PONTIANAK POST - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menanggapi saran mantan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji yang meminta Waduk Penepat diperluas hingga 10 kali lipat sebagai solusi menghadapi persoalan air baku saat musim kemarau.
Sutarmidji sebelumnya menyebut perluasan waduk hingga 10 kali lipat diperlukan agar cadangan air baku tawar yang saat ini disebut hanya mampu bertahan sekitar tiga hari dapat diperpanjang hingga sekitar satu bulan.
Namun, Edi menilai usulan tersebut tidak sesederhana memperluas waduk sepuluh kali lipat. Menurutnya, perlu ada kajian teknis, perhitungan kebutuhan air, kondisi sumber air serta kemampuan infrastruktur sebelum sebuah gagasan diterapkan.
Baca Juga: Air PDAM Pontianak Asin Saat Kemarau, Sutarmidji Usul Waduk Penepat Diperluas 10 Kali Lipat
“Kalau mau bebaskan lahan diperlukan anggaran sangat besar, kita harap provinsi juga harus memikirkan. Karena penepat ini bukan hanya untuk Pontianak tetapi juga Kubu Raya dan sekitarnya. Ini tanggung jawab pemerintah pusat karena ini sudah lintas daerah,” ujar Edi.
Provinsi harus pikirkan persoalan ini, apalagi adanya pengurangan transfer ke daerah, Pemkot Pontianak anggarannya tidak sekuat kalau tidak dipotong.
Edi mengatakan pemerintah saat ini tidak tinggal diam menghadapi persoalan air baku. Pemkot Pontianak bersama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa telah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari optimalisasi Waduk Penepat, perbaikan infrastruktur, penambahan jaringan pipa hingga mencari sumber air alternatif.
“Yang kita lakukan bukan hanya Penepat. Kita juga melihat sumber air tawar, memperpanjang pipa. Jadi solusinya tidak satu,” katanya.
Baca Juga: Distribusi Air Bersih Gratis Bagi Warga Pontianak: Air Bersih Hadir Saat Warga Mulai Kesulitan
Menurut Edi, persoalan air baku merupakan masalah jangka panjang yang membutuhkan perencanaan lintas kewenangan. Apalagi pengelolaan sumber daya air di kawasan Sungai Kapuas melibatkan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Pemkot Pontianak sendiri mengaku berharap dukungan pemerintah pusat melalui APBN untuk memperkuat infrastruktur air baku.
“Jangan berpikir persoalan air baku ini hanya persoalan Kota Pontianak. Sungai Kapuas ini lintas daerah. Penanganannya harus bersama-sama, termasuk pemerintah pusat dan provinsi,” tegasnya.
Edi juga menekankan bahwa setiap solusi harus melihat kondisi teknis dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, memperbesar waduk memang dapat menjadi salah satu opsi, tetapi bukan berarti otomatis menjadi jawaban tunggal terhadap persoalan air asin yang terjadi ketika musim kemarau panjang.
Ia menambahkan, kondisi Waduk Penepat saat ini juga masih dalam proses optimalisasi. Infrastruktur inlet dan outlet waduk tengah dibenahi oleh Balai Wilayah Sungai Kapuas menggunakan APBN. Pemkot juga mendorong penambahan jaringan pipa untuk memperkuat pasokan air baku ke Pontianak.
“Yang penting sekarang bagaimana masyarakat mendapatkan air bersih. Kita tidak mau hanya berwacana. Kita sudah bekerja, sudah berkoordinasi dengan BWS, provinsi dan pemerintah pusat,” kata Edi.
Edi berharap persoalan air baku tidak dijadikan sekedar ruang untuk saling melempar gagasan, tetapi benar-benar menghasilkan solusi yang dapat diterapkan.
Beberapa waktu lalu, mantan Wali Kota Pontianak dua periode, sekaligus mantan Gubernur Kalbar, Sutarmidji menilai persoalan air asin masih dapat diantisipasi dengan menyiapkan cadangan air baku yang cukup. Salah satu solusi yang pernah disampaikannya adalah memperluas Waduk Penepat hingga 10 kali lipat dari luas saat ini.
Menurut Midji-sapaan karibnya, kapasitas Waduk Penepat yang ada saat ini hanya mampu menyediakan air baku tawar untuk kebutuhan sekitar tiga hari. Jika diperluas 10 kali lipat, cadangan tersebut diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan air baku hingga satu bulan.
Hal itu disampaikan Midji melalui akun media sosial (medsos) pribadinya. “Kalau asap, memang ‘pendatang’ di Pontianak, entah dari mana datangnya kita tak tahu. Kalau Wali Kota suruh Satpol PP merazianya, tak mungkin, karena asapnya tak ade KTP jadi tak bisa ditilang,” tulisnya.
Berbeda dengan asap, menurut dia, persoalan air asin masih dapat diatasi dengan langkah yang terencana. “Kalau air asin masih bisa diatasi, caranya sudah pernah saya sarankan, yaitu perluasan Waduk Penepat 10 kali dari luas sekarang,” katanya.
Ia juga menyarankan penambahan pipa penyuplai air menuju kawasan Imam Bonjol. Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak, dan PDAM memiliki kemampuan untuk melakukan langkah tersebut. “Kalau yang sekarang bisa untuk air baku tawar tiga hari, maka kalau diperluas 10 kali, bisa untuk satu bulan. Kemudian tambah pipa penyuplai ke Imam Bonjol. Pemkot, dan PDAM saya yakin mampu,” tulisnya.
Kepada Pontianak Post melalui pesan singkat, Senin (14/9), Midji juga menjelaskan bahwa persoalan air asin di Pontianak tidak semata-mata berkaitan dengan fenomena El Nino. Ia mengingatkan, intrusi air laut ke Sungai Kapuas dapat terjadi ketika kemarau berlangsung cukup lama di wilayah hulu. (iza)
Editor : Hanif