PONTIANAK POST - Senja perlahan turun di pelataran Masjid Nabawi pada Rabu (18/2), langit Madinah berwarna keemasan, seolah ikut menyambut datangnya waktu berbuka di hari pertama Ramadan 1447 Hijriah.
Sejak usai salat Ashar, jamaah memilih tetap bertahan.
Karpet-karpet digelar rapi, saf-saf memanjang tanpa sekat bangsa dan bahasa. Wajah tua dan muda duduk berdampingan, sebagian berzikir lirih, sebagian memejamkan mata menahan lapar yang penuh makna.
Petugas masjid lalu hilir mudik dengan senyum sabar. Paket buka puasa dibagikan satu per satu: air putih yang menyejukkan, kurma yang manis penuh sunnah, roti lembut, yoghurt, dan hidangan sederhana lainnya. Tak ada yang berebut. Semua tertib, semua bersyukur.
Keramaian terasa hidup namun khusyuk. Dari dalam masjid, halaman luas, hingga meluber ke luar pagar dan taman sekitar.
Mereka yang datang terlambat terpaksa berbuka di luar, namun wajahnya tetap bahagia, karena Ramadan tetap terasa di mana pun berada.
Lalu, saat azan Magrib berkumandang, seketika dunia seperti berhenti.
Ribuan tangan serempak meraih kurma. Ribuan bibir berdoa dalam diam. Ribuan hati bergetar dalam syukur.
Sunyi sesaat berubah menjadi harmoni keimanan, hanya terdengar suara air diteguk, roti dibuka, dan dzikir lirih yang mengalun. Inilah Ramadan di Nabawi.
Bukan sekadar berbuka, tapi perjamuan iman. Bukan sekadar kenyang, tapi ketenangan jiwa.
Di bawah langit Madinah yang teduh, manusia dari berbagai penjuru dunia duduk setara, disatukan oleh lapar yang penuh pahala, dan syukur yang tak terucap kata.
Ramadan pertama, kenangan yang akan hidup selamanya. **
Editor : Miftahul Khair