PONTIANAK POST - Mendiang KH A Nuril Huda yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) pada masa khidmah 2004-2010 pernah menjelaskan bahwa menyambut bulan suci Ramadan tidak cukup hanya dengan kesiapan fisik, tetapi juga memerlukan persiapan mental dan spiritual yang matang.
Melansir NU Online, langkah pertama yang ditekankan adalah mempersiapkan jasmani dan rohani.
Hal ini dilakukan dengan membersihkan lingkungan, menjaga kebersihan tubuh, serta menata pikiran dan hati melalui memperbanyak istighfar kepada Allah SWT dan saling memaafkan dengan sesama manusia.
Menurut KH A Nuril Huda kesiapan batin menjadi fondasi utama agar ibadah Ramadan dijalani dengan khusyuk.
Baca Juga: Ramadan Sebentar Lagi, Jangan Abaikan Utang Puasa! Ini Hukum Qadha dan Fidyahnya
Kedua, Ramadan hendaknya disambut dengan rasa senang dan gembira, karena bulan ini merupakan momentum dilipatgandakannya pahala dan kebajikan.
Ketiga, setiap muslim dianjurkan meluruskan niat secara tulus ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Keikhlasan menjadi benteng utama dari gangguan setan dalam beribadah.
Keempat, puasa dijalani dengan penuh kesabaran sebagai sarana melatih fisik dan mental. Kesabaran, menurutnya, mendatangkan pahala yang tidak terbatas sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Surat Az-Zumar ayat 10, bahwa hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
Kelima, umat Islam dianjurkan menyegerakan berbuka ketika waktunya tiba dan mengakhirkan makan sahur.
Keenam, memperbanyak doa saat berbuka puasa, karena Rasulullah SAW senantiasa memanjatkan doa ketika berbuka, baik dengan doa niat puasa maupun doa setelah hilangnya rasa haus.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lapar dan Haus, Ini Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali
Ketujuh, berbuka puasa dianjurkan dengan kurma atau air putih, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Dawud.
Kedelapan, memperbanyak sedekah, karena sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan di bulan Ramadhan.
Kesembilan, memperbanyak membaca Al-Qur’an, menghayatinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an yang dibaca di bulan Ramadan, menurutnya, kelak akan memberi syafaat kepada pembacanya di hari kiamat, sebagaimana tradisi Rasulullah SAW yang setiap Ramadan didatangi Malaikat Jibril untuk mempelajari Al-Qur’an.
Kesepuluh, menjaga lisan dengan meninggalkan kata-kata kotor dan perbuatan yang tidak bermanfaat, karena hal tersebut dapat menghilangkan pahala puasa.
Kesebelas, tidak menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Justru, puasa seharusnya meningkatkan kedisiplinan, produktivitas, dan prestasi.
Kedua belas, dianjurkan melaksanakan i’tikaf di masjid, khususnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, sebagaimana kebiasaan Rasulullah SAW.
Ketiga belas, memperbanyak ibadah sunnah, termasuk shalat malam dengan melibatkan anggota keluarga agar suasana Ramadan semakin hidup dan penuh keberkahan.
Baca Juga: Mengapa Puasa Disyariatkan di Siang Hari? Ini Penjelasan Al-Qur’an dan Hadis
Keempat belas, bagi yang memiliki kemampuan, disunnahkan melaksanakan umrah di bulan Ramadan karena pahalanya setara dengan berhaji bersama Rasulullah SAW.
Terakhir, kelima belas, memperbanyak membaca tasbih, karena satu kali tasbih di bulan Ramadan nilainya lebih utama dibandingkan seribu tasbih di luar bulan Ramadan.
Dengan mengamalkan kelima belas bekal spiritual tersebut, Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi momentum perubahan diri menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia. (*)
Editor : Miftahul Khair