OMC Digencarkan, Tiga Chinook dan Ratusan Tentara Jepang Segera Datang

PONTIANAK POST – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat telah menghanguskan 38.310 hektare sejak awal penanganan. Di tengah dampak yang telanjur meluas, pemerintah menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), water bombing, dan pemadaman darat untuk menekan kebakaran serta paparan asap terhadap masyarakat.
Data terbaru menunjukkan 166 hotspot terpantau di Kalbar. Setelah diverifikasi melalui patroli dan pengamatan visual, 61 titik dinyatakan sebagai kebakaran nyata atau fire spot, dengan luas kebakaran terkini 802,17 hektare.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, verifikasi lapangan diperlukan karena tidak seluruh titik panas menunjukkan kejadian kebakaran.
“Dari 166 hotspot, setelah dicek lewat patroli dan visual secara nyata di lapangan, yang benar-benar fire spot hanya 61 titik dengan luas sekitar 802,17 hektare,” katanya dalam Rapat Koordinasi Karhutla di Lanud Supadio, Pontianak, Jumat (4/9).
Penurunan Belum Berarti Aman
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, jumlah titik panas sebelumnya sempat menembus lebih dari 2.000 titik. Berdasarkan pemantauan terakhir, jumlahnya turun menjadi sekitar 100 titik.
“Tidak boleh lengah. Walaupun titik api sudah menurun, pemantauan dan pemadaman tetap dilakukan sampai kondisi benar-benar aman,” tegasnya.
Perbedaan angka sekitar 100 titik yang disampaikan gubernur dan 166 hotspot dalam data BNPB perlu dijelaskan berdasarkan waktu pemantauan dan sumber datanya. Kepastian data dibutuhkan agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi karhutla.
Penurunan titik panas juga belum otomatis mengakhiri ancaman. Pada lahan gambut, api dapat bertahan di bawah permukaan meski kobaran tidak lagi terlihat, kemudian muncul kembali saat lahan mengering dan angin menguat.
OMC Dimaksimalkan Lima Hari
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, OMC dimaksimalkan pada 4–8 September dengan memanfaatkan potensi awan hujan. Operasi itu diarahkan untuk membasahi kawasan rawan dan meningkatkan tinggi muka air tanah gambut.



