PONTIANAK POST - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat di Kota Pontianak. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di luar ruangan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas transportasi sungai di Sungai Kapuas.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan Pontianak membuat jarak pandang di perairan menjadi terbatas. Kondisi ini membuat para penambang speedboat yang melayani penyeberangan masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas.
Salah seorang penambang speedboat rute Bardan-Siantan, Ari mengatakan, kondisi kabut asap dalam beberapa pekan terakhir semakin parah. Dampaknya juga dirasakan dari berkurangnya jumlah penumpang.
Baca Juga: APBD Kalbar 2026 Naik Rp550,47 Miliar, Penanganan Karhutla Jadi Prioritas
“Tambah parah sih, makin tambah parah. Aktivitas otomatis mengganggu lah, sampai ke penumpang pun sama juga. Berkuranglah soalnya, orang mungkin malas untuk jalan kan kondisi kayak begini, bernafas pun agak susah kan gitu,” kata Ari.
Ari mengaku kondisi kabut asap saat ini merupakan yang terparah selama sekitar sepuluh tahun dirinya menjadi penambang speedboat. Selain berkurangnya penumpang, jarak pandang yang pendek membuat dirinya harus lebih berhati-hati saat mengemudikan speedboat di Sungai Kapuas.
Gangguan akibat kabut asap juga dirasakan warga yang beraktivitas di sekitar kawasan Waterfront Sungai Kapuas. M Salam, salah seorang warga, mengatakan asap yang semakin pekat membuat mata terasa perih. Kondisi tersebut membuat aktivitas di luar ruangan ikut terbatas. Salam yang biasanya berolahraga memilih mengurungkan niatnya karena kondisi kabut asap.
“Kalau saya lihat itu sekarang ini, asap ini makin pekat. Ini kalau kita tidak pakai kacamata, ini kayaknya perih ini, makanya saya pakai kacamata. Tadi rencana saya mau ke seberang, ini tidak berani saya ke sana,” ujarnya.
Baca Juga: Sungai Kapuas Surut, Sejumlah Pabrik Sawit di Kalbar Terpaksa Setop Olah TBS
Menurut Salam, jarak pandang di kawasan sungai saat kondisi asap pekat sangat terbatas. Bahkan, sejumlah objek yang berada tidak jauh dari lokasi sulit terlihat.
Sementara itu, berdasarkan briefing malam Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalbar pada Sabtu (12/9), kondisi asap juga berdampak terhadap visibilitas di kawasan Bandara Internasional Supadio.
Sejumlah operasi udara bahkan harus dibatalkan karena jarak pandang berada di bawah batas minimum akibat asap. Kondisi tersebut tidak hanya menjadi gangguan bagi masyarakat dan transportasi, tetapi juga menjadi kendala dalam operasi penanganan karhutla dari udara.
Kabut asap yang semakin pekat menjadi tantangan dalam aktivitas masyarakat maupun upaya penanganan karhutla. Selain mengganggu jarak pandang di jalur transportasi sungai, kondisi serupa juga berdampak terhadap aktivitas penerbangan, dan operasi udara penanganan karhutla.(bar)
Editor : Hanif