PONTIANAK POST - Sejumlah mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura menggelar aksi unjuk rasa di depan Dekanat FKIP Untan, Rabu (16/9). Mereka menuntut pernyataan resmi Dekan FKIP Untan atas kabar yang beredar terkait pelecehan seksual yang diduga pelakunya adalah Dekan FKIP Untan.
Mereka berharap, ruang klarifikasi benar-benar menjadi ruang untuk menyampaikan informasi secara utuh dan transparan di tengah pemberitaan yang berkembang dan berbagai pertanyaan yang muncul di tengah mahasiswa.
Massa hadir bukan untuk membuat kegaduhan, tetapi untuk memastikan kebenaran tidak disampaikan secara sepihak, suara mahasiswa tidak diabaikan, dan setiap persoalan dijawab dengan sebenar-benarnya.
Baca Juga: Untan Perpanjang Kuliah Daring Imbas Kabut Asap, Kualitas Udara Kategori Berbahaya
Fahri Andhika, Gubernur Mahasiswa BEM FKIP Untan, menyayangkan lambannya pernyataan resmi disampaikan pihak Dekan sehingga menimbulkan bola liar dan persepsi negatif.
"Klarifikasi diberikan setelah pemberitaan muncul lebih dari dua minggu. Hal ini menimbulkan bola liar, menimbulkan kecurigaan-kecurigaan, spekulasi publik sehingga dari spekulasi itulah mencoreng nama baik FKIP Untan," ungkapnya.
Mahasiswa juga kecewa karena tidak dilibatkan saat konferensi pers. "Konferensi pers ini dilakukan dengan tujuan menghindari berbagai spekulasi, tuduhan-tuduhan fitnah. Tapi di sisi lain, civitas akademika, kelompok paling besar di kampus ini yakni mahasiswa sama sekali tidak dilibatkan. Bahkan mengundang beberapa media tertentu dan melakukan konpres di ruangan," ujarnya.
Fahri mengatakan, mahasiswa tidak ingin konferensi pers itu menimbulkan kecurigaan terhadap media yang hadir. "Kami tidak mau adanya indikasi-indikasi mengintimidasi media, menghilangkan yang tadinya berguna untuk proses investigasi. Sehingga kami nyatakan bahwasanya apabila pihak Dekan tidak bersalah harusnya berani untuk menyampaikan pernyataan resmi kepada mahasiswa," ucapnya.
Baca Juga: Dosen Untan Sulap Air Laut Jadi Air Minum: Dari Laut yang Asin, Lahir Harapan Penghapus Dahaga
Massa mendesak rektor untuk turun tangan langsung mengawal kasus hingga tuntas. Massa mengaku sudah hilang kepercayaan terhadap Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Untan saat menangani kasus deepfake berbasis Artificial Intelligence (AI).
Fahri mengatakan, pengusutan kasus harus secara tuntas, dan terbuka. Langkah tegas tersebut penting untuk memulihkan marwah kampus sebagai ruang aman dan bermartabat, serta menjadi efek jera agar tidak ada lagi kasus serupa yang terulang di lingkungan akademik.
Pihaknya akan mengawali kasus ini hingga tuntas dan menghormati proses hukum yang berlaku. Fahri mengatakan, jika hasil pemeriksaan terbukti bersalah, pihak kampus harus memberikan sanksi tegas dan terduga pelaku harus siap mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. "Kami akan mengawali kasus ini hingga tuntas. Dan akan mendalami kasus ini lebih lanjut," pungkasnya. (mrd)
Editor : Miftahul Khair