PONTIANAK POST - Mantan Gubernur Kalimantan Barat sekaligus mantan Wali Kota Pontianak dua periode, Sutarmidji, menyoroti dua persoalan yang tengah dihadapi Kota Pontianak.
Adalah soal kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih akibat intrusi air laut. Dalam unggahan di akun Facebook pribadinya (13/9), ia menyampaikan suatu hal.
“Klu asap, memang 'Pendatang' di Pontianak, ntah darimana datangnya kite tak tau, klu Walikota suruh Satpol PP merazianye, tak mungkin, krn asapnya tak ade KTP jadi tak bisa ditilang,” tulisnya.
Baca Juga: Sutarmidji Ungkap 157 Perusahaan Disanksi Saat Karhutla Kalbar 2019, Denda Rp917 Miliar
Pernyataan itu muncul di tengah memburuknya kualitas udara Pontianak. Berdasarkan laporan Antara (12/9), indeks kualitas udara Kota Pontianak sempat menyentuh kategori berbahaya di angka 1.368.
Dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 761 mikrogram per meter kubik atau sekitar 51 kali di atas pedoman WHO.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono pun terus mengimbau warga disiplin memakai masker akibat kabut asap yang kian pekat.
Usul Perluasan Waduk Penepat 10 Kali Lipat
Berbeda dengan asap, Sutarmidji menilai persoalan air asin pada jaringan PDAM Kota Pontianak masih bisa diatasi.
Baca Juga: Sutarmidji Tawarkan Solusi Krisis Air Pontianak: Perluas Waduk Penepat 10 Kali Lipat
“Klu air asin msh bisa diatasi, caranya sdh pernah saya sarankan, yaitu perluasan waduk penepat 10 kali dari luas skrg. Klu yg skrg bisa utk air baku tawar 3 hari, maka klu diperluas 10x, bisa utk 1 bulan,” jelasnya.
Ia juga menyarankan "tambah pipa penyuplai ke Imam Bonjol", merujuk pada instalasi pengolahan air PDAM Kota Pontianak.
Usulan ini sejalan dengan kondisi di lapangan. Menurut Pemerintah Kota Pontianak, Waduk Penepat di Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, saat ini memiliki luas sekitar 6,6 hektare dan terhubung ke instalasi PDAM Imam Bonjol lewat pipa sepanjang sekitar 30 kilometer.
Wali Kota Edi Rusdi Kamtono sempat meninjau langsung waduk tersebut akhir Agustus lalu, di tengah laporan kadar garam di Sungai Kapuas yang telah menembus 5.000 miligram per liter, jauh di atas ambang batas air minum yang disyaratkan di bawah 300 miligram per liter.
Sindir Ketergantungan pada Pemerintah Pusat
Sutarmidji meminta Pemkot Pontianak dan PDAM tidak terlalu berharap pada dukungan anggaran Kementerian PUPR pusat.
“Pemkot dan PDAM saya yakin mampu. Jgn berharap dari PUPR Pusat, krn klu kepala daerahnya bukan dari partai yg mengendalikan mitra kementerian di DPR, sulit juga dan ini pengalaman selama 5 tahun sbg Gubernur,” mintanya kemudian.
Baca Juga: Pemerintah Pusat Kucurkan Rp 40 Miliar untuk Penanganan Karhutla, Air Bersih dan Pemulihan Warga
Klaim Keberhasilan Benahi PDAM Semasa Jadi Wali Kota
Sutarmidji turut mengklaim keberhasilannya membenahi PDAM Kota Pontianak semasa menjabat Wali Kota:
“Selama Walikota, saya benahi PDAM dari rugi jadi untung dan jadi salah satu PDAM terbaik, produksi sdh diatas 2000 liter per detik dan distribusi sdh merata,” ungkapnya.
Ia menutup unggahannya dengan menantang Wali Kota Pontianak saat ini, Edi Rusdi Kamtono.
“Ayo pak wali, tunjukan bahwa pak wali bisa, tinggalkan kenangan berupa karya yg bisa dikenang rakyat ketika kita menjabat,” pungkasnya.
Editor : Khoiril Arif Ya'qob