Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menjaga Semangat Belajar Murid Ketika Kabut Asap

H
Penulis: Hanif❯
Santriadi.
Santriadi.

Advertisement

Oleh: Santriadi*

BENCANA kabut asap yang menyelimuti negeri ini memaksa pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran agar pembelajaran tatap muka di sekolah dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR) atau yang sering dikenal dengan pembelajaran daring (dalam jaringan). Kebijakan ini dilakukan sebagai langkah preventif akan kesehatan para murid agar tidak terpapar kabut asap yang dapat menyebabkan penyakit, di antaranya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), termasuk sesak napas, batuk-pilek, atau bahkan pingsan.

Semangat belajar para murid ketika tatap muka di sekolah tentunya tidak sama jika pembelajaran daring atau online. Belum lagi segudang alasan murid yang tidak aktif mengikuti pembelajaran daring, di antaranya bangun kesiangan, tidak punya HP, tidak ada pulsa/kuota internet, satu HP dipakai bersamaan, HP dibawa orang tua kerja, dan lain sebagainya.

Advertisement

Ditemukan indikasi bahwa semangat belajar para murid menjadi menurun ketika diberlakukan pembelajaran daring dalam kondisi ‘darurat’ seperti kabut asap. Oleh karena itu, semangat murid dalam belajar harus tetap dijaga agar tidak mudah kendor atau bahkan hilang seketika yang pada gilirannya membuat murid jadi malas belajar dan meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar.

Kabut asap yang melanda di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat ini menimbulkan dampaknya tidak hanya terlihat dari terganggunya aktivitas sekolah, tetapi juga pada semangat belajar murid. Ketika udara tidak sehat, sekolah harus menyesuaikan pembelajaran, kegiatan luar ruangan dibatasi, bahkan pembelajaran tatap muka dialihkan menjadi pembelajaran dari rumah. Kondisi seperti ini tentu menjadi tantangan bagi guru, murid, dan orang tua untuk mempertahankan semangat belajar.

Di satu sisi, pembelajaran tidak boleh dipaksakan ketika kondisi udara membahayakan. Pemerintah daerah dan sekolah di sejumlah wilayah bahkan mengambil kebijakan pembelajaran jarak jauh sebagai langkah perlindungan terhadap peserta didik. Namun, belajar dari rumah menghadirkan tantangan lain. Murid kehilangan suasana belajar bersama teman, interaksi langsung dengan guru berkurang, dan tidak semua keluarga memiliki akses internet serta perangkat yang memadai. Sejumlah guru mengakui bahwa salah satu tantangan PJJ di tengah kabut asap adalah menjaga fokus dan motivasi siswa agar tetap belajar.

Advertisement

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga penjaga semangat belajar murid. Ketika kondisi tidak memungkinkan untuk belajar seperti biasa, guru perlu mengubah pendekatan. Tugas tidak harus banyak, tetapi harus bermakna. Materi dapat dibuat lebih sederhana, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan murid. Komunikasi juga perlu dilakukan secara teratur agar murid tetap merasa diperhatikan.

Semangat belajar tidak selalu tumbuh dari banyaknya tugas. Kadang-kadang, sebuah pesan sederhana dari guru seperti “Tetap semangat belajar dan jaga kesehatan” dapat membuat murid merasa bahwa gurunya peduli. Dalam keadaan sulit, hubungan emosional yang positif antara guru dan murid justru menjadi modal penting agar proses pendidikan tetap berjalan.

Persoalan kabut asap juga dapat dijadikan momentum pembelajaran yang kontekstual. Guru dapat mengajak murid memahami penyebab dan dampak kebakaran hutan dan lahan melalui berbagai mata pelajaran. Dalam IPA, murid dapat mempelajari pencemaran udara. Dalam IPS, mereka dapat membahas dampak sosial dan ekonomi karhutla. Dalam Pendidikan Agama Islam, murid dapat diajak memahami tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan dan merenungkan QS. Ar-Rum ayat 41.

Otto Soemarwoto dalam buku Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan (2004) menyebutkan bahwa menempatkan persoalan lingkungan dalam hubungan yang erat dengan kehidupan manusia dan pembangunan. Sejalan dengan Amos Neolaka dalam Kesadaran Lingkungan (2008) juga menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang secara khusus membahas upaya meningkatkan pengelolaan lingkungan dan membangun masyarakat yang mencintai lingkungan.

Advertisement

Artikel Terkait

Pembelajaran Daring di Masa Kabut Asap

Pembelajaran Daring di Masa Kabut Asap

Pembelajaran daring di Pontianak menjadi solusi saat kabut asap. Guru perlu menyesuaikan metode, tugas, dan pendampingan murid.

Hukum yang Terabaikan di Balik Kepulan Asap

Hukum yang Terabaikan di Balik Kepulan Asap

Perda 2/2022 menjadi landasan pengendalian karhutla Kalbar. Persoalannya dinilai bukan aturan, tetapi pengawasan dan penegakan.

Kabut Asap dan Luka Kaki Diabetik: Ancaman yang Sering Terabaikan

Kabut Asap dan Luka Kaki Diabetik: Ancaman yang Sering Terabaikan

Bagi masyarakat yang hidup dengan diabetes, terutama yang mengalami luka kaki diabetik, kabut asap perlu dipandang meningkatkan resiko.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer