STIKes Yarsi Kebanjiran Mahasiswa Baru, Naik 83 Persen

Salman Busrah • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 18:43 WIB
Mahasiswa baru STIKes YARSI mengalami peningkatan
Mahasiswa baru STIKes YARSI mengalami peningkatan

 

PONTIANAK – Kampus kesehatan di Pontianak mulai menunjukkan geliat baru. Tahun ini, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Yarsi Pontianak menerima jauh lebih banyak mahasiswa dibandingkan tahun sebelumnya.

Total mahasiswa baru yang mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) mencapai 272 orang, atau meningkat sekitar 83 persen dibandingkan penerimaan tahun sebelumnya.

Lonjakan itu terlihat hampir di seluruh program pendidikan.

Program Studi S1 Keperawatan, misalnya, meningkat dari 97 mahasiswa menjadi 152 mahasiswa. Program Profesi Ners melonjak dari 24 menjadi 83 mahasiswa, sedangkan Diploma III Keperawatan bertambah dari 24 menjadi 32 mahasiswa.

Ketua STIKes Yarsi Pontianak, Uti Rusdian Hidayat, menilai peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan yang ditawarkan Yarsi.

Salah satu faktor yang dinilai ikut mendongkrak animo tersebut adalah status akreditasi Unggul yang diraih Program Studi S1 Keperawatan dan Program Profesi Ners.

Namun, di hadapan ratusan mahasiswa baru, Ketua Pengurus Yarsi Pontianak Drs. Suhadi, M.Si., mengingatkan bahwa masuk perguruan tinggi bukan sekadar soal mengejar ijazah.

Menurut dia, mahasiswa harus mulai membangun karakter, kemandirian dan keberanian berpikir. Kampus, kata Suhadi, merupakan tempat untuk mempersiapkan anak muda agar mampu membaca persoalan di tengah masyarakat, termasuk berani mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak lazim atau tidak adil.

Tetapi keberanian mengkritik, lanjutnya, harus dibangun dengan pengetahuan dan data.

“Jangan mengkritisi suatu kebijakan kalau tidak memahami maksud dan makna dari kebijakan tersebut,” pesan Suhadi.

Ia menekankan, kritik tanpa wawasan dan data hanya akan berubah menjadi sekadar pernyataan tanpa dasar.

Kampus, menurut Suhadi, bukan tempat untuk mencetak mahasiswa yang sekadar pandai berbicara, tetapi mereka yang mampu berpikir sebelum berbicara.

Pesan lain disampaikan kepada para mahasiswa senior yang nantinya ikut membimbing mahasiswa baru.

Suhadi secara tegas mengingatkan agar tradisi penyambutan mahasiswa baru tidak diisi dengan tindakan yang merendahkan. Bullying, kekerasan maupun pelecehan tidak boleh menjadi bagian dari kehidupan kampus.

Ia meminta para senior membimbing juniornya dengan cara-cara yang positif dan mampu membentuk karakter.

“Jangan dilakukan dengan cara-cara yang tidak elegan seperti membuli mahasiswa baru,” tegasnya.

Bagi Suhadi, masa awal menjadi mahasiswa justru merupakan momentum penting untuk membentuk jati diri. Mahasiswa didorong memiliki rasa percaya diri, kemauan untuk berkembang, tidak mudah terombang-ambing informasi dan tidak gampang terbawa emosi.

Mereka juga diminta berani melakukan introspeksi: mengenali kekurangan, mengakui kelemahan sekaligus menemukan potensi yang bisa dikembangkan.

 

“Memang harus ada perubahan mindset dan culture set,” ujarnya.

PKKMB STIKes Yarsi Pontianak sendiri dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran dan doa, dilanjutkan sambutan ketua panitia, Ketua STIKes Yarsi Pontianak dan Ketua Pengurus Yarsi Pontianak.

Kegiatan yang berlangsung di lantai tiga STIKes Yarsi Pontianak itu dihadiri Prof. Dr. Radian, Humas Yarsi Pontianak Konduri, jajaran pimpinan STIKes Yarsi Pontianak, dosen, civitas akademika serta tenaga kependidikan.

Pembukaan PKKMB ditandai dengan penyematan tanda peserta kepada mahasiswa baru. Pada kesempatan yang sama juga diserahkan beasiswa bagi mahasiswa baru penghafal Alquran.**

Editor : Salman Busrah
yarsi pontianak STIKes Yarsi Pontianak Yarsi mahasiswa