PONTIANAK POST - Kanker payudara menjadi neoplasma ganas dengan jumlah penderita terbanyak yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Kalimantan Barat. Data SIRS Online 2024 mencatat 1.545 penderita neoplasma ganas payudara, sedangkan neoplasma ganas serviks uterus mencapai 708 penderita.
Tingginya kasus tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk memperkuat pencegahan dan pengendalian kanker. Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan deteksi dini, edukasi masyarakat, hingga penguatan kemampuan tenaga kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Erna Yulianti mengatakan kanker masih menjadi salah satu penyakit dengan beban kesehatan dan pembiayaan tinggi. Penanganannya juga membutuhkan proses berkelanjutan karena termasuk kelompok penyakit katastropik.
Baca Juga: Bagaimana Kanker Bisa Terjadi? Ini Proses Mutasi Sel dan Faktor yang Dapat Meningkatkan Risikonya
“Pada umumnya, kanker dapat dicegah dan ditangani apabila ditemukan sedini mungkin. Karena itu, upaya promotif, preventif, deteksi dini, pengobatan hingga rehabilitatif perlu dilakukan secara berkesinambungan,” kata Erna.
Menurut dia, masyarakat perlu memahami faktor risiko dan gejala kanker agar tidak terlambat melakukan pemeriksaan. Penemuan kasus pada tahap awal dapat meningkatkan peluang pasien memperoleh penanganan sesuai kondisi penyakit.
Erna menegaskan pengendalian kanker tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan. Pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, lembaga pendidikan, sektor swasta, organisasi masyarakat, dan warga perlu terlibat dalam upaya tersebut.
Ia berharap kegiatan ilmiah seperti PIN POI dapat menjadi sarana memperkuat sinergi sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam pelayanan kanker di Kalbar.
Secara nasional, beban kanker juga masih tinggi. Data International Agency for Research on Cancer (IARC) 2022 mencatat Indonesia memiliki sekitar 408.661 kasus baru kanker dengan 242.988 kematian.
Pada perempuan, kanker payudara menjadi jenis kanker dengan kasus terbanyak, yakni 66.271 kasus, disusul kanker leher rahim sebanyak 36.964 kasus. Sementara pada laki-laki, kanker paru tercatat sebanyak 38.904 kasus dan kanker kolorektal 35.676 kasus.
Pemerintah telah menjalankan Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara 2023–2030 sebagai bagian dari strategi penanggulangan kedua penyakit tersebut.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bumbu Dapur, Lima Tanaman Ini Disebut Punya Potensi Pendamping Kanker
Di sisi lain, edukasi mengenai tanda-tanda gangguan kesehatan juga terus didorong. Pada momentum Bulan Peduli Nyeri setiap September, RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie (SSMA) mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan rasa nyeri.
Dokter Spesialis Saraf RSUD SSMA Achmad Faqih mengatakan nyeri merupakan sinyal tubuh yang perlu diperhatikan. Ia menyebut nyeri sebagai tanda vital kelima setelah tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu.
“Nyeri merupakan salah satu tanda vital kelima. Selain tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu, nyeri juga perlu diperhatikan,” jelas Faqih.
Ia menjelaskan nyeri dapat berasal dari peradangan maupun gangguan saraf. Nyeri saraf antara lain dapat terasa seperti terbakar, tersengat listrik, tertusuk, kesemutan, kebas, atau mati rasa.
Masyarakat disarankan berkonsultasi dengan dokter apabila nyeri tidak membaik setelah istirahat, tiba-tiba menjadi berat, menjalar, menimbulkan kebas atau mati rasa, serta mulai mengganggu aktivitas dan kualitas tidur.
Baik pada kasus kanker maupun gangguan nyeri, pemeriksaan lebih awal dinilai penting untuk menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai. (mse/mrd)
Editor : Rafael B. Junior