PONTIANAK POST— Jumlah titik panas (hotspot) tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Kalimantan Barat melonjak dari 54 titik pada 5 September menjadi 138 titik pada 6 September 2026, atau bertambah 84 titik dalam sehari.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, sebanyak 138 hotspot high confidence di Kalimantan Barat terdeteksi pada Minggu, 6 September 2026 pukul 21.25 WIB. Sehari sebelumnya, pada 5 September pukul 21.05 WIB, tercatat 54 titik.
Dengan demikian, jumlah hotspot di Kalbar meningkat sekitar 155,6 persen dalam sehari.
Kenaikan tersebut menjadi perhatian Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan untuk memperkuat patroli, groundcheck, pemadaman, dan pengendalian agar api tidak meluas.
Pada 5 September, Kementerian Kehutanan sebelumnya mencatat perkembangan positif di Kalbar setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sebagian wilayah pada 4 September. Jumlah hotspot high confidence saat itu turun dari 124 titik pada 4 September menjadi 54 titik pada 5 September atau berkurang 70 titik.
Namun, pada pemantauan berikutnya jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 138 titik. Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.
Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Baca Juga: PM2.5 Kubu Raya Tembus 525,2, Udara Masuk Kategori Berbahaya
53 Armada Udara Dukung Penanganan
Pengendalian karhutla di Kalbar dilakukan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya.
Operasi meliputi patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pemantauan lokasi untuk mencegah api kembali menyala.
"Pemerintah juga mengerahkan 53 armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, termasuk Kalimantan Barat. Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada digunakan untuk operasi water bombing," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi, Senin (7/9).
Baca Juga: Karhutla 36 Hektare di Singkawang Belum Sepenuhnya Padam, Tim Gabungan Terus Menyisir
Jarak Pandang Pontianak 2 Kilometer
Dampak asap juga masih terpantau di Kalbar. Pada malam 6 September, BMKG mencatat jarak pandang di Pontianak sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap. Sehari sebelumnya, kondisi serupa juga tercatat dengan jarak pandang sekitar 2 kilometer.
Kementerian Kehutanan bersama instansi terkait terus memantau hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, curah hujan, dan jarak pandang sebagai dasar menentukan prioritas operasi.
Masyarakat diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran juga diminta segera melapor kepada petugas.*
Editor : Uray RonaldSumber : Kemenhut