PONTIANAK POST – Mantan Anggota DPRD Kalimantan Barat Andreas Acui Simanjaya menilai kemarahan Gubernur Kalbar Ria Norsan saat berdialog dengan demonstran dipicu tindakan salah seorang peserta aksi. Penilaian itu disampaikan Acui setelah berulang kali mengamati rekaman video pertemuan tersebut.
Menurut Acui, Ria Norsan awalnya menemui demonstran dengan sikap ramah dan bersedia mendengarkan aspirasi mereka. Gubernur sempat berpamitan untuk melanjutkan kegiatan, tetapi kembali melayani dialog.
Acui mengatakan, insiden terjadi ketika gubernur berbalik badan untuk meninggalkan lokasi. Salah seorang demonstran kemudian menyentuh bahu Ria Norsan.
“Wajar Pak Gubernur marah dengan tindakan tidak sopan tersebut,” kata Acui.
Dialog Harus Saling Menghargai
Acui menilai penyampaian aspirasi perlu dilakukan dengan bahasa dan sikap yang santun. Pejabat yang menerima demonstran juga harus diberi kesempatan menyampaikan penjelasan.
Dia menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi anggota DPRD Kalbar. Saat itu, dia beberapa kali menemui peserta aksi yang menyampaikan aspirasi dengan kemarahan dan kata-kata tidak pantas.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat dialog sulit mencapai tujuan. Kedua pihak seharusnya saling mendengarkan dan menghargai meskipun memiliki pandangan berbeda.
“Jika pendemo ingin dihargai dan didengarkan, mereka juga harus menghargai serta mendengarkan penjelasan,” ujarnya.
Acui berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bersama. Generasi muda, kata dia, tetap dapat menyampaikan kritik secara tegas tanpa meninggalkan etika dan kesantunan. *