Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mencintai Mangrove dengan Menjaga Keindahannya

Super_Admin • Minggu, 25 Juli 2021 | 12:01 WIB
Wisata Mangrove Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya. HARYADI/PONTIANAK POST
Wisata Mangrove Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya. HARYADI/PONTIANAK POST
BESOK, 26 Juli diperingati sebagai Hari Mangrove Sedunia atau International Mangrove Day. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) secara resmi menetapkan 26 Juli 2016 sebagai International Mangrove Day dalam sebuah dokumen Proclamation of the International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem, November 2015.

Photo
Photo


Menurut situs kkp.go.id, mangrove adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat air payau dan air laut. Mangrove merupakan tanaman hasil dari kegiatan budidaya atau diambil dari alam. Tanaman mangrove tidak dilindungi/dilarang untuk memanfaatkan bagian-bagian tanaman tersebut, misalnya dimanfaatkan untuk dijadikan bahan baku kosmetik/farmasi atau bahan tambahan tekstil (Dirjen P2HP, 2015).

Photo
Photo
Wisata Mangrove Kuala, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang. KRASAN PROJECT

Hutan mangrove adalah salah satu jenis hutan yang banyak ditemukan pada kawasan muara dengan struktur tanah rawa dan/atau padat. Mangrove menjadi salah satu solusi yang sangat penting untuk mengatasi berbagai jenis masalah lingkungan terutama untuk mengatasi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh rusaknya habitat untuk hewan. Kerusakan ini tidak hanya berdampak untuk hewan tapi juga untuk manusia.

Kalimantan Barat (Kalbar) sendiri, sebagaimana dikutip dari situs mongabay.co.id, memiliki hutan mangrove seluas 177.023,738 hektare. Kawasan hutan mangrove ini tersebar di lima kabupaten, yakni Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sambas, Kabupaten Mempawah, Kabupaten Kayong Utara, dan Kabupaten Ketapang.

Photo
Photo
Wisata Mangrove Polaria, Desa Mendalok, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah. AJIE ARIEF

Keanekaragaman pada mangrove di Kalimantan Barat sangat unik dan langka. Salah satunya, tempat hidup beberapa spesies pohon langka seperti Bruguiera hainesii (Bakau Mata Buaya), Kandelia candel (Lenggadai Betina) yang merupakan endemik Kalimantan dan Sumatera. Mangrove di Kalimantan Barat juga merupakan habitat kera Belanda atau kera hidung besar alias Bekantan (Nasalis larvatus) dan Irrawaddy Dolphin (Pesut).

Dengannya, Kalimantan Barat sangat percaya diri untuk dapat menjadi World Mangrove Center atau Pusat Mangrove Dunia. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pun telah mempersiapkan langkah-langkahnya. Pembentukan World Mangrove Centre telah dilayangkan dalam bentuk Surat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 090/1072/DLHK-V/KSDAE tanggal 12 Agustus 2020 tentang Permohonan Dukungan World Mangrove Centre. Pusat Mangrove Dunia ini akan berkedudukan di Kubu Raya, sebagai daerah dengan kawasan mangrove terluas di Kalimantan Barat.

Photo
Photo
Wisata Mangrove Desa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. ASHRI ISNAINI/PONTIANAK POST

Photo
Photo
Wisata Mangrove Sukadana, Desa Sutera, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Dari total luasan mangrove di Kalbar, Kubu Raya merupakan kawasan terluas, yakni 129.604,125 hektare. Tak hanya itu, kawasan ini juga memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang langka antara lain Bakau Mata Buaya yang hanya terdapat di empat negara yaitu Singapura, Malaysia, Papua Nugini, dan Indonesia. Di hutan mangrove Kubu Raya juga terdapat 33 jenis mangrove sejati dari 40 jenis mangrove sejati yang ada di Indonesia.

Gagasan ini menyambut hal serupa yang dicetuskan Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, mengenai pengembangan World Mangrove Center di Indonesia. Indonesia merupakan negara yang mempunyai hutan mangrove yang terluas di dunia. Data nasional menyebutkan ada seluas 3,58 juta hektare pada tahun 2018. Untuk itu, Indonesia berkeinginan untuk membuat lembaga pusat mangrove dunia atau World Mangrove Center (WMC).

Photo
Photo
Wisata Mangrove Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. FAHROZI/PONTIANAK POST

Photo
Photo
Wisata Mangrove Setapuk Besar, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang. MEIKA A

Photo
Photo
Mempawah Mangrove Park, Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah. WAHYU ISMIR/PONTIANAK POST

Untuk mendukung pembentukan WMC, Pemerintah Indonesia telah melobi pemerintah Jerman untuk membantu dalam hal pendanaan. Disebutkan Arif Havas, melalui Bappenas pada November 2019 lalu, pemerintah Jerman setuju untuk membantu pembentukan World Mangrove Center dengan menyediakan dana sebesar 30 juta Euro.

Sebelumnya, pada Oktober 2020, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi RI, Luhut Binsar Panjaitan, telah menetapkan Provinsi Kalimantan Barat sebagai proyek mega magrove. Luas areal mangrove yang akan digarap seluas 80 ribu hektare. (berbagai sumber) Editor : Super_Admin
#Hari Mangrove Sedunia