Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Psikologi Bulan Puasa

Hanif PP • Selasa, 10 Maret 2026 | 11:09 WIB

Yosi
Yosi

Oleh: Yosi*

Ramadan secara etimologis berarti terik, panas, atau terbakar. Maknanya, Ramadan diharapkan dapat membakar dosa setiap orang yang berpuasa kepada Allah Swt. Karena itu, bulan Ramadan disebut sebagai bulan ampunan (syahrul maghfirah).

Ramadan merupakan kesempatan untuk menyiapkan masa depan di akhirat dengan memperbanyak amal saleh di dunia. Oleh karena itu, kehadirannya perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar kita dapat meraih derajat takwa serta memperoleh janji Allah berupa surga.

Bulan yang mulia ini menjadi kesempatan berharga bagi kaum beriman untuk menambah pundi-pundi amalan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa mendirikan Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘Alaih).

Termasuk dalam menghidupkan bulan Ramadan adalah melaksanakan salat tarawih, yang merupakan sunnah yang dianjurkan. Karena itu, peliharalah salat tarawih bersama imam hingga selesai. Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang salat bersama imam hingga selesai, maka akan dituliskan baginya pahala salat malam.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Kedatangan Ramadan tidak lain adalah untuk mendidik dan mengajarkan makna puasa, yaitu menjadi manusia yang bertakwa. Puasa merupakan sarana terbaik untuk mendidik jiwa dan menguatkan kemauan.

Puasa juga mengembalikan seseorang pada keutamaan kesabaran serta kemampuan mengendalikan nafsu. Hal ini karena orang yang berpuasa sepanjang siang hari di bulan Ramadan harus menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, serta perbuatan yang dapat mengganggu orang lain demi menaati perintah Allah Yang Maha Bijaksana.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak-teriak. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Disebutkan pula, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak membutuhkan puasanya.”

Hal ini berarti orang yang berpuasa dituntut untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, apalagi berbuat jahat kepada orang lain yang tidak bersalah.

Ramadan juga mengajarkan sikap muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya. Seseorang yang berpuasa hendaknya merasa malu kepada Allah ketika muncul keinginan yang tidak baik. Ia harus mampu menahan keinginan tersebut karena Allah. Dengan demikian, tumbuh kesadaran bahwa dirinya selalu diawasi setiap saat. Kesadaran ini akan memudahkan seseorang mengekang nafsu untuk berbuat durhaka dan zalim. Jika kesadaran seperti ini dimiliki oleh setiap manusia, tentu kita tidak akan menyaksikan berbagai kejahatan di tengah masyarakat. Sebaliknya, yang terbangun adalah kehidupan yang tenang, rukun, dan damai.

Selain itu, Ramadan juga mendidik manusia untuk menyadari besarnya nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya. Seseorang sering kali baru menyadari nilai suatu nikmat ketika ia kehilangannya.

Orang yang sakit, misalnya, baru memahami nikmatnya kesehatan ketika ia merasakan sakit. Karena itu, sering dikatakan bahwa kesehatan adalah mahkota yang berada di kepala orang sehat, namun hanya dapat dilihat oleh orang yang sedang sakit. Demikian pula orang kaya yang baru menyadari nikmatnya kecukupan ketika ia jatuh miskin.

Ramadan mengajarkan setiap muslim untuk menyelami dan memahami makna ibadah puasa secara mendalam, sehingga melahirkan kenyamanan jiwa, ketenangan perasaan, dan kedamaian dalam kehidupan. (**)

*) Penulis adalah Pengurus PW Pergunu Kalbar Bidang Dakwah & Ibadah.

Editor : Hanif
#Bulan Ampunan #takwa #makna ramadan #Kesabaran #umat #jiwa