun, angka hotspot tidak dapat serta-merta disamakan dengan jumlah kebakaran. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang dideteksi satelit dan tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah dampak terhadap kualitas udara. Sebelumnya, kondisi udara di sejumlah wilayah Kalbar sempat memburuk seiring meningkatnya aktivitas karhutla. Pontianak juga sempat mengalami kondisi udara yang berasap dengan jarak pandang yang menurun.

Karena itu, meski jumlah titik api berdasarkan data BNPB mengalami penurunan, kewaspadaan tetap diperlukan. Apalagi kondisi cuaca kering dan hujan yang belum merata dapat membuat lahan yang terbakar kembali sulit dikendalikan.

Bagi masyarakat, kondisi ini juga menjadi pengingat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Aparat dan pemerintah daerah diharapkan terus memantau kawasan rawan, terutama daerah dengan konsentrasi hotspot tinggi.

Sementara warga Pontianak masih harus menunggu hujan untuk benar-benar membasahi kota dan wilayah sekitarnya.**

Editor : Salman Busrah
kekeringan Hotspot Kemarau Hujan