Hujan Singkat di Pontianak hingga Putussibau Membawa Lega

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 22:20 WIB
HUJAN DINANTI: Seorang warga menadahkan tangan saat hujan membasahi Kota Pontianak, Jumat (4/9) sore. Hujan singkat membawa kelegaan di tengah kabut asap, tetapi belum cukup mengakhiri ancaman karhutla.
HUJAN DINANTI: Seorang warga menadahkan tangan saat hujan membasahi Kota Pontianak, Jumat (4/9) sore. Hujan singkat membawa kelegaan di tengah kabut asap, tetapi belum cukup mengakhiri ancaman karhutla.

 

PONTIANAK POST – Hujan mengguyur Pontianak, Kubu Raya, Putussibau, dan sejumlah wilayah Kalimantan Barat, Jumat (4/9) sore. Meski hanya berlangsung sekitar satu jam, hujan membawa kelegaan bagi warga yang berminggu-minggu menghadapi cuaca kering dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di Pontianak, hujan mulai turun sekitar pukul 15.00 WIB dan mereda menjelang pukul 16.00 WIB. Warga keluar rumah, menadahkan tangan, dan mengabadikan momen yang lama dinantikan itu.

“Alhamdulillah hujan. Napas kami sudah sulit karena kabut asap,” ujar Hasanuddin (35), warga Pontianak.

Warga Berharap Hujan Bertahan

Suara air yang membasahi atap dan jalanan menarik perhatian warga. Media sosial pun dipenuhi unggahan foto dan video hujan dari berbagai lokasi.

Di tengah udara panas, debu, dan asap, hujan singkat memberi jeda bagi masyarakat. Namun, warga berharap hujan kembali turun dengan durasi lebih lama dan sebaran merata.

Hujan juga terpantau di Putussibau dan sejumlah wilayah Kubu Raya. Belum ada keterangan resmi yang memastikan hujan tersebut terjadi secara alami atau berkaitan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Delapan Ton Garam Disemai

OMC di Kalbar berlangsung sejak 28 Agustus. Hingga 4 September, sebanyak 10 penerbangan penyemaian awan telah dilakukan dengan menggunakan total 8.000 kilogram natrium klorida atau NaCl.

Operasi yang didukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu dijadwalkan berlanjut hingga 9 September. Pelaksanaannya bergantung pada keberadaan awan potensial, arah dan kecepatan angin, sebaran titik panas, serta kebutuhan pembasahan lahan.

Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Dasrul Chaniago mengatakan, OMC ditujukan untuk meningkatkan curah hujan di kawasan rawan terbakar, terutama lahan gambut.

“OMC merupakan intervensi penting untuk membantu pembasahan lahan gambut dan mendukung kerja tim pemadam di lapangan,” ujarnya.

Hujan Belum Akhiri Ancaman

Hujan selama sekitar satu jam belum cukup membasahi lahan gambut secara menyeluruh. Bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala ketika lahan mengering.

Karena itu, OMC harus disertai patroli, pemadaman darat, pembasahan gambut, pengelolaan tata air, pengawasan titik panas, dan penegakan hukum terhadap penyebab kebakaran.

KLH/BPLH masih memantau titik panas, curah hujan, kualitas udara, dan kondisi lahan untuk menentukan kebutuhan operasi selanjutnya. Hasil pemantauan setelah hujan belum dipublikasikan.

“Kewaspadaan tidak boleh menurun. Tujuan utama kita adalah mencegah kebakaran meluas, melindungi kesehatan masyarakat, dan menjaga kualitas udara,” tegas Dasrul.

OMC juga berlangsung di Kalimantan Tengah. Sejak 26 Agustus hingga 4 September, sembilan penerbangan dilakukan dengan menyemai 7.200 kilogram NaCl. Hujan terpantau turun di Kabupaten Kotawaringin Barat pada Jumat. (ars/mse)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kabut asap Pontianak OMC Kalimantan Barat hujan di Pontianak karhutla kalbar hujan buatan