PONTIANAK POST — Selama dua hari berturut-turut, warga Pontianak dan Kubu Raya menghirup udara berkategori berbahaya. Kabut asap juga melumpuhkan sebagian operasional Bandara Internasional Supadio dengan membatalkan 60 penerbangan pada Sabtu–Minggu (12–13/9).
Pembatalan terdiri atas 30 penerbangan pada Sabtu dan 30 penerbangan pada Minggu. Sebanyak 31 merupakan keberangkatan dan 29 lainnya penerbangan kedatangan.
Dua penerbangan mengalami keterlambatan. Sementara itu, dua pesawat dari Jakarta terpaksa kembali ke bandara asal karena tidak dapat mendarat dengan aman di Supadio.
Jarak pandang di sekitar bandara turun hingga 300–500 meter. Asap tidak hanya menghentikan perjalanan ribuan calon penumpang, tetapi juga menjadi ancaman kesehatan bagi masyarakat yang terus menghirup partikel halus.
PM2,5 Tembus 761 Mikrogram
Kualitas udara Pontianak mencapai tingkat berbahaya pada Sabtu. Berdasarkan pemantauan IQAir pukul 12.00 WIB, indeks kualitas udara tercatat 1.368 dengan polutan utama PM2,5.
Konsentrasi PM2,5 mencapai 761 mikrogram per meter kubik. Angka itu lebih dari 50 kali lipat pedoman kualitas udara harian Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sebesar 15 mikrogram per meter kubik.
Partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparannya perlu diwaspadai, terutama oleh anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga yang memiliki asma atau penyakit jantung.
Kondisi berbahaya masih terpantau hingga Minggu malam. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker yang mampu menyaring partikel apabila harus keluar rumah.
Data IQAir tersebut merupakan pemantauan waktu tertentu, bukan rata-rata paparan harian. Namun, konsentrasi PM2,5 yang sangat tinggi tetap menunjukkan beratnya polusi udara yang dihadapi masyarakat.
Jarak Pandang Turun Enam Jam
General Manager Bandara Internasional Supadio Maya Damayanti mengatakan, jarak pandang pada Minggu turun menjadi 300–500 meter sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.
“Visibility 300–500 meter, mulai pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB,” kata Maya, Minggu (13/9).
Kondisi tersebut berada di bawah batas minimum operasional penerbangan. Hingga pukul 15.00 WIB, sebanyak 30 penerbangan dibatalkan, terdiri atas 16 keberangkatan dan 14 kedatangan.
Gangguan serupa terjadi pada Sabtu. Jarak pandang turun menjadi 300–500 meter sejak pukul 05.00 WIB dan terus berfluktuasi hingga pukul 16.00 WIB.
Sebanyak 30 penerbangan dibatalkan pada hari tersebut. Jumlahnya terdiri atas 15 keberangkatan dan 15 kedatangan.
Rute Domestik dan Internasional Batal
Pembatalan pada Minggu berdampak terhadap rute Pontianak–Jakarta, Pontianak–Ketapang, Pontianak–Semarang, dan Pontianak–Surabaya.
Penerbangan internasional Pontianak–Kuala Lumpur juga dibatalkan. Gangguan terjadi pada penerbangan yang dioperasikan Wings Air, Super Air Jet, Batik Air, Citilink, Pelita Air, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, dan AirAsia.
Dua penerbangan tertunda hingga sekitar pukul 15.00 WIB. Keduanya ialah Lion Air JT 988 rute Batam–Pontianak dan JT 715 rute Pontianak–Jakarta.
Dua Pesawat Kembali ke Jakarta
Kabut asap memaksa dua pesawat tujuan Pontianak melakukan return to base atau kembali ke bandara asal.
Kedua penerbangan itu ialah Super Air Jet IU 696 dan Batik Air ID 6228 dengan rute Jakarta–Pontianak. Pesawat telah mengudara menuju Supadio, tetapi tidak dapat mendarat karena jarak pandang berada di bawah batas aman.
Kedua penerbangan tersebut termasuk dalam 14 jadwal kedatangan yang dibatalkan pada Minggu. Karena itu, jumlahnya tidak dihitung lagi di luar total 30 pembatalan.
Maya menjelaskan, keputusan lepas landas dan pendaratan sangat bergantung pada kondisi jarak pandang. Perubahan ketebalan asap dapat membuat jarak pandang membaik atau memburuk dalam waktu singkat.
“Keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan operasional,” tegasnya.
Penumpang Menunggu Kepastian
Pembatalan membuat penumpang harus mengubah rencana perjalanan. Sebagian menunggu penerbangan pengganti, sedangkan penumpang lainnya mengurus penjadwalan ulang atau pengembalian dana tiket.
Pengelola Bandara Supadio menambah kursi di ruang tunggu dan mengerahkan personel tambahan. Masker, air mineral, dan makanan ringan juga dibagikan kepada penumpang terdampak.
Proses refund dan penjadwalan ulang dilayani melalui konter check-in dan layanan pelanggan masing-masing maskapai.
“Kami memahami ketidaknyamanan yang dialami para penumpang akibat situasi cuaca di luar kendali ini,” kata Maya.
Manajemen bandara meminta maskapai segera menyampaikan perubahan status penerbangan. Informasi yang cepat dibutuhkan agar calon penumpang tidak telanjur datang dan menunggu lama di terminal.
Calon penumpang juga diimbau memeriksa status penerbangan melalui saluran resmi maskapai sebelum menuju bandara. Pengelola Supadio terus berkoordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, dan maskapai untuk memantau jarak pandang serta kondisi cuaca.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro