Waspada ISPA Akibat Kabut Asap Karhutla, Apoteker Ingatkan Warga Tak Sembarangan Minum Obat

Siti Sulbiyah • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 11:24 WIB
Ilustrasi gejala ISPA.
Ilustrasi gejala ISPA.

PONTIANAK POST - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Kota Pontianak mulai berdampak nyata pada kesehatan masyarakat. Beberapa masyarakat mulai mengeluhkan batuk, pilek, dan iritasi tenggorokan. Situasi ini mendorong masyarakat untuk mengonsumsi obat-obatan secara mandiri.

Menanggapi fenomena tersebut, Apoteker Rumah Sakit Sultan Syarif Mohammad Alkadrie (SSMA),  Abdurrachman mengimbau masyarakat agar tidak asal memilih obat dan tetap memperhatikan petunjuk penggunaan yang tepat agar pemulihan berjalan optimal.

"Batuk pilek sendiri adalah kondisi umum yang terjadi ketika saluran pernapasan bagian atas mengalami infeksi atau iritasi. Biasanya ditandai dengan Batuk (kering atau berdahak), hidung tersumbat atau berair (pilek), bersin-bersin, kadang disertai demam ringan, sakit kepala, atau tenggorokan gatal,"ucapnya. 

Baca Juga: Petugas Masih Berjibaku Padamkan Karhutla Berlimang, Warga Kirim Logistik dan Doa Keselamatan

Pemilihan obat untuk mengatasi gejala tersebut pun beragam. Untuk batuk kering gejala ditandai dengan rasa gatal di tenggorokan tanpa produksi lendir. Obat jenis antitusif cocok dengan bekerja menekan refleks batuk di otak agar frekuensi batuk berkurang dan tenggorokan dapat beristirahat dari iritasi.

"Sedangkan untuk batuk berdahak, jika dada terasa berat dan ada penumpukan lendir kental, gunakan obat ekspektoran untuk merangsang pengeluaran dahak, atau mukolitik untuk memutus ikatan dahak agar menjadi encer dan mudah dikeluarkan," jelasnya.

Menurutnya, apabila mengalami hidung tersumbat dapat diringankan menggunakan obat dekongestan sesuai dosis yang dianjurkan tanpa penggunaan berlebihan. Dan untuk gejala batuk yang disertai bersin-bersin dan hidung berair akibat alergi dan iritasi asap dapat diringankan dengan antihistamin guna meredakan reaksi alergi.

Penggunaan antibiotik bukan solusi untuk semua batuk pilek. Satu hal yang sering disalahpahami, kebanyakan batuk pilek disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Artinya, minum antibiotik justru tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap kondisi tersebut. Justru dapat menimbulkan efek samping yang tidak perlu, bahkan memicu resistensi antibiotik, masalah yang dampaknya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kasus ISPA Kalbar Tembus 54 Ribu, Pemprov Siapkan 63 Rumah Oksigen dan Puskesmas 24 Jam

Ia menambahkan cuaca panas, udara kering, dan debu yang beterbangan adalah pemandangan yang saat ini kita rasakan. Jangan anggap batuk pilek sebagai hal biasa pada kondisi saat ini. Karena kondisi ini dapat meningkatkan resiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika diperlukan.

Perkuat daya tahan tubuh dengan mencukupi kebutuhan nutrisi, cairan, istirahat, dan pola hidup sehat. Vitamin C, D, E, dan Zinc baik dari makanan dan suplemen diperlukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menangkal radikal bebas dari partikel asap, dan mengurangi peradangan pada saluran pernafasan.

“Selain itu, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, apalagi saat tingkat polutan sangat tinggi dianjurkan gunakan masker berfiltrasi tinggi (seperti N95 atau KN95) saat beraktivitas di luar ruangan. Bila diperlukan tambahkan penyaring dan pembersih udara seperti air purifier untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah," katanya.

Baca Juga: Karhutla Sungai Pinyuh Diperkuat Lintas Sektor, Posko Diminta Segera Dibentuk untuk Antisipasi

Sementara itu, Polresta Pontianak membuka Posko Pelayanan Kesehatan sebagai bentuk respons terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya yang melanda Kota Pontianak. Posko tersebut berlokasi di Jalan Karya Baru, tepat di depan Kompleks Pondok Pelangi, Kecamatan Pontianak Selatan.

Lokasi tersebut dipilih karena sejumlah titik kebakaran masih ditemukan di wilayah Kecamatan Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara. Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto mengatakan, hingga saat ini titik panas masih terdeteksi di sejumlah wilayah Kota Pontianak, terutama di dua kecamatan tersebut.

Beberapa wilayah seperti Parit Demang dan Sepakat II masih menjadi perhatian sehingga diperlukan pemantauan dan penanganan secara bersama-sama antara pemerintah, aparat, relawan dan masyarakat.

“Karhutla bukan hanya persoalan kebakaran lahan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, penanganannya harus dilakukan bersama-sama,” ujarnya, Rabu (2/9).

Endang Tri juga menyoroti kondisi kualitas udara yang menurun akibat Karhutla. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Pontianak menunjukkan adanya peningkatan. Untuk itu, Polresta Pontianak memberikan perhatian khusus terhadap kelompok masyarakat yang rentan terdampak kabut asap, seperti balita, anak-anak, lansia, petugas pemadam Karhutla serta para relawan yang berada di lapangan.

“Polresta Pontianak siap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan sepenuh hati. Bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan maupun masker, silakan datang ke posko pelayanan kesehatan,” terangnya.

Ia mengatakan keberadaan posko ini menjadi bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat, tidak hanya dalam upaya mencegah dan menangani Karhutla, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap kesehatan warga yang terdampak.

Polresta Pontianak mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah Karhutla dengan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Kepedulian dan partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam menjaga lingkungan, kualitas udara, serta kesehatan bersama.

Sementara itu, kebakaran lahan kembali terjadi di kawasan Jalan Parit Demang, Selasa (1/9) malam. Wilayah ini kerap dilanda karhutla berulang meski telah dilakukan berbagai upaya pencegahan hingga pendinginan lahan. 

Kapolresta Pontianak menegaskan bahwa penanganan Karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi membutuhkan peran serta seluruh elemen masyarakat. Ia pun mengimbau agar warga tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

“Pencegahan jauh lebih baik daripada menunggu api membesar. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah Karhutla,” pesannya. (sti/mrd)

Editor : Rafael B. Junior
karhutla Pontianak kabut asap Pontianak ispa kesehatan masyarakat polresta pontianak