Benarkan Air Hujan Pertama di Musim Kemarau Tak Aman Diminum? Jangan Buru-buru Ditampung

Marsita Riandini • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 09:59 WIB
Ilustrasi hujan. (DOK PONTIANAK POST)
Ilustrasi hujan. (DOK PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST- Di tengah kemarau panjang, ada imbauan yang beredar luas di media sosial dan WA grup warga yang isinya "jika tiba-tiba hujan  dilarang menggunakan air hujan untuk keperluan memasak, mandi, minum dan lainnya". 

 Menanggapi ini, Nurlina, Dosen Prodi Kimia, Fakultas MIPA Untan mengatakan hujan pertama  di musim kemarau, maka peruntukannya jelas bukan untuk sumber untuk air minum.  Hal ini menjadi perhatian bagi masyarakat, khususnya di Kalimantan Barat yang biasanya menampung air hujan untuk sumber air minum.  

Meski demikian, lanjut Nurlina terkait bahaya atau tidaknya air hujan yang turun, tentunya  harus mengetahui  apa yang terkandung dalam air hujan tersebut. "Apakah ada kandungan yang harus diwaspadai, sehingga kemudian kita bisa memutuskan "bahaya" atau "tidak bahaya"," ujarnya. 

Baca Juga: Hujan Singkat di Pontianak hingga Putussibau Membawa Lega

Di Kalimantan Barat, sudah berminggu-minggu tidak hujan. Adanya aktivitas membakar lahan yang sengaja dilakukan di musim kering ini juga diperparah oleh kondisi tanpa hujan.  Saat terjadi kebakaran hutan dan lahan, yang terbakar adalah bagian tumbuhan yang kering dan lahan gambut, yang semuanya merupakan bahan organik. 

Terbakarnya gambut, lanjut Nurlina berbeda dengan terbakarnya kayu kering dengan nyala api yang sempurna. Gambut cenderung mengalami pembakaran membara pada temperatur relatif rendah dan dalam kondisi oksigen terbatas.Sebagai contoh saat membakar sate dengan arang. Setelah apinya padam, arangnya masih merah dan terus membara.  

"Kebakaran gambut kurang lebih memiliki karakter seperti itu, tidak selalu terlihat nyala api besar, tetapi material gambut terus membara secara perlahan.Karena pembakarannya tidak sempurna, proses ini menghasilkan banyak asap yang mengandung campuran partikel dan gas yang melayang-layang di udara, membentuk kabut asap/jerebu (haze)," jelasnya. 

Partikel yang dimaksud sebagian besar berupa partikel halus yang dikenal sebagai particulate matter, dengan diameter ≤2,5 mikrometer (µm) atau dikenal sebagai PM2,5. 

Baca Juga: OMC Berlanjut di Kalbar dan Kalteng, Hujan Disasar untuk Tekan Risiko Karhutla

"Analoginya, PM 2,5 ini 20–30 kali lebih kecil daripada diameter rambut manusia," sambungnya. 

Partikel dan polutan terakumulasi di atmosfer maupun pada permukaan atap, talang, dan tempat penampungan air. Ketika hujan akhirnya turun, tetesan air akan "menangkap" partikel dan gas yang terdapat di atmosfer. Ketika air mengenai atap, air tersebut kembali mencuci debu, abu, serta berbagai material yang telah menumpuk selama musim tanpa hujan. 

"Dalam ilmu lingkungan dikenal konsep first flush, yaitu aliran awal air hujan yang membawa sebagian besar kotoran yang terakumulasi pada permukaan penangkap air. Oleh karena itu, hujan pertama, kalau ditampung, airnya berwarna kehitaman dan berbau asap," ungkapnya. 

Baca Juga: BMKG Sebut Ada Peluang Hujan di Kalbar pada Awal September

Kontaminannya antara lain berupa partikel tersuspensi/debu/jelaga, ion-ion anorganik dan senyawa organik hasil pembakaran. Namun, jenis dan konsentrasinya bergantung pada sumber polusi serta kondisi atmosfer setempat.

Atap, talang, pipa dan tempat penyimpanan bisa menjadi sumber pencemaran kimia ke air hujan, karena air yang dikonsumsi masyarakat biasanya bukan air hujan yang ditangkap langsung dari udara, melainkan air hujan yang dikumpulkan setelah jatuh dan mengalir melalui permukaan atap bangunan, kemudian dialirkan melalui talang/pipa menuju tempat penampungan.

Bayangkan atap yang hampir satu bulan tidak terkena hujan. Di atasnya terkumpul debu, abu, kotoran-kotoran burung atau hewan, daun, serangga, dan mikroorganisme. Air hujan pertama akan mencuci semuanya. 

"Pada intinya kualitas air hujan yang kita tampung bukan hanya ditentukan oleh air yang turun dari langit. Kualitas udara, jenis dan kebersihan atap, kondisi talang dan pipa, serta kebersihan tangki penyimpanan semuanya menentukan kualitas akhir air hujan," ujarnya. 

Baca Juga: Karhutla di Singkawang Utara Hanguskan 32,5 Hektare Lahan Gambut, Sudah Berlangsung 14 Hari

Saat terjadi kebakaran hutan dan gambut, udara mengandung PM2.5 serta berbagai produk pembakaran berupa ion-ion anorganik dan senyawa organik. Setelah hujan, udara dapat menjadi lebih bersih, tetapi material yang sebelumnya berada di udara ada yang dipindahkan melalui deposisi ke air hujan dan permukaan bumi. Air hujan pertama bisa berwarna keabu-abuan hingga kehitaman dan berbau asap.

 Apakah hujan yang turun adalah hujan asam? Nurlina menjelaskan bahwa  pada kondisi normal, hujan itu memang bersifat asam karena adanya gas karbon dioksida di udara yang kemudian bisa bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (H2CO3). Dikatakan hujan asam jika air hujan mengandung senyawa nitrogen dan sulfur sehingga menyebabkan pH air hujan di bawah nilai 5,6. 

"Hasil pembakaran gambut mungkin bisa menghasilkan sedikit peningkatan konsnetrasi gas NO2, tapi tidak serta merta menyebabkan hujan asam," paparnya. 

Nurlina juga menanggapi aktivitas operasi modifikasi cuaca (OMC). Pada dasarnya, kata dia OMC memanfaatkan awan yang memang sudah tersedia dan memenuhi syarat agar pembentukan tetes hujan lebih efektif atau hujan turun pada lokasi/waktu yang ditargetkan. BMKG sudah sering menegaskan bahwa OMC ini bukan membuat hujan dari nol dan tanpa awan yang sesuai, OMC tidak dapat dilakukan. "Bahan yang sangat umum digunakan adalah natrium klorida (NaCl). Partikel garam membantu menyediakan inti tempat uap air berkondensasi dan tetes-tetes air berkembang. Apakah bahan ini berbahaya? Jawabannya tidak," pungkasnya. (mrd)

Editor : Hanif
Hujan Pertama air hujan karhutla kalbar kualitas air dosen untan