PONTIANAK POST – Hujan mulai berpeluang turun di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, tetapi ancaman kebakaran hutan dan lahan belum berakhir. Kabupaten Ketapang masih menjadi perhatian utama setelah pemantauan pada Senin (12/10) mendeteksi 71 titik panas di wilayah tersebut. Di beberapa daerah, jarak pandang bahkan dilaporkan hanya sekitar 500 meter akibat kondisi atmosfer dan asap.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Ridwan, mengatakan jumlah titik panas itu sedikit meningkat dibandingkan sehari sebelumnya. Seluruh titik yang terpantau pada Senin berada di Ketapang.
Data SiPongi yang dipaparkan Ridwan mencatat 50 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dari satelit Terra/Aqua dan 11 titik dari SNPP. Data yang disampaikan juga mencatat tujuh titik dari NOAA.
Baca Juga: Titik Api Menurun, BPBD Sebut Kualitas Udara di Kabupaten Sanggau Mulai Membaik
Kondisi tersebut membuat satgas gabungan tetap mengandalkan operasi darat dan udara untuk menekan penyebaran api. Patroli udara dilakukan di sejumlah kabupaten, sedangkan pemadaman dipusatkan pada lokasi yang teridentifikasi masih mengalami kebakaran.
Helikopter yang berpangkalan di Ketapang menyisir wilayah utara dan selatan kabupaten tersebut serta sebagian Kayong Utara. Sementara itu, helikopter dari Pontianak melakukan patroli di Kubu Raya, Kayong Utara, Landak, Bengkayang, Sambas, Singkawang, dan Mempawah.
Operasi water bombing atau pemadaman menggunakan pengeboman air menyasar sejumlah lokasi di Ketapang, antara lain Desa Pembedilan dan Air Hitam di Kecamatan Kendawangan serta Desa Mensubang di Kecamatan Nanga Tayap. Pemadaman udara juga diarahkan ke Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
Dukungan udara diperkuat tiga helikopter milik TNI. Dua unit melakukan water bombing di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, sedangkan satu unit lainnya disiagakan untuk menunggu arahan berdasarkan hasil patroli.
Baca Juga: Polres Kubu Raya Sisir 5 Kecamatan Rawan Karhutla, Warga Diminta Waspadai Kemunculan Titik Api
Di darat, BPBD Kalbar bersama BPBD kabupaten/kota, TNI, Manggala Agni, dan unsur terkait terus melakukan pemadaman. Kawasan Teluk Bakung menjadi salah satu fokus setelah kebakaran dilaporkan masih terjadi sehari sebelumnya.
Meski demikian, operasi udara tidak dilakukan semata-mata berdasarkan keberadaan titik panas dari satelit. Pemeriksaan lapangan atau ground check tetap diperlukan untuk memastikan keberadaan api dan menentukan kebutuhan penanganan.
Dalam laporan sebelumnya pada Sabtu (10/10), Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel, menyebut pemadaman melalui water bombing disesuaikan dengan hasil pengecekan dan kemampuan satgas darat mengendalikan api.
Dampak karhutla juga terlihat dari penurunan jarak pandang. Ridwan menyebut jarak pandang di Ketapang, Sintang, dan Kapuas Hulu pada Senin sekitar 500 meter. Di Kubu Raya dan Pontianak, jarak pandang pada pukul 06.00 WIB tercatat lebih dari satu kilometer, sedangkan di Sambas berkisar dua hingga lima kilometer.
Asap berpotensi terbawa angin ke wilayah lain. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, dan memperhatikan kondisi udara.
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga sedang berpeluang terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Kalbar. Namun, belum ada potensi hujan lebat yang tercatat dalam prakiraan pada Senin tersebut. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga masih menunggu analisis atmosfer dan rekomendasi teknis BMKG.
Ridwan mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau mengolah lahan dengan cara dibakar. Kebakaran baru berisiko memperluas wilayah terdampak dan mengurangi efektivitas pemadaman yang sedang berlangsung.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak membakar. Apa yang sudah kita laksanakan jangan sampai sia-sia, dan tidak kembali kepada titik awalnya,” ujarnya.(bar)
Editor : Hanif