PONTIANAK POST — Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun tajam dalam pemantauan terbaru. Dari sebelumnya 134 titik, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) turun menjadi 39 titik pada 10 September 2026.
Penurunan sekitar 71 persen tersebut menjadi perkembangan positif di tengah upaya pemerintah mengendalikan karhutla di sejumlah wilayah rawan.
Namun, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena kondisi karhutla bersifat dinamis. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merelease siaran persnya bersama tim gabungan masih memperkuat patroli, pengecekan lapangan (groundcheck), pemadaman serta operasi udara di enam provinsi prioritas.
Baca Juga: Karhutla Jadi Sorotan, Pemkot Pontianak Pastikan Perubahan APBD 2026 Tepat Sasaran
Berdasarkan data SiPongi Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20, hingga Kamis (10/9/2026) pukul 21.05 WIB tercatat 569 hotspot high confidence secara nasional.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 395 titik.
Dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Tengah mencatat jumlah hotspot tertinggi dengan 96 titik.
Disusul Kalimantan Barat 39 titik, Sumatera Selatan 34 titik, Riau 18 titik, Kalimantan Selatan 9 titik dan Jambi 2 titik.
Hotspot Kalbar Turun Tajam
Penurunan di Kalimantan Barat menjadi salah satu perkembangan paling mencolok dalam pemantauan terbaru. Jumlah hotspot high confidence di provinsi tersebut turun dari 134 titik menjadi 39 titik.
Baca Juga: Kubu Raya Perkuat Sinergi TNI-Polri Hadapi Karhutla, Pencegahan Jadi Fokus Utama Pemerintah
Meski demikian, penurunan hotspot belum menjadi alasan untuk menghentikan operasi pengendalian. Kemenhut menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit dan tidak serta-merta berarti telah terjadi satu kejadian kebakaran.
Satu peristiwa kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui pengecekan di lapangan.
Di Kalimantan Tengah, yang kini menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas, penguatan patroli, groundcheck, pemadaman dan dukungan operasi udara terus dilakukan.
Baca Juga: Dalam Sebulan, BKSDA dan YIARI Selamatkan 15 Orangutan Terdampak Karhutla
53 Armada Udara Disiagakan
Pengendalian karhutla juga diperkuat melalui operasi udara. Pemerintah menyiagakan 53 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Sebanyak 34 armada digunakan untuk operasi water bombing. Sementara 19 armada lainnya digunakan untuk patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pengerahan armada tersebut dilakukan berdasarkan hasil pemantauan hotspot, verifikasi kondisi lapangan, perkembangan api serta faktor meteorologis.
OMC juga tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memenuhi persyaratan guna membantu pembasahan lahan dan mendukung operasi pengendalian karhutla.
Di kawasan gambut, upaya pembasahan dan pendinginan menjadi perhatian khusus. Pasalnya, bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meski kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat.
Baca Juga: Api di Lahan Gambut Padam Total Tanpa Asap! Polres Ketapang Jajal Racikan Cairan X-Fire
Di sisi lain, dampak asap masih terpantau di sejumlah wilayah. Pemantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori kualitas udara baik hingga sedang. Namun, sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, sebagian wilayah Kalimantan terpantau dalam kategori berbahaya.
Data meteorologi penerbangan BMKG pada 10 September 2026 pukul 10.00 WIB juga menunjukkan asap masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas.
Pontianak tercatat memiliki jarak pandang sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap. Sementara Palangka Raya sekitar 3 kilometer dan juga dalam kondisi berasap.
Di Jambi, jarak pandang sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap.
Sementara itu, kondisi berbeda terpantau di Pekanbaru dengan jarak pandang sekitar 6 kilometer dalam kondisi cerah berawan. Palembang memiliki jarak pandang 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.
Adapun di Banjarmasin, pengamatan pada pukul 11.00 WITA menunjukkan jarak pandang 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.
Kondisi Pontianak dan Palangka Raya masih menjadi perhatian karena jarak pandang relatif terbatas dan disertai kondisi berasap.
Meski demikian, jarak pandang dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, curah hujan serta perkembangan kebakaran di lapangan.
Pemerintah Tak Ingin Lengah
Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan berbagai pihak lainnya terus melakukan pengendalian karhutla.
Langkah yang dilakukan mencakup patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up hingga pendinginan lokasi yang masih berpotensi kembali terbakar.
Pemantauan terpadu juga terus dilakukan terhadap hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, cuaca, curah hujan, sebaran asap dan jarak pandang.
Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan wilayah yang harus mendapat prioritas penanganan berikutnya.
Di tengah penurunan signifikan hotspot di Kalimantan Barat, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api atau indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.(den)
Editor : Hanif