Kalbar Bagian Selatan Penuh Asap, 92 Persen Titik Panas Terkonsentrasi di Ketapang–Kayong Utara

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 00:00 WIB
UDARA PEKAT: Kabut asap menyelimuti wilayah Kabupaten Kayong Utara. Konsentrasi PM2,5 di sejumlah titik pemantauan tercatat menembus 2.000 µg/m³, sementara kualitas udara berada pada kategori berbahaya, Minggu (21/9). Kondisi ini sudah berlangsung berhari-hari. (DANANG/PONTIANAK POST)
UDARA PEKAT: Kabut asap menyelimuti wilayah Kabupaten Kayong Utara. Konsentrasi PM2,5 di sejumlah titik pemantauan tercatat menembus 2.000 µg/m³, sementara kualitas udara berada pada kategori berbahaya, Minggu (21/9). Kondisi ini sudah berlangsung berhari-hari. (DANANG/PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terkonsentrasi di wilayah selatan Kalimantan Barat. Sebanyak 333 dari 362 titik panas berkepercayaan tinggi yang terdeteksi pada Senin (21/9) berada di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Ketapang menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, mencapai 294 titik. Posisi berikutnya ditempati Kayong Utara dengan 39 titik dan Melawi 17 titik. Artinya, sekitar 92 persen titik panas di Kalbar terkonsentrasi di Ketapang dan Kayong Utara.

Di Kayong Utara, Gubernur Kalbar Ria Norsan turun langsung membantu pemadaman karhutla di kawasan Bukit Peramas. Ia bersama petugas, relawan, dan masyarakat menyusuri medan perbukitan yang terjal untuk menjangkau titik-titik api.

Sementara itu, kabut asap justru menghambat verifikasi dan operasi pemadaman dari udara. Jarak pandang di Ketapang dilaporkan kurang dari satu kilometer sehingga pergerakan satuan tugas udara belum dapat dilakukan secara optimal.

Gubernur Ikut Padamkan Api

Kebakaran di Bukit Peramas sebagian besar menghanguskan daun kering dan batang pohon yang mengering selama musim kemarau. Struktur tanah di kawasan tersebut didominasi tanah mineral sehingga pemadaman dinilai relatif lebih mudah dibandingkan kebakaran pada lahan gambut.

“Berdasarkan pantauan di lapangan, kebakaran yang terjadi di kawasan Bukit Peramas mayoritas membakar sisa daun kering dan batang pohon yang mengering akibat musim kemarau,” kata Ria Norsan.

Kendala terbesar justru berasal dari kondisi geografis. Titik api tersebar di kawasan perbukitan dengan jalur tidak rata, berbatu, dan terjal. Kondisi itu membuat petugas harus membawa peralatan pemadaman dengan berjalan kaki menuju lokasi.

“Yang membuat sedikit kesulitan adalah jalur menuju titik api yang tidak rata dan cukup terjal. Karena itu, saya mengingatkan seluruh relawan dan petugas agar tetap berhati-hati,” ujarnya.

Ria mengingatkan masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar. Dampak asap, menurut dia, paling berbahaya bagi anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

“Mari kita pikirkan keselamatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak yang sangat berisiko terdampak asap karhutla dan gangguan pernapasan,” tegasnya.

Asap Melintasi Daerah

Ria mengatakan kabut asap di Kayong Utara tidak hanya dipengaruhi kebakaran yang terjadi di wilayah setempat. Pergerakan angin regional juga dapat membawa asap dari daerah lain menuju Ketapang dan Kayong Utara.

“Pola angin dapat bergerak dari arah Kalimantan Tengah menuju wilayah Ketapang dan Kayong Utara. Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama dan koordinasi lintas daerah,” katanya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan penjelasan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar. Asap yang menyelimuti suatu wilayah tidak selalu berarti seluruh asap bersumber dari kebakaran di daerah tersebut. Arah dan kecepatan angin dapat membawa asap melintasi batas kabupaten maupun provinsi.

Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan keberadaan titik panas juga tidak dapat langsung disimpulkan sebagai titik api. Verifikasi lapangan tetap dibutuhkan untuk memastikan terjadinya kebakaran.

“Sebanyak 362 itu belum tentu titik api karena yang terdeteksi adalah titik panas. Untuk membuktikan adanya api, perlu verifikasi melalui satgas udara dan darat,” jelas Daniel.

Operasi Udara Terganggu

Proses verifikasi menghadapi kendala kabut asap. Berdasarkan informasi BMKG pada Senin, jarak pandang di sejumlah wilayah Kalbar berada pada kisaran satu hingga lima kilometer.

Kondisi lebih buruk terjadi di Ketapang, Kapuas Hulu, dan Kubu Raya dengan jarak pandang kurang dari satu kilometer. Rendahnya jarak pandang membatasi pergerakan armada udara untuk memantau maupun menjangkau lokasi kebakaran.

“Asap ini tidak berarti semua wilayah Kalbar mengalami karhutla, tetapi asap menyelimuti beberapa kota,” kata Daniel.

Operasi pemadaman dan pendinginan masih berlangsung di Kayong Utara, Ketapang, serta sejumlah lokasi di Kubu Raya. Tim darat dan udara dikerahkan dengan menyesuaikan kondisi cuaca serta jarak pandang.

Pemerintah juga melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Namun, penyemaian awan hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan konvektif yang memenuhi syarat.

“OMC sangat ditentukan oleh pertumbuhan awan konvektif. Kami tetap berharap terjadi hujan alami secara masif agar karhutla dapat dipadamkan,” ujarnya.

Prakiraan BMKG menunjukkan hujan ringan hingga sedang berpeluang terjadi di hampir seluruh wilayah Kalbar pada 21 September. Hujan diharapkan membantu pemadaman sekaligus membasahi vegetasi yang telah mengering.

Meski demikian, Kalbar masih menghadapi potensi kemudahan terjadinya karhutla hingga 27 September. Vegetasi kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar sehingga operasi pendinginan harus dilanjutkan meskipun kobaran telah dipadamkan.

Enam Titik Kritis

BPBD Kalbar menggunakan aplikasi Tanggap untuk menerima dan memantau laporan relawan di lapangan. Sepanjang September, terdapat 84 laporan mengenai temuan titik api.

Sebanyak 48 titik telah dipadamkan. Sebanyak 30 titik berstatus waspada karena berpotensi kembali terbakar, sedangkan enam titik dikategorikan kritis dan masih dalam proses pemadaman serta pendinginan. Titik kritis tersebut antara lain berada di Ketapang dan Sintang.

Data dari relawan digunakan untuk membantu memverifikasi indikasi panas yang terdeteksi satelit. Verifikasi dibutuhkan karena satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu titik panas.

Di Bukit Peramas, dukungan bagi petugas tidak hanya datang dalam bentuk pemadaman. Tim Penggerak PKK Kayong Utara bersama masyarakat mendirikan dua dapur umum secara swadaya untuk menyediakan konsumsi bagi relawan dan warga terdampak kabut asap.

Pemerintah Provinsi Kalbar memperkuat pasokan makanan, minuman, suplemen, dan kebutuhan operasional dapur umum. Bantuan juga diberikan kepada petugas gabungan dan relawan yang bertahan di lokasi kebakaran.

Kalbar Kedua Nasional

Ancaman karhutla di Kalbar juga terlihat dalam pemantauan Pantau Gambut. Organisasi tersebut mencatat 31.595 titik panas di Kalbar selama 1–14 September 2026 atau sekitar 23 persen dari total nasional.

Angka itu menempatkan Kalbar sebagai provinsi dengan titik panas terbanyak kedua setelah Kalimantan Tengah. Dari 139.378 titik panas di Indonesia pada periode tersebut, Kalimantan Tengah menyumbang 77.311 titik atau 55 persen.

Kedua provinsi di Pulau Kalimantan itu secara bersama-sama menyumbang sekitar 78 persen titik panas nasional selama periode pemantauan.

Analisis Pantau Gambut juga menemukan titik panas pada kawasan konsesi. PT Mohairson Pawan Khatulistiwa di Kalbar tercatat memiliki 3.126 titik panas, tertinggi di antara konsesi kehutanan atau Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan secara nasional pada periode 1–14 September.

Temuan titik panas di dalam konsesi tidak dengan sendirinya membuktikan penyebab kebakaran maupun pihak yang bertanggung jawab. Pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui lokasi kebakaran, luas area terbakar, serta penyebabnya.

Sementara itu, data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 98 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalbar hingga Minggu (20/9) pukul 23.59 WIB. Perbedaan angka dengan data BMKG dapat dipengaruhi waktu pemantauan, sumber satelit, dan metode pengolahan data.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menegaskan satu kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas.

“Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar,” katanya.

BPBD Kalbar mengimbau masyarakat menghentikan seluruh aktivitas pembakaran lahan selama musim kemarau. Masyarakat juga diminta melaporkan temuan api agar dapat ditangani sebelum meluas.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
asap kayong utara karhutla ketapang kualitas udara