OMC Kalbar 10 Sortie, 8.000 Kilogram NaCl Ditebar untuk Kendalikan Karhutla

Uray Ronald • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 22:52 WIB
Petugas OMC memuat natrium klorida (NaCl) dalam pesawat di Lanud Supadio Pontianak, untuk membantu mengendalikan karhutla, Jumat (4/9/2026). (ANTARA/Satuan Tugas OMC)
Petugas OMC memuat natrium klorida (NaCl) dalam pesawat di Lanud Supadio Pontianak, untuk membantu mengendalikan karhutla, Jumat (4/9/2026). (ANTARA/Satuan Tugas OMC)

 

PONTIANAK POST – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Barat telah menjalani 10 sortie penerbangan dengan menebar 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl) untuk membantu mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH/BPLH) Dasrul Chaniago mengatakan OMC dilaksanakan sejak 28 Agustus hingga 4 September 2026.

"OMC tersebut dilaksanakan sejak 28 Agustus hingga 4 September 2026 sebagai salah satu upaya pemerintah meningkatkan peluang hujan di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan," kata Dasrul di Pontianak, Jumat (4/9).

Menurut dia, operasi modifikasi cuaca diarahkan untuk memanfaatkan kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan, terutama di tengah ancaman kekeringan dan meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Baca Juga: Menhut Maksimalkan OMC untuk Basahi Lahan Gambut Kalbar

"Hujan kemudian terpantau turun di beberapa daerah, di antaranya Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kubu Raya, dan Kota Pontianak pada sore hari ini, yang diharapkan dapat meningkatkan kelembapan serta membantu mendinginkan area rawan kebakaran," tuturnya.

Dasrul mengatakan OMC merupakan bagian penting dalam penanganan karhutla, tetapi tidak dapat berdiri sendiri. Pengendalian kebakaran tetap membutuhkan langkah terpadu berupa patroli, pengecekan titik panas, pemadaman di lapangan, pembasahan lahan gambut, pengelolaan tata air, pelibatan masyarakat, pengawasan kegiatan usaha, hingga penegakan hukum.

“OMC bukan satu-satunya solusi. Penanganan di lapangan harus tetap berjalan bersamaan,” katanya.

Untuk Kalimantan Barat, OMC dilanjutkan dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 9 September 2026 guna meningkatkan peluang terbentuknya hujan di wilayah yang masih menghadapi ancaman karhutla.

Baca Juga: OMC Digencarkan, Tiga Chinook dan Ratusan Tentara Jepang Segera Datang

Pelaksanaan operasi terus dievaluasi berdasarkan kondisi atmosfer, perkembangan awan, curah hujan, titik panas, kualitas udara, serta kondisi kebakaran di lapangan.

Pemerintah berharap tambahan curah hujan dapat membantu menekan potensi munculnya kembali titik api sekaligus mempercepat proses pendinginan lahan yang sebelumnya terbakar.

Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena perubahan cuaca belum sepenuhnya menghilangkan ancaman karhutla, khususnya pada kawasan gambut dan lahan yang masih kering.

"Penanganan karhutla karena itu tetap diarahkan melalui kombinasi rekayasa cuaca dan penanganan langsung di lapangan agar penurunan titik panas dapat dipertahankan serta dampak asap terhadap masyarakat semakin ditekan," katanya.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
karhutla kalimantan barat Kebakaran hutan dan lahan Kalbar operasi modifikasi cuaca Kalbar OMC Kalbar 8.000 kilogram NaCl