PONTIANAK POST - Asosiasi Pelaku Perjalanan Wisata Indonesia (ASPPERWI) Kalimantan Barat mendukung program sosialisasi pembayaran digital menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi para penambang sampan.
Ketua ASPPERWI Kalbar, Larfi Marza, menyatakan penerapan digitalisasi pembayaran inisiasi Bank Indonesia (BI) ini sangat krusial dalam menunjang sektor pariwisata daerah yang kian berkembang pesat.
"Kalimantan Barat saat ini sudah sangat ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Kehadiran QRIS ini sangat membantu, terutama bagi wisatawan asing yang tidak membawa uang tunai. Mereka bisa langsung bertransaksi menggunakan e-wallet atau aplikasi perbankan di ponsel mereka," ujar Larfi.
Baca Juga: Cegah Pungli, Retribusi Pelabuhan Seng Hie Kini Dibayar Pakai QRIS
Kata dia proses penukaran uang di money changer sering kali memakan waktu dan mengganggu jadwal kunjungan destinasi, terlebih saat membawa grup wisatawan. Dengan tersedianya barcode QRIS yang nantinya akan ditempel langsung di setiap unit sampan atau speedboat, transaksi menjadi jauh lebih simpel, cepat, dan transparan.
"Kalau membawa grup dan ada wisatawan yang harus ke money changer dulu untuk tukar uang, itu menyita waktu. Pengalaman wisata mereka jadi berkurang. Dengan QRIS, tinggal scan, ada notifikasi masuk, transaksi sukses. Ini juga menghindarkan para penambang dari risiko menerima uang palsu atau uang rusak," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa sektor pariwisata merupakan satu ekosistem yang luas. Sekitar 50 persen dari penggerak pariwisata terdiri atas pemandu wisata, UMKM, pengemudi bus/HiAce, penyedia transportasi air, hingga pekerja restoran.
Sektor transportasi air tradisional seperti sampan wisata memiliki potensi pasar yang signifikan. Berdasarkan data di lapangan, satu penambang sampan rata-rata mampu melayani 15 hingga 20 penumpang per hari dengan skema tarif yang bervariasi, baik untuk rute penyeberangan reguler maupun sewa keliling wisata.
Baca Juga: Parkir dan Sambungan Listrik Jadi Sorotan, DPRD Minta Penertiban Coffee Street Tak Hambat UMKM
Kehadiran fitur QRIS Cross-Border (QRIS antarnegara) menjadi nilai tambah utama bagi wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia yang berkunjung ke Pontianak.
"Banyak wisatawan Malaysia yang ingin merasakan sensasi naik sampan wisata. Dengan adanya QRIS Cross-Border yang sudah bekerja sama antarbank lintas negara, wisatawan bisa langsung melakukan pembayaran secara non-tunai. Kemudahan transaksi seperti inilah yang sangat dibutuhkan untuk memajukan pariwisata Kalbar," pungkas Larfi.
"Sebenarnya kalau masalah QRIS ini sangat mendukung sekali untuk kemudahan kita sebagai penambang dalam bertransaksi. Insyaallah nanti akan kita usahakan pakai," ujar Ali salah satu penambang sampan.
Baca Juga: QRIS Tap GoPay Hadirkan Pembayaran Transportasi Tanpa Kartu, Ini Cara Pakainya
Meski mendukung penuh, Ali memberikan catatan penting terkait implementasi QRIS di lapangan. Menurutnya, sosialisasi tidak boleh berhenti hanya pada penyedia jasa penambang sampan, tetapi juga harus menjangkau masyarakat pengguna jasa penyeberangan harian.
Ali menjelaskan bahwa sebagian besar penumpang harian dari Dermaga Senghie menuju Kampung Dalam merupakan warga menengah ke bawah yang terbiasa membawa uang tunai pas.
"Masyarakat yang menyeberang setiap hari ini kan masyarakat bawah, mereka banyak yang belum paham (pembayaran digital). Rata-rata mereka hanya membawa uang tunai pas Rp3.000 untuk sekali jalan," ungkap Ali.
Menurutnya, penggunaan pembayaran QRIS justru akan sangat efektif bagi para wisatawan atau turis yang menyewa sampan untuk perjalanan jarak jauh.
"Kalau untuk turis sangat mendukung sekali. Jadi seharusnya sosialisasi ini juga dilakukan kepada masyarakat luas, bukan hanya untuk kami para penambang," tambahnya.
Saat ini, tarif reguler penyeberangan harian dari Dermaga Senghie menuju Kampung Dalam dipatok sebesar Rp3.000 per orang. Namun, penambang memperkirakan akan ada penyesuaian tarif menjadi Rp5.000 seiring dengan rencana kenaikan harga BBM. Selama ini, kendala kembalian uang pecahan kecil seperti Rp2.000 selalu disiasati para penambang dengan menyiapkan uang kembalian secara mandiri.
Selain melayani rute harian warga lokal, para penambang sampan di Dermaga Senghie juga melayani rute wisata jarak jauh, salah satunya menuju Tugu Khatulistiwa.
Untuk rute wisata ke Tugu Khatulistiwa, tarif yang dikenakan adalah sebesar Rp200.000. Jika wisatawan meminta penambang untuk menunggu di lokasi sekitar setengah jam, ada tambahan biaya Rp100.000 sehingga totalnya menjadi Rp300.000.(iza)
Editor : Hanif