Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menemukan Titik Terang di Bulan Suci

Hanif PP • Selasa, 17 Maret 2026 | 10:47 WIB

H. Ruslan, S.Ag., M.A.
H. Ruslan, S.Ag., M.A.

Hari ini kita berada di tengah suasana Ramadan di Kota Pontianak. Di antara aroma takjil di tepian Kapuas dan suara tadarus yang bersahutan dari pengeras suara masjid, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: sejauh mana Al-Qur’an telah mengubah cara kita bersikap kepada sesama?

Al-Qur’an bukan sekadar deretan huruf hijaiyah yang kita kejar khatamnya demi pahala. Al-Qur’an adalah kompas kehidupan. Dalam sebuah hadis yang sangat populer, Rasulullah SAW mengingatkan, “Bacalah Al-Qur’an, karena pada hari kiamat ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804).

Syafaat ini tidak hanya kita bayangkan sebagai “tiket” di akhirat kelak. Syafaat juga bermula dari kehidupan di dunia. Ia hadir dalam bentuk ketenangan hati ketika kita menghadapi persoalan, serta menjadi penjaga akal dan sikap agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan.

Peringatan Nuzulul Qur’an yang kita rayakan setiap tahun seharusnya menjadi momentum perubahan. Kita diajak keluar dari kegelapan menuju cahaya melalui aktivitas membaca. Membaca Al-Qur’an dengan hati berarti membiarkan ayat-ayatnya membersihkan karakter kita yang mungkin selama ini keras, egois, atau mudah marah. Perubahan karakter inilah yang sesungguhnya menjadi “mukjizat” kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadan Terakhir

Setiap kali saya berdiri memberikan sambutan atau berdialog dengan jemaah, saya selalu menekankan satu hal: anggaplah Ramadan tahun ini sebagai kesempatan terakhir kita. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangun kejujuran emosional dalam diri.Kita tidak memiliki kontrak umur dengan Allah SWT. Tidak ada jaminan bahwa tahun depan kita masih dapat menghirup udara di kota ini atau kembali bersujud di masjid yang sama.

Dengan kesadaran tentang kemungkinan “perpisahan” tersebut, kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an akan berbeda. Membaca satu lembar ayat dengan penghayatan mendalam jauh lebih bermakna daripada membaca berjuz-juz sementara pikiran melayang ke mana-mana.

Mari kita menempatkan Al-Qur’an sebagai kebutuhan pokok, layaknya oksigen bagi jiwa. Jika pada awalnya terasa berat dan hanya dianggap sebagai kewajiban, perlahan kita tingkatkan menjadi kebutuhan yang membuat kita merasa “haus” jika sehari saja tidak menyentuhnya.

Fondasi inilah yang harus kita wariskan kepada anak-anak. Di tengah gempuran layar gawai, mengenalkan Al-Qur’an sejak dini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah benteng. Jika mereka mencintai Al-Qur’an, mereka akan memiliki akhlak yang kuat. Ke mana pun mereka pergi, nilai-nilai Al-Qur’an akan menjaga mereka dari perilaku yang merusak diri sendiri maupun orang lain.

Menemukan Wajah Tuhan

Ibadah puasa yang kita jalani saat ini sesungguhnya adalah madrasah atau sekolah karakter. Esensinya adalah melatih diri untuk meneladani sifat-sifat mulia Allah SWT dalam batas kemampuan manusia. Kita tentu tidak dapat menyamai Tuhan. Namun, kita diperintahkan untuk berakhlak dengan akhlak Allah melalui pemahaman terhadap Asmaul Husna.

Di sinilah korelasinya dengan moderasi beragama. Ambil contoh sifat As-Salam, yaitu Allah Maha Pemberi Keselamatan. Maka, seorang hamba yang mencintai Tuhannya harus menjadi sumber keselamatan bagi orang lain. Di kota yang heterogen seperti Pontianak, menjadi pribadi religius berarti menjadi pribadi yang mampu membuat orang di sekitarnya merasa aman.

Seseorang yang memahami Asmaul Husna tidak akan menggunakan agama untuk menyakiti atau merendahkan orang lain. Sebaliknya, ia menghadirkan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap interaksi sosialnya. Moderasi beragama bukan berarti mendangkalkan akidah. Sebaliknya, moderasi adalah upaya memperdalam pemahaman bahwa kehadiran kita harus membawa rasa nyaman dan ketenangan bagi lingkungan, apa pun latar belakang mereka. Inilah esensi beragama secara moderat.

Menghapus Keakuan

Pelajaran penting lainnya dari Ramadan adalah mengendalikan ego. Tidak jarang, semakin banyak amal ibadah yang kita lakukan, semakin besar pula rasa bangga dalam diri. Kita merasa paling benar, paling suci, atau paling berjasa atas berbagai capaian yang diraih.

Karena itu, saya mengingatkan diri saya sendiri dan kita semua bahwa kemampuan untuk sujud, bersedekah, bahkan membantu orang lain terjadi semata-mata atas izin dan kehendak Allah SWT. Tidak ada ruang bagi kesombongan.

Kesadaran bahwa kita adalah hamba yang lemah di hadapan Sang Pencipta merupakan kunci agar setiap keberhasilan yang kita raih menjadi keberkahan. Keberhasilan yang berkah ditandai dengan kemanfaatannya bagi banyak orang serta ketenangan di dalam batin. Di sisa Ramadan ini, mari kita meneladani sifat-sifat baik tersebut. Jadilah teladan di keluarga, di lingkungan kerja, dan di tengah masyarakat.

Mari kita buktikan bahwa Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup, dan Asmaul Husna menjelma menjadi pedoman perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT menerima setiap ruku’ dan sujud kita serta menjadikan kita pribadi yang lebih humanis, toleran, dan penuh kasih setelah Ramadan ini. Amin. (**)

 

*) Penulis adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak.

Editor : Hanif
#Nuzulul Quran #ramadan #Pedoman Hidup #alquran #refleksi #pontianak