Parit Menghitam dan Bau Menyengat, Aktivitas Warga Pontianak Terganggu

Marsita Riandini • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 15:17 WIB
Warga melintas di samping Parit Tokaya yang sedang pasang. Saat kondisi surut air parit mengeluarkan bau yang mengganggu. (HARYADI/PONTIANAK POST)
Warga melintas di samping Parit Tokaya yang sedang pasang. Saat kondisi surut air parit mengeluarkan bau yang mengganggu. (HARYADI/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST - Keberadaan air parit di musim kemarau kian memprihatinkan. Air tidak mengalir,  mengendap dan menjadi sumber bau. Aromanya menyeruak naik dan  orang yang melintas harus menutup hidung. 

Dilemanya, masih ada warga Pontianak yang  menggunakan air parit sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan harian, seperti mandi, cuci, kakus.  

Astuti misalnya, warga Jalan Kom Yos Sudarso yang menggunakan air sumur galian dan air parit untuk mandi,dan mencuci.

Baca Juga: Parit Mengering Usai Karhutla, Polda Kalbar Kirim Air Minum dan Obati Warga Teluk Bakung

"Air sumur itu kan untuk dua rumah. Kadang tidak cukup. Air sumur untuk di kamar mandi, air parit untuk mencuci pakaian," ujarnya. 

Saat musim kemarau,  ia sangat kesulitan air. Sesekali ia mendapatkan air bersih dari kolam  atau air PDAM  tetangganya. Tapi ia harus mengangkutnya dengan ember. "Mau tidak mau ngangkut di kolam tetangga seember dua ember," ungkapnya. 

Biasanya ia dan tetangga lain menunggu air parit pasang untuk mencuci baju.  Setidaknya, sampai bau yang menyengat di parit hilang. "Kalau air pasang, sekalipun konda  masih bisa digunakan. Tapi kalau kering, airnya hitam dan bau," ungkapnya. 

Dari pantauan di lapangan, warna air tampak menghitam, aromanya menyeruak. Sampah- sampah muncul di permukaan. Paritnya pun menyempit akibat pelebaran jalan. Lebarnya tak sampai satu meter.  Padahal dulu, era 1990-an parit depan rumah Astuti ini cukup lebar, bahkan jadi tempat anak-anak  berenang. 

Baca Juga: Sumber Air Bawah Tanah Ditemukan di Pontianak, Terindikasi pada Kedalaman 15-30 Meter 

Saat air pasang, air parit ini masih mengalir. Warna yang tadinya hitam  berubah menjadi coklat keruh. Tapi ketika surut, air kembali ke setelan awal, dangkal, hitam dan berbau. 

Kondisi ini juga terjadi di kawasan Sungai Jawi. Ketika air di sungai itu kering, aromanya mengganggu saat melintas di wilayah itu. Bahkan aromanya masih tercium meski menggunakan masker. 

Jika dibiarkan, parit yang seharusnya berfungsi mengalirkan air justru berubah menjadi sumber polusi udara di tengah kota. Apalagi saat musim kemarau tiba. 

Baca Juga: Perbaikan Pipa Selesai, Produksi Air Tawar PDAM di Penepat Kembali Berfungsi Optimal

Deman Huri, Pegiat Lingkungan mengatakan kondisi ini terjadi karena  sindementasi yang tinggi sehingga terjadi pendangkalan parit. 

"Parit sudah tidak berfungsi sebagai tempat lalulintas air, tapi parit sudah berfungsi tempat pembuangan limbah basah dah limbah kering," jelasnya. 

Pemerintah dan warga setempat bertanggung jawab  dalam perawatan dan normalisasi parit agar bisa berfungsi sepanjang tahun. Solusi jangka panjangnya, jangan menjadikan parit menjadi tempat pembuangan limbah basah atau limbah kering. 

"Harus disesuaikan  dengan kawasan hidrologis gambut antara parit dan Sungai Kapuas atau sungai- sungai sekitar sehingga apabila terjadi kebakaran  lahan,  ada mekanisme  distribusi  air," jelasnya.

Diperlukan ketegasan pemerintah menerapkan peraturan agar kebiasaan membuang limbah ke parit tak lagi terjadi. 

"Political will pemerintah dalam menegakkan peraturan," jelasnya 

Pemerintah semestinya menyiapkan drainase khusus membuang limbah hasil aktivitas manusia dan industri.  "Harus dibedakan antara parit dan limbah,"pungkasnya. (mrd)

Editor : Hanif
Air Parit parit pontianak Kemarau kota pontianak pencemaran lingkungan